Kamis, 20 Oktober 2016

AL ‘ULUW, APA ARTI ALLAH MAHA TINGGI?

AL ‘ULUW, APA ARTI ALLAH MAHA TINGGI

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Salah satu di antara nama Allah yang sangat indah adalah al ‘Aliyy. Makna yang terkandung dalam nama ini merupakan sifat-Nya, yaitu Maha Tinggi.


Sifat Maha Tinggi Allah merupakan salah satu di antara sifat sempurna-Nya yang jumlahnya tanpa batas. Namun apa yang dimaksud Allah bernama al ‘Aliyy dan bersifat Maha Tinggi?

Sebelum memaparkan jawaban dari pertanyaan di atas, sebaiknya terlebih dahulu dikemukakan dalil-dalil tentang nama Allah al ‘Aliyy dan sifat Maha Tinggi-Nya.

DALIL DARI KITABULLAH

Berikut ini adalah beberapa dalil tersebut:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [al Baqarah/2:255]

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Maka putusan (sekarang ini) hanyalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Ghafir/40 :12).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan nama Allah ‘Aliyy, ‘Azhim dan Kabir, yang maknanya Maha Tinggi, Maha Agung dan Maha Besar. Makna ini sekaligus menunjukkan sifat-Nya.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. [al A’la/87:1]

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. [an-Nahl/16:60]

Dari penggalan empat ayat di atas, dua di antaranya menunjukkan sifat Maha Tinggi Allah melalui tadhammun al ismi laha (penjelasan sifat yang terkandung dalam nama-Nya). Dan dua berikutnya melalui tashrih bish-shifah (penegasan langsung dengan sifat).

Maksudnya, sifat Maha Tinggi Allah pada penggalan dua ayat pertama dapat diketahui melalui makna yang terkandung dalam nama-Nya. Dan pada penggalan dua ayat berikutnya dapat diketahui dengan lafazh yang langsung menunjukkan sifat-Nya.

Jadi beberapa ayat di atas menjelaskan dua metode di antara tiga metode al Qur`an dan Sunnah di dalam menetapkan sifat Allah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah , ada tiga cara al Qur`an dan Sunnah di dalam memberikan pembuktian mengenai penetapan sifat Allah Azza wa Jalla, [1] yaitu:

  • Pertama, tashrih bish sfifah (penegasan langsung dengan lafazh yang menunjukkan sifat Allah). 

Misalnya, sifat al ‘Izzah (perkasa), al Quwwah (kuat), ar-Rahmah (kasih sayang), al Bath-syu (sifat menyiksa), al Wajhu (wajah), al Yadain (dua tangan) dan sifat-sifat lainnya.

  • Kedua, tadhammun al ismi laha (sifat Allah yang dikandung dalam nama-Nya). 

Contohnya, nama Allah al-Ghafur mengandung sifat Maha Pengampun, as-Sami’ mengandung sifat Maha Mendengar dan seterusnya.

  • Ketiga, tashrih bil fi’li aw al washfi dallin ‘alaihima (penegasan sifat melalui kata kerja atau kata yang menunjukkan sifat). 

Contohnya, Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Sifat bersemayam ini disebutkan dalam ayat dengan bentuk fi’il (kata kerja). Misalnya kata istawa dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Allah Yang Maha Penyayang bersemayam di atas ‘Arsy. [Thaha/20 : 5]

Contoh lainnya, sifat memberikan balasan siksa yang keras. Sifat ini tersebut dalam al Qur`an dengan bentuk kata yang menunjukkan sifat, yaitu berbentuk isim fa’il. Misalnya kata muntaqimun dalam firman Allah Ta’ala:

إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan siksa kepada orang-orang yang berdosa. [As-Sajdah/32 : 22]

Demikianlah beberapa dalil yang menunjukkan sifat Maha Tingginya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segenap makhluk-Nya.

Sesungguhnya, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah,[2] dalil tentang sifat Maha Tinggi Allah sangat banyak; dari al Qur`an, Sunnah, Ijma’, akal dan fithrah. Sementara itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al ‘Aqidah al Wasithiyah [3] mengelompokkan dalal-dalil itu secara terpisah, kelompok dalil dari al Qur`an sendiri dan kelompok dalil dari Sunnah Nabawiyah sendiri.

Adapun dalil dari al Qur`an dan Sunnah, hampir tidak bisa dibatasi. Disamping ayat yang sudah dipaparkan di atas, juga beberapa ayat berikut ini:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

Dan Dialah yang berkuasa, berada di atas sekalian hamba-hamba-Nya. [al An’am/6:18]

Kata fauqa menunjukkan, Allah Maha Tinggi berada di atas seluruh makhluk.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di atas langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang ada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. [al Mulk/67:16-17].

Kata man fis-sama` pada ayat di atas memiliki makna Allah yang di atas langit. Fis-sama`, artinya ‘alas-sama` (di atas langit), ini bila yang dimaksud dengan sama` (langit) adalah langit dalam bentuk bangunan fisik. Namun bila yang dimaksud dengan sama` adalah segala yang bersifat atas, maka fi, artinya untuk menunjukkan tempat. Maksudnya Allah Maha berada di atas.[4]

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shalih menaikkan perkataan yang baik tersebut kepada-Nya. [Fathir/35:10].

Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan menjelaskan, di dalam ayat ini terdapat penetapan sifat Maha Tingginya Allah di atas segenap makhluk-Nya, karena sebutan naik dan diangkat, menunjukkan ke arah atas.[5]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَأَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilahnya Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. [al Mu’min/40:36-37].

Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan menjelaskan, di dalam ayat ini terdapat penetapan sifat Maha Tinggi Allah di atas segenap makhlukNya, sebab Nabi Musa Alaihissallam telah mengkhabarkan kepada Fir’aun tentang itu, namun Fir’aun berupaya mendustakannya.[6] Dan masih sangat banyak dalil dari al Qur`an yang menunjukkan sifat Maha Tinggi Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Intinya, dalil-dalil dari al Qur`an memiliki beragam pembuktian. Kadang-kadang dengan sebutan ‘uluw, fauqiyah, istiwa’ ‘ala al Arsy atau sebutan fis-sama`, yang semuanya menunjukkan Allah Maha Tinggi, Maha di atas, bersemayam di atas Arsy, dan Maha di atas langit.

Atau Kadang-kadang dengan sebutan shu’ud al asy-ya`, ‘uruj al asy-ya` dan raf’uha ilaihi, yang artinya, naiknya pelbagai perkara atau makhluk kepada Allah. Misalnya firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik. –Fathir/35 ayat 10- dengan sebutan shu’ud (naik)nya perkataan-perkataan yang baik kepada Allah.

Juga firman Allah:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb. -al Ma’arij/70 ayat 4- dengan sebutan ‘uruj (naik)nya para malaikat kepada Allah.

Demikian pula firmanNya:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku. –Ali Imran/3 ayat 55- dengan sebutan raf’u (mengangkat) Isa naik kepada Allah.

Dan kadang-kadang dengan sebutan nuzul al asy-ya` minhu (turunnya pelbagai hal dari Allah) atau sebutan sejenisnya. Hal yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sebab kata turun dari sisi-Nya hanya terjadi dari atas. Misalnya firman Allah Ta’ala:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al Qur`an itu dari Rabbmu”. –an-Nahl/16 ayat 102- dengan sebutan menurunkan al Qur`an dari sisi Allah.

Demikian juga firman-Nya:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi. [as-Sajdah/32:5][7]."

DALIL DARI SUNNAH NABAWIYAH

Adapun dalil-dalil dari Sunnah Nabawiyah, jumlahnyapun sangat banyak dan mencapai tingkatan mutawatir, serta dengan pendalilan yang juga beragam.[8] Di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ .متفق عليه

Apakah kalian tidak memberikan kepercayaan kepadaku, sedangkan aku adalah orang kepercayaan Allah, Dzat yang ada di atas langit? [9]

Begitu juga hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللَّهِ إِلَّا الطَّيِّبُ فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bersodaqoh senilai satu biji korma dari hasil usaha yang baik (halal) –sedangkan tidak akan ada yang naik kepada Allah kecuali yang baik saja-, niscaya Allah akan menerimanya dengan Tangan kananNya, kemudian Allah memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kamu memelihara anak kudanya yang masih kecil. Sehingga sodaqoh tadi akan menjadi besar laksana gunung”.[10]

Juga jawaban seorang budak perempuan milik Mu’awiyah bin al Hakam as-Sulami yang dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bertanya kepada budak tersebut tentang di mana Allah. Beliau bersabda:

أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ .رواه مسلم

“Di mana Allah?” Budak wanita itu menjawab: “Di atas langit,” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Ia menjawab,”Engkau adalah Rasul Allah,” maka Beliaupun bersabda: “Merdekakan ia, karena ia seorang wanita mu’minah!” [11]

Dalam hadits ini, budak wanita milik Mu’awiyah bin al Hakam menjawab bahwa Allah ada di atas langit. Dan jawabannya dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataan beliau, bahwa ia merupakan wanita mu’minah.

Hadits yang lain ialah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa sujudnya:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى .رواه مسلم

Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.[12]

Demikian pula hadits yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabatnya pada hari Arafah, yaitu saat beliau meminta kesaksian kepada mereka; apakah beliau sudah menyampaikan risalah Allah? Lalu mereka menjawab: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah menunaikan dan telah memberikan nasihat,” maka beliau mengangkat tangannya memberikan isyarat ke arah atas, lalu tangan yang mulia itu di turunkan menunjuk ke arah para sahabatnya seraya bersabda:

اللَّهُمَّ اشْهَدْ! اللَّهُمَّ اشْهَدْ! ثلاث مرات.رواه مسلم

Ya Allah saksikanlah (mereka), saksikanlah (mereka)! Beliau mengucapkannya tiga kali.[13]

Hadits ini menegaskan bahwa Allah ada di atas segenap makhluk-Nya, karena Nabi mengangkat tangan beliau ke arah atas ketika meminta kesaksian mereka tentang risalah yang diembannya. Dan masih banyak hadits lain, yang seluruhnya menunjukkan bahwa Allah berada di atas dan Maha Tinggi.

DALIL AKAL

Akal yang sehat menunjukkan kepastian, bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan tidak mungkin Allah memiliki sifat-sifat kurang. Sifat Maha Tinggi dan Maha di atas adalah sifat sempurna, sedangkan sifat rendah dan sifat bawah adalah sifat kurang. Dengan demikian, secara akal, pasti Allah bersifat Maha Tinggi dan Dia Maha Suci dari sifat sebaliknya.

DALIL FITHRAH

Secara fithrah, tidak ada seorangpun yang berdoa kepada Allah atau meminta pertolongan kepada-Nya dari segala yang menakutkannya, kecuali pasti hatinya mengarah ke atas. Tidak mungkin ketika ia memohon kepada Allah, hatinya tertuju ke arah samping kanan atau kiri, tetapi ke atas.

DALIL IJMA’

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, sesungguhnya para ulama telah menyebutkan adanya Ijma’ (kesepakatan) para sahabat, tabi’in dan para imam Islam, bahwa Allah berada di atas seluruh langit milik-Nya, Dia bersemayam di atas Arsy. Perkataan mereka tentang ini sudah sangat masyhur.

Imam al Auza’i mengatakan: “Kami dahulu, ketika jumlah para tabi’in sangat banyak, mengatakan bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada di atas Arsy-Nya. Kami mengimani berita tentang sifat Allah apa saja yang datang di dalam Sunnah”.[14]

Imam adz-Dzahabi (673-748 H) bahkan menyusun kitab khusus tentang Sifat Maha Tingginya Allah dengan judul al ‘Uluwwu lil ‘Aliyyi al Ghaffar, yang kemudian di-mukhtashar (diringkas) oleh Syaikh al Albani rahimahullah. Isinya menegaskan semua pemaparan di atas, termasuk menyebutkan banyak sekali riwayat dari para salaf tentang itu.

Intinya, merupakan hal yang pasti, bahwa di antara nama Allah adalah al ‘Aliyy, dan di antara sifat-Nya adalah Maha Tinggi berada di atas segenap makhluk-Nya. Mengingkari sifat ini adalah kufur.

Namun Apa Arti Nama Allah; Al ‘Aliyy Dan Sifat Maha TinggiNya?

Setiap nama Allah pasti menunjukkan maknanya. Makna dari setiap nama Allah adalah sifat-Nya. Jadi nama-nama Allah bukanlah sekedar nama-nama kosong tanpa makna sebagaimana anggapan orang-orang Jahmiyah. Maka nama al ‘Aliyy adalah nama bagi Dzat Allah Azza wa Jalla , dan sekaligus merupakan pensifatan bagi-Nya. Sebab semua nama-Nya merupakan a’lam wa aushaf (nama-nama dan pensifatan bagi Dzat-Nya).[15]

Berbeda dengan manusia, maka setiap nama manusia kecuali Nabi, hanya sekedar nama belaka sebagai panggilan bagi dirinya dan tidak menunjukkan sifatnya. Dengan demikian, nama al ‘Aliyy benar-benar menunjukkan sifat Maha Tinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak dan hakiki. Dan sifat Maha Tinggi Allah meliputi:

  1. Maha Tinggi Dzat-Nya, karena Dia berada di atas semua makhluk-Nya.
  2. Maha Tinggi kedudukan-Nya, sebab hanya kepunyaan Dia saja segala sifat sempurna.
  3. Dan Maha Tinggi kekuasaan-Nya, sesab Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu.[16]

Kemudian, harus pula difahami bahwa Maha Tinggi dan Maha di atas ini tidak bertentangan dengan Maha dekatnya Allah yang senantiasa menyertai makhluk-Nya. Allah Maha dekat, tetapi Dia tetap Maha di atas Arsy. Maha di atas segenap makhluk-Nya, tetapi Dia Maha dekat.[17] Dan ini tidak sulit dimengerti oleh akal sehat.

Demikianlah, dengan memahami sifat-sifat Allah secara benar seperti yang ada di dalam al Qur`an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafush-Shalih, niscaya orang akan semakin mengagungkan Allah, semakin cinta kepada-Nya, semakin bersemangat beribadah hanya kepada-Nya dan takut akan siksaanNya. Sebab ia tahu bahwa Allah Maha Sempurna dalam segala nama dan sifat-Nya. Allah Maha Tinggi secara mutlak, dan Dia bersemayam di atas Arsy, namun Dia Maha dekat dan selalu menyertai setiap makhluk dengan pengawasan, ilmu, pendengaran, penglihatan, kekuasaan dan kadang dengan pertolongan-Nya kepada hamba yang dikasihi. WAllahu waliyyu at-Taufiq.

Maraji’:
1. Al Qowa’idul Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, karya Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Tahqiq & Takhrij: Asyraf bin Abdul Maqshud bin Abdur-Rahim, Cetakan I – 1411 H/1990 M, Maktabah as-Sunnah.
2. Fat-hul Bari Syarh Shahih al Bukhari, Tarqim wa tabwib Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. Tash-sih wa tahqiq wa isyraf wa muqobalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Jami’atul Imam Muhammad bin Saud al Islamiyah, Riyadh
3. Mukhtashor al ‘Uluw li al ‘Aliyyi al Ghoffar, Imam adz-Dzahabi, diringkas dan ditahqiq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Cetakan II (copy), Tahun 1412 H/1991 M, al Maktab al Islami,
4. Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Dar al Ma’rifah.
5. Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, Cetakan VI, Tahun 1413 H/1993 M, Maktabah al Ma’arif, Riyadh.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah , Tahqiq & Takhrij Asyraf bin Abdul Maqshud bin ‘Abdur-Rahim, Cetakan I–1411H/1990M, Maktabah as-Sunnah, hlm. 38, Kaidah Ketujuh (Qawa’id fi Shifatillah).
[2]. Al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, hlm. 66-68 dan hlm. 97-98.
[3]. Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, Cetakan VI, Th. 1413H/1993M, Maktabah al Ma’arif, Riyadh, di bawah sub judul itsbat Istiwa’i Allah ‘ala ‘Arsyihi & itsbat ‘Uluwwi Allah ‘ala Makhluqotihi pada kelompok penetapan Asma’ dan Sifat berdasarkan al Qur`anul-Karim, serta itsbat ‘Uluwwi Allah ‘ala Kholqihi wa istiwa’ihi ‘ala ‘Arsyihi pada kelompok penetapan Asma’ wa Sifat berdasarkan dalil Sunnah Nabawiyah.
[4]. Lihat keterangan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, di bawah sub judul Itsbat ‘Uluwwi Allah ‘ala Makhluqotihi, hlm. 80.
[5]. Lihat Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, hlm. 80.
[6]. Lihat Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, hlm. 80.
[7]. Lihat Al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, hlm. 66.
[8]. Lihat Al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, hlm. 66.
[9]. HR Bukhari dalam Shahihnya, Kitab al Maghazi, Bab Ba’tsu ‘Aliy bin Abi Thalib ‘alaihis-Salam wa Khalid ibni al Walid ila al Yaman qabla Hajjati al Wada’, hadits no. 4351 – Fat-hul Bari (VIII/67) –Jami’atul Imam Muhammad bin Saud al Islamiyah, Riyadh, Tarqim wa Tabwib Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. Tash-sih wa Tahqiq wa Isyraf wa Muqabalah Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz. Dan Muslim dalam Kitab az Zakah, Bab Dzikri al Khawarij wa Shifatihim – Syarh Nawawi (VII/161-162)- Tahqiq Kholil Ma’mun Syiha, Cetakan II, 1415 H/1995 M, Dar al Ma’rifah, no. hadits 2449.
[10]. HR Bukhari dalam Shahihnya, Kitab at Tauhid, no. hadits 7430 – Fat-hul Bari (XIII/415), Jami’atul Imam Muhammad bin Saud al Islamiyah, Riyadh, Tarqim wa Tabwib Muhammad Fu’ad Abdul-Baqi. Tash-sih wa Tahqiq wa Isyraf wa Muqabalah Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz.
[11]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha (V/23-26) dalam sebuah hadits panjang no. 1199, Kitab al Masajid wa Mawadhi’ ash-Shalah, Bab Tahrim al Kalam fi ash-Shalah wa Naskhu Ma Kana min Ibahatihi, Cetakan III, Tahun 1417 H/1996 M, Dar al Ma’rifah.
[12]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Kholil Ma’mun Syiha (VI/303-304) dalam sebuah hadits panjang no. 1811, Kitab Shalatul-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Tathwil al Qira’ah fi Shalati al Lail, Cetakan III, Tahun 1417 H/1996 M, Dar al Ma’rifah.
[13]. HR Muslim. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha (VIII/413) dalam sebuah hadits yang sangat panjang no. 2941, Kitab al Hajj, Bab Hajjati an-Nabiyyi Shallallohu ‘alaihi wa sallam, Cetakan II, Tahun 1415 H/1995 M, Dar al Ma’rifah.
[14]. Lihat dalil-dalil semacam ini, misalnya dalam Kitab al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, hlm. 66-67.
[15]. Lihat al Qowa’idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihil-Husna, hlm. 11 tentang qaidah kedua dari Qawa’id fi Asma’illah.
[16]. Lihat keterangan Syaikh Shalih al Fauzan ketika menerangkan nama al ‘Aliyy pada ayat Kursi dalam kitab Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, hal. 26.
[17]. Lihat Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Sholih bin Fauzan al Fauzan, di bawah sub judul Itsbat Ma’iyyati Alloh Ta’ala li Kholqihi wa annaha La Tunafi ‘Uluwwahu fauqa Arsyihi, hlm. 119.


Sumber: almanhaj.or.id

Selasa, 18 Oktober 2016

Kejayaan Islam, bagamana caranya?

Kejayaan Islam, bagamana caranya?


Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ,

Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini?


“ Wah, hari-hari gini masih bicara masalah Tauhid orang kan udah gak percaya lagi sama yang namanya dukun, klenik, tukang sihir, itu sih kepercayaan orang-orang tempoe doeloe.”

“ Jangan ketinggalan zaman, negara kuat itu dengan teknologi, lihat itu negara-negara maju! Janganlah banyak membicarakan tentang keyakinan, kepercayaan itu urusan pribadi.”

“Kalau perekonomian kuat, pasti negara kuat, negara kita itu ketinggalan jauh, jadi pengekor, karena memang negara ini negara miskin Intinya itu di duit.”

“Wahai umat Islam! Bangkitlah! Jangan mau jadi umat bawahan! Mari rebut tampuk kekuasaan! Ajari para pemuda bagaimana berpolitik agar mereka memiliki kesadaran politik yang tinggi!”

Tanggapan


  • Jika maksud ucapan yang pertama adalah bahwa seluruh umat Islam telah bertauhid dengan sempurna, pelanggaran tauhid sangatlah minim, oleh karena itu tinggalkan berbicara tentang tauhid, maka ini adalah pandangan yang menyelisihi kenyataan umat sekarang, bahkan menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam membina umat!
  • Jika maksud ucapan yang kedua adalah bahwa teknologi itu asas kemajuan umat Islam, maka ini tidak benar, pandangan ini menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi alaihimush shalatu was salam dalam meraih kejayaan umat. Walaupun memang tidak diragukan lagi teknologi itu penting, namun bukan perkara yang asasi (pokok kejayaan umat Islam).
  • Jika maksud ucapan yang ketiga adalah ekonomi adalah yang pertama dan utama dalam meraih kejayaan umat, maka inipun keliru dalam memandang hakikat kejayaan umat.
  • Jika maksud ucapan yang keempat adalah khilafah islamiyyah adalah tujuan dan perkara yang terpenting, maka hal ini sudah dijelaskan kesalahannya dalam artikel. Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah?

Hakikat kejayaan dengan ilmu Syar’i


Jika Anda memperhatikan ajaran Islam ini dengan baik, maka Anda akan dapatkan bahwa hakikat kejayaan umat Islam ini diraih dengan ilmu syar’i (yang diamalkan tentunya).

Oleh karena itu, di antara prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang terpenting adalah “Meraih kemuliaan dengan ilmu syar’i”. Prinsip inilah yang harus diperhatikan oleh para aktivis dakwah Islam, tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin negara, bahkan oleh seluruh kaum muslimin.

Betapa banyak kaum muslimin terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam yang menyerang kaum muslimin dari berbagai arah. Setiap kali musuh-musuh Islam berbuat makar dalam bidang tertentu, maka perhatian sebagian aktivis dakwah tertuju kepada melawan serangan tersebut dengan gerakan tandingan yang lebih kuat lagi atau minimalnya yang sebanding, tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at.

  • Ketika mereka menyusun makar dalam bidang ekonomi, dengan mensosialisasikan sistem ekonomi yang bertentangan dengan syari’at, maka sebagian da’i menandinginya dengan move-move ekonomi Syari’ah. 
  • Ketika mereka menyerang kaum muslimin dengan serangan teknologi, maka sebagaian kaum muslimin disibukkan menandinginya dengan teknologi yang semisalnya atau lebih tinggi. 
  • Ketika mereka nampak menguasai jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, maka tampillah partai-partai Islam mengerahkan segala daya upaya untuk merebut jabatan-jabatan ‘strategis’ tersebut!

Memang benar, semua usaha melawan serangan-serangan makar musuh-musuh Islam dalam berbagai bidang asal dilakukan sesuai dengan rambu-rambu Islam, bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan, tidak pula mengurangi, maka itu adalah suatu usaha yang wajib kita syukuri.

Permasalahannya


Ketika semua langkah-langkah dakwah tersebut di atas kurang diperhatikan, manhaj dakwah yang benar tidak diketahui, skala prioritas dakwah tak dipedulikan, serta kaidah pertimbangan maslahat dan mudharat dengan bimbingan ulama salafush shalih tidak digunakan -hakikatnya semua itu bersumber dari sangat kurangnya ilmu tentang mengenal Allah dan agama-Nya- maka ia akan terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam. Seolah dia berperang menghadapi musuh tanpa strategi yang tepat, bahkan justru termakan strategi musuh. Hal ini seperti mengobati penyakit tanpa mengetahui mana penyakit yang paling ganas dan mana penyakit yang ringan, serta tidak tahu bagaimana penganganan yang tepat.

Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar berkata,
“Prinsip (Ahlus Sunnah) keempat: Meraih kemuliaan dengan ilmu (agama Islam) Bab ini termasuk salah satu prinsip yang terpenting dari enam prinsip Ahlul Atsar karena tujuannya adalah menjelaskan pokok amal yang selayaknya mendasari seluruh langkah karena walaupun sebuah jama’ah (dakwah) mendapatkan aksi makar musuh yang menakutkan, yang mana kekuatan kekufuran dan kesesatan berusaha keras untuk melancarkan aksi tersebut, kemudian jama’ah dakwah tersebut memandang bahwa kejayaan umat akan kembali kepada mereka dengan sekedar menghadapi aksi musuh dengan aksi yang lebih kuat darinya, sehingga mereka mengerahkan seluruh sarana yang dimilikinya untuk menandingi musuh-musuh Islam, namun, di sisi lain ternyata, mereka teledor dalam memperhatikan ilmu syar’i dengan keteledoran yang mencolok. Padahal hakikat yang sesungguhnya bahwa walaupun mereka (jama’ah dakwah) telah menyusun gerakan dengan rapi, telah membaguskan strategi dan mengintensifkan aksi serta telah berusaha menjaga (umat) dari makar musuh, maka tetap saja tidak akan ditulis bagi mereka kemuliaan dan ketinggian derajat, sampai mendasari amal mereka di atas ilmu syar’i dan mengenal (dengan baik) kedudukan ilmu syar’i dan ahlinya (ulama), Allah Ta’ala berfirman ,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).


Nasihat Seorang Ulama Rabbani


Seorang mufti besar dunia, Syaikh Bin Baz rahimahullah, ketika berbicara tentang sebab kelemahan dan kemunduran kaum muslimin menjelaskan tentang pentingnya mendiagnosa akar masalah dengan tepat dan memberikan solusi yang sesuai dengannya, beliau berkata:

ﻓﺈﻥ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﺛﻢ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

“Sesungguhnya penyebutan penyakit dan obatnya (dengan tepat), hal itu merupakan sebab kesembuhan dan kesehatan yang terbesar”
Beliau juga mengatakan,

ﻭﺗﺮﺟﻊ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻭﺗﺴﻠﻴﻂ ﺍﻷﻋﺪﺍﺀ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﺐ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻭﻋﺎﻣﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﻋﻮﺍﻣﻞ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻭﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻫﻮ : ﺍﻟﺠﻬﻞ؛ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﻌﻮﺍﻗﺐ ﺍﻟﺘﻲ ﺍﺳﺘﻮﻟﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﺔ، ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﻠﻴﻼً ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ ﻏﺎﻟﺒﺎ

“Dan sebab-sebab kelemahan dan kemunduran serta berkuasanya musuh (atas kaum muslimin) sebenarnya kembali kepada satu sebab (saja), yang darinya lahirlah sebab-sebab yang banyak, berawal dari satu faktor pengaruh, lalu melahirkan faktor-faktor pengaruh lainnya yang banyak. Adapun sebab dan faktor pengaruh yang satu itu adalah kebodohan, yaitu tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik! Dan akibat buruknya menimpa mayoritas (manusia), maka (ketika itu) ilmu (agama Islam) menjadi sedikit dan kebodohan mendominasi”

ﻭﻋﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻧﺸﺄﺕ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻭﻋﻮﺍﻣﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺣﺐ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻛﺮﺍﻫﻴﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﺪﻡ ﺍﻹﻋﺪﺍﺩ ﻟﻠﻌﺪﻭ

“Kebodohan (terhadap Allah dan agama-Nya) inilah, terlahir berbagai sebab dan faktor pengaruh yang buruk berupa cinta dunia (yang berlebihan), membenci kematian, menelantarkan shalat dan mengikuti syahwat, tidak mempersiapkan diri menghadapi musuh”
Sampai perkataan beliau,

ﻭﻧﺸﺄ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺘﻔﺮﻕ ﻭﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻭﻋﺪﻡ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻻﺗﺤﺎﺩ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ . ﻓﻌﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺨﻄﻴﺮﺓ ﻭﺛﻤﺮﺍﺗﻬﺎ ﻭﻣﻮﺟﺒﺎﺗﻬﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

“Dan juga demikian, terlahirlah dari satu sebab itu (kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, pent.) perpecahan dan perselisihan, tidak merapatkan barisan, tak bersatu dan tak pula saling tolong-menolong. Dari sebab-sebab yang bahaya inilah, berikut buah pahit dan konsekuensinya, maka terjadilah apa yang terjadi berupa kelemahan dan kemunduran di hadapan musuh Islam dalam seluruh bidang kecuali bidang yang Allah kehendaki (tidak mengalami kelemahan dan kemunduran)”

Selanjutnya Syaikh Bin Baz rahimahullah menyebutkan dalil-dalil tentang kesimpulannya bahwa akar masalah kelemahan dan kemunduran umat Islam ini adalah kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, beliau berkata:

ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻫﻮ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﺤﻘﺎﺋﻖ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﻭﺍﻷﺧﺬ ﺑﻬﺎ – ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ : )) ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ (( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻊ ﺁﻳﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﻠﻬﺎ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﺒﺚ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺧﺒﺚ ﻋﻮﺍﻗﺒﻪ ﻭﻧﻬﺎﻳﺘﻪ

“Dan (dalil) yang menunjukkan bahwa sebab terbesar kelemahan dan kemunduran umat Islam adalah tidak mengenal Allah dan agama-Nya serta hakekat yang wajib dipegang dan diambil, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih”

( ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ )

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama ini kepadanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) , dan juga beberapa Ayat dan hadits yang menunjukkan kepada makna ini, semua dalil tersebut menunjukkan buruknya kebodohan dan keburukan akibat serta kesudahannya.

Jadi, dari beberapa penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas , dapat kita pahami sebab yang terpenting dan asas perbaikan masyarakat adalah mengenal Allah dan agama-Nya, bukan asal melawan makar musuh dengan tindakan dan perlawanan yang sepadan! karena apalah gunanya hal itu semua dilakukan jika diiringi menelantarkan sesuatu yang terbesar dalam Islam? Yaitu, menelantarkan ma’rifatullah (mengenal Allah), sehingga tidak mengenal hak-hak-Nya dan tidak mentauhidkan-Nya dengan baik. Oleh karena itu Syaikh Bin Baz rahimahullah juga mengatakan,

ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : } ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ { ﺇﻟﺦ، ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻭﺃﻋﺪﻭﺍ ﻟﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﻗﻮﺗﻬﻢ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻻ ﻳﺴﺘﻄﺎﻉ.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ )

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfaal:60) dan seterusnya. (Dalam Ayat ini) Allah tidak berfirman, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang sepadan dengan kekuatan mereka’ karena seperti itu terkadang sesuatu yang tidak mampu dilakukan.

Asalkan kaum muslimin benar dalam membangun keimanannya dan dalam memperbaiki diri mereka, dimulai dengan memperhatikan perkara yang terpenting kemudian sesudahnya dan sesudahnya, maka walaupun kekuatan fisik mereka tidak sepadan dengan kekuatan fisik musuh-musuh Islam, tetaplah Allah akan menolong mereka, karena kekuatan yang terpokok yaitu kekuatan iman (tauhid) mereka kokoh, ikhlas hatinya dan langkah mereka dalam memperbaiki diri benar (baca: dakwah mereka sesuai dengan As-Sunnah). Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian”
(Muhammad:7).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di
rahimahullah menafsirkan Ayat di atas,

ﻫﺬﺍ ﺃﻣﺮ ﻣﻨﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺪﻳﻨﻪ، ﻭﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺟﻬﺎﺩ ﺃﻋﺪﺍﺋﻪ، ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ، ﻧﺼﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺛﺒﺖ ﺃﻗﺪﺍﻣﻬﻢ

“Ini adalah perintah dai Allah Ta’ala kepada kaum mukminin agar menolong agama Allah dengan melaksanakan agama-Nya sebaik-baiknya, mengajak manusia kepada-Nya (berdakwah), berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mendasari semua itu dengan niat ikhlas mengharap bisa melihat wajah-Nya (saat berjumpa dengan-Nya, pent.). Jika mereka melakukan hal itu, niscaya Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.”

Demikian pula, dari penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa bukanlah yang terpenting dalam menyelesaikan problematika umat adalah asal mengobati penyakit umat setiap kali ditemukan penyakit tersebut tanpa memilih mana yang perlu diobati terlebih dahulu dan mana yang butuh untuk mendapatkan perhatian terbesar sebelum yang lainnya.

Yang benar adalah perkara yang terpenting dan mendasar dalam dakwah kita adalah apakah tindakan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam -khususnya orang yang paling mulia di antara mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Atau dengan kata lain, apakah manhaj (metodologi) dakwah kita sama dengan manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam?

Jika memang sama, maka tentunya akan menemukan akar masalah terbesar yang sama dalam menyelesaikan problematika umat di zaman ini, yaitu kebodohan, tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, hal itu berarti bahwa hakikat kejayaan dan kemuliaan umat Islam ini ada pada ilmu agama Islam, sebuah ilmu yang menjadi penuntun setiap langkah umat.

Allah akan menjadikan jaya dan mulia sebuah umat dan mengangkat derajat mereka jika mereka berilmu sehingga benar amal mereka, Allah berfirman,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).

Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

ﻧَﺮْﻓَﻊُ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﻣَﻦْ ﻧَﺸَﺎﺀُ

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki” (Yusuf:76), beliau berkata

ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ

(Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) dengan sebab ilmu (agama Allah)”

Guru beliau pun, ‘Allamah Zaid bin Aslam rahimahullah menafsirkannya,

ﺇﻧﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ

“Sesungguhnya (penyebab ditinggikannya derajat seseorang) adalah ilmu (agama Allah), Allah menninggikan derajat hamba yang Allah kehendaki di dunia”

Jadi, dikarenakan inti permasalahannya ada pada tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, maka pantas jika kunci dakwah seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah tauhid. Karena Tauhid merupakan bentuk mengenal Allah dan agama-Nya yang terbesar, ia adalah sebuah ajaran yang teragung dan paling mendasar dalam Islam.

Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bagaimana kedudukan tauhid dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam , “Tauhid kunci dakwah para Rasul”.

Nah, bagaimanakah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing? Ikuti kelanjutannya di artikel berikutnya. (Beginilah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing) .
***
Diolah dari http://www.binbaz.org.sa/node/8274 dan Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Dari Muslim.or.id

Kamis, 13 Oktober 2016

Menjual Ayat Allah?

Menjual ayat Allah
Maaf kalo menganggu ustadz. Mau tanya, bolehkah kita berdakwah sambil bermuamalah? Tempat untuk muamalah seperti fanpage facebook dijadikan juga utk memberikan ilmu agama dan dunia.

Apakah itu termasuk hadist menjual ayat2 Allah?


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada beberapa peringatan mengenai menjual ayat Allah dalam al-Quran. Diantaranya,
Allah berfirman,

ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ﻭَﺇِﻳَّﺎﻱَ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﻥِ

“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

Allah juga berfirman,

ﻓَﻼَ ﺗَﺨْﺸَﻮُﺍْ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﺍﺧْﺸَﻮْﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨًﺎ ﻗَﻠِﻴﻼً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Sasaran Utama Ayat


Sasaran utama ketika ayat ini diturunkan adalah sebagai peringatan untuk para pembesar yahudi, seperti Huyai bin Akhtab, Ka’ab al-Asyraf, atau pemuka yahudi lainnya. Sebelum islam datang, para pemuka yahudi mendapatkan upeti dan uang sogokan dari masyarakatnya. Setiap kali mereka mengeluarkan fatwa atau membacakan taurat, atau melakukan ritual yahudi, mereka diberi bayaran oleh masyarakat. Banyak masyarakat sekitar Madinah, baik yahudi maupun orang musyrik, yang menjadi korban mereka.

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tiba di madinah, mereka khawatir, jika nanti sampai banyak masyarakat Madinah, terutama yang yahudi masuk islam, maka mereka tidak lagi mendapatkan uang upeti, sogok atau minimal pemasukan mereka akan berkurang.

Karena alasan ini, mereka berusaha menghalangi masyarakat Madinah, terutama masyarakat yahudi, agar tidak mengikuti dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. padahal mereka tahu dengan yakin, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir seperti yang disebutkan dalam taurat.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,

ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻻ ﺗﻌﺘﺎﺿﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻭﺍﻹﻳﻀﺎﺡ ﻭﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻜﺘﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻠﺒﺲ ﻟﺘﺴﺘﻤﺮﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺭﻳﺎﺳﺘﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻟﻘﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺤﻘﻴﺮﺓ ﺍﻟﺰﺍﺋﻠﺔ ﻋﻦ ﻗﺮﻳﺐ

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dan makna [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah” adalah dunia seisinya.

Harun bin Zaid menceritakan,

ﺳﺌﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ، ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ، ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﺛﻤﻨﺎ ﻗﻠﻴﻼ ‏) ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺤﺬﺍﻓﻴﺮﻫﺎ

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

Cakupan Tafsir


Cakupan tafsir ayat ini tidak berbeda dengan latar belakang Allah menurutkan ayat di atas. Siapa saja yang sengaja menyembunyikan kebenaran, dengan harapan agar bisa mendapatkan dunia atau mempertahankan penghasilan, termasuk diantara bentuk menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

Di masyarakat kita, terkadang ada sebagian tokoh yang dia bertugas sebagai pemuka adat dan tradisi. Untuk sekali memimpin ritual, dia akan dibayar oleh penyelenggara. Tentu saja, banyak yang melanggar syariat.

Ketika dakwah kebenaran telah sampai kepadanya, dia paham, bahwa yang dia lakukan melanggar syariat, dan dia merasa berat untuk mengikuti dakwah itu.
Bahkan terkadang dia menghalangi dakwah kebenaran itu, dengan maksud agar masyarakat tetap mempertahankan tradisi meyimpang itu.

Karena itu, berdakwah sambil jual beli, tidak termasuk menjual ayat-ayat Allah.
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber:
konsultasisyariah.com

Senin, 10 Oktober 2016

Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?

Apakah anda tidak takut berbuat bidah

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat dari bid’ah itu demi kepentingan sebuah organisasi?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang bahaya bid’ah itu demi kepentingan sebuah partai politik?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang amalan-amalan bid’ah itu demi mendapatkan secuil harta dunia?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang jeleknya bid’ah itu demi mempertahankan tradisi nenek moyang?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang kerugian pelaku bid’ah itu agar dikenal sebagai orang alim yang paling pandai?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat agar meninggalkan bid’ah itu demi membela tokoh Fulan dan Allan?

Demi Allah, sama sekali tidak. Bahkan nyatanya para pelaris kebid’ahan lah yang memiliki tendensi-tendensi demikian. Dan sungguh, kita hendaknya enggan dan takut berbuat bid’ah karena takut kepada Allah Ta’ala .

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala menyatakan bahwa ajaran Islam sudah sempurna, tidak butuh penambahan. Membuat amalan-amalan ibadah baru sama saja dengan memberikan ‘catatan kaki’ pada firman Allah Ta’ala :

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ” (QS. Al Maidah: 3)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala melarang kita berselisih ketika Qur’an dan sunnah sudah sangat jelas dalam menjelaskan ajaran agama ini secara sempurna, dari masalah tauhid hingga adab buang air besar, sama sekali tidak perlu penambahan lagi. Allah
Ta’ala berfirman:

ﻭَﻻ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮﺍ ﻭَﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕُ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“ Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat ” (QS. Al Imran: 105)

Ash Shabuni berkata: “Maksud ayat ini adalah, janganlah berlaku seperti orang Yahudi dan Nasrani yang mereka berpecah-belah dalam masalah agama karena mengikuti hawa nafsu mereka padahal ayat-ayat yang datang kepada mereka sudah sangat jelas” (Shafwatut Tafasir , 202).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻓَﻠْﻴَﺤْﺬَﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻔُﻮﻥَ ﻋَﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻥْ ﺗُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﺃَﻭْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih ” (QS. An Nuur: 63)

Ketika Imam Malik ditanya tentang orang yang merasa bahwa ber-ihram sebelum miqat itu lebih bagus, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mensyari’atkan bahwa ihram dimulai dari miqat, maka Imam Malik pun berkata: “Ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan aku khawatir orang itu akan tertimpa fitnah di dunia dan adzab yang pedih sebagaimana dalam ayat.. (beliau menyebutkan ayat di atas)” ( Al I’tisham , 174).

Menjelaskan perkataan Imam Malik ini, Asy Syathibi berkata: “Fitnah yang dimaksud Imam Malik dalam menafsirkan ayat ini berhubungan dengan kebiasaan dan kaidah ahlul bid’ah, yaitu karena mengedepankan akal, mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah sebagai petunjuk bagi mereka” (Al I’tisham , 174).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Allah Ta’ala pun mengancam orang yang menyelisihi tuntunan Rasul-Nya dengan siksaan yang keras. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ

“ Apa yang datang dari Rasulullah, maka ambilah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya ” (QS. Al Hasyr: 7)

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang berbuat bid’ah. Tidak anda takut terhadap siksaan Allah yang keras karena melakukan yang dilarang Rasulullah?

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengancam neraka bagi hamba-Nya yang mengambil cara beragama bukan dari Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸَﺎﻗِﻖِ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﻳَﺘَّﺒِﻊْ ﻏَﻴْﺮَ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻧُﻮَﻟِّﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻮَﻟَّﻰ ﻭَﻧُﺼْﻠِﻪِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﺳَﺎﺀَﺕْ ﻣَﺼِﻴﺮًﺍ

“ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali ” (QS. An Nisa: 115)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud ayat ini, barang siapa yang menjalani cara beragama yang bukan berasal dari Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam maka ia telah menempatkan dirinya di suatu irisan (syiqq ), sedangkan syariat Islam di irisan yang lain. Itu ia lakukan setelah kebenaran telah jelas baginya” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 2/412)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mencela orang yang membuat-buat syari’at baru yang dalam agama dan menyebut orang-orang yang mengajarkan syari’at baru, lalu ditaati, sebagai sesembahan selain Allah. Sebagaimana perbuatan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman:

ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺫَﻥْ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞِ ﻟَﻘُﻀِﻲَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih ” (QS. Asy Syura: 21)

Ibnu Katsir berkata: “Mereka (orang-orang musyrik) tidak mengikuti apa yang telah disyariatkan Allah melalui agama Allah yang lurus ini. Bahkan mereka mengikuti syariat dari setan-setan yang berupa jin dan manusia. Mereka mengharamkan apa yang diharamkan oleh setan tersebut, yaitu bahiirah , saaibah , washilah dan haam. Mereka menghalalkan bangkai, darah dan judi, dan kesesatan serta kebatilan yang lain. Semua itu dibuat-buat secara bodoh oleh mereka, yaitu berupa penghalalan (yg haram), pengharaman (yang halal), ibadah-ibadah yang batil dan perkatan-perkataan yang rusak” ( Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 7/198)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah telah mencap sesat orang-orang yang ketika tuntunan Islam sudah ada, mereka malah mempunyai pilihan lain. Bisa jadi pilihan lain ini datang dari ustadz-nya, kiai -nya, syaikh -nya, dari akalnya, atau dari yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻠَﺎﻟًﺎ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ

“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata ” (QS. Al Ahzab: 36)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata: “Tidak layak bagi seorang mu’min dan mu’minah, jika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan tegas, lalu ia memiliki pilihan yang lain. Yaitu pilihan untuk melakukannya atau tidak, padahal ia sadar secara pasti bahwa Rasulullah itu lebih pantas diikuti dari pada dirinya. Maka hendaknya janganlah menjadikan hawa nafsu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah dan RasulNya” (Taisiir Kariimirrahman, 665)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengabarkan ada sebagian hamba-Nya yang berbuat kesesatan namun mereka merasa itu amalan kebaikan. Dan demikianlah bid’ah, tidak ada satupun pelaku bid’ah kecuali ia merasa amalan bid’ahnya itu adalah kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ

“ Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya ” (QS. Al Kahfi: 103-104)
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak ” ( Muttafaq ‘alaihi )

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar
Radhiallahu’anhu berkata:

ﻛُﻞَّ ﺑٍﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔ

“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik ” (Shahih, sebagaimana penilaian Al Albani dalam takhrij kitab Ishlaahul Masajid hal 13 milik Syaikh Jamaluddin Al Qashimi)

Tidakkah anda takut amalan-amalan yang anda anggap baik, padahal tidak ada tuntunannya dalam agama, kemudian anda mengamalkannya sampai berpeluh-peluh, ternyata hanya sia-sia belaka di hadapan Allah ? Oleh karena itu saudaraku, takutlah kepada Allah dan jauhi perbuatan bid’ah.

Penulis: Yulian Purnama

Sumber:
muslim.or.id

Sabtu, 08 Oktober 2016

Non Muslim itu Kafir

non muslim itu kafir

Kafir adalah orang yang beragama selain Islam. Inilah yang ditegaskan oleh syariat. Meski kelihatan sepele tetapi pemahaman dimasyarakat berbeda-beda. Semoga tulisan ini bisa memperjelas. (Adm)

Non Muslim itu Kafir


Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Selain Islam itu kafir. 


Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6).

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55).

Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284).

Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19)

هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52)

Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317)

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama,

مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber:
rumaysho.com

Seseorang Bersama Yang Dicintai Dan Diidolakannya

bersama yang dicintai

Mencintai adalah tabiat manusia. Apalagi terhadap orang yang diidolakannya. Akantetapi sadarkah kita bahwa cinta itu akan kita bawa hingga hari kiamat? Berikut tulisan menarik tentang cinta dan idola..(Adm)


Seseorang Bersama Yang Dicintai Diidolakannya


Hati-hati Mengidolakan Seseorang!!!
Karena Seseorang akan Bersama Orang yang dicintai dan diidolakannya


ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ , ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ , ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ :

Semakin banyaknya kaum muslim mengidolakan seorang yang sebenarnya tidak pantas untuk diidolakan, baik karena akidahnya yang buruk yang dipenuhi dengan syirik, ibadahnya yang buruk yang dipenuhi dengan bid’ah, pergaulannya yang buruk atau tingkahlakunya yang buruk.
Kalau bukan karena peran media massa-lah seorang yang sebenarnya buruk ini dan tidak pantas menjadi idola inilah akhirnya diidolakan orang banyak!!!

Tulisan singkat di bawah ini, ingin menjelaskan sedikit sebenarnya siapakah yang berhak diidolakan dan siapakah yang tidak pantas untuk diidolakan.

Kawan pembaca, ketauhilah, semoga Allah merahmati kita…
Sang Idola dan Panutan yang bebas dari segala keburukan dan kekejian

} ﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ { ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 21 : ‏]

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab: 21.

Kenapa beliau idola tanpa cacat?


Jawabannya:

ﻋَﻦْ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﻫِﺸَﺎﻡِ ﺑْﻦِ ﻋَﺎﻣِﺮٍ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺗَﻴْﺖُ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺃُﻡَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﺧْﺒِﺮِﻳﻨِﻰ ﺑِﺨُﻠُﻖِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .- ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻛَﺎﻥَ ﺧُﻠُﻘُﻪُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻣَﺎ ﺗَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ‏( ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ‏)

Artinya: “Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “ Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: ( ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4811.

Makna “Akhlak beliau Al Quran ”


Berkata Ibnu Rajab rahimahullah :

ﺗﻌﻨﻲ : ﺃﻧَّﻪ ﻛﺎﻥ ﺗﺄﺩَّﺏ ﺑﺂﺩﺍﺑﻪ ، ﻭﺗﺨﻠَّﻖ ﺑﺄﺧﻼﻗﻪ ، ﻓﻤﺎ ﻣﺪﺣﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺭﺿﺎﻩ ، ﻭﻣﺎ ﺫﻣﻪ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥُ ، ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺳﺨﻄﻪ

Artinya: “Maknanya adalah beliau senantiasa beradab dengan adabnya Al Quran dan berakhlak dengan akhlaknya, apa yang dipuji Al Quran maka di dalamnya terdapat kerelaan beliau dan apa saja yang dicela Al Quran maka di dalamnya terdepat kemurkaan beliau.” Lihat Kitab Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam.

Indahnya mengidolakan Nabi dan orang-orang yang diridhai Allah Ta’ala.

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﺟَﺎﺀَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺘَﻰ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻋْﺪَﺩْﺕَ ﻟِﻠﺴَّﺎﻋَﺔِ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺣُﺐَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﻤَﺎ ﻓَﺮِﺣْﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻓَﺮَﺣًﺎ ﺃَﺷَﺪَّ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ‏« ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻧَﺲٌ ﻓَﺄَﻧَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﻓَﺄَﺭْﺟُﻮ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﺃَﻋْﻤَﻞْ ﺑِﺄَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ .

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” HR. Muslim.

ﻗَﺎﻝَ ﺛَﺎﺑِﺖٌ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺃَﻧَﺲٌ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﺪَّﺙَ ﺑِﻬَﺬَﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻓَﺈِﻧَّﺎ ﻧُﺤِﺒُّﻚَ ﻭَﻧُﺤِﺐُّ ﺭَﺳُﻮﻟَﻚَ .

Tsabit (perawi hadits di atas) berkata: “Senantiasa Anas radhiyallahu ‘anhu jika meriwayatkan hadits ini, beliau berdoa: “Wahai Allah, sesungguhnya kami mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu”. HR. Ahmad.

Kawanku…Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di hari kiamat, tentunya di dalam surga.

Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di dalam surga meskipun pastinya tidak akan mampu beramal seperti amalan beliau.

Tapi ingat Kawanku…Hadits ini juga berlaku bagi yang;

  • mencintai orang yang buruk akidahnya; penuh dengan kekafiran, penuh dengan kesyirikan, penghinaan terhadap Allah Ta’ala, penghinaan terhadap nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya dari akidah yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • mencintai orang yang buruk ibadahnya, ibadah senantiasa bid’ah, tidak memperhatikan kwalitas ibadah, tidak taat dalam ibadah, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • mencintai orang yang buruk interaksi sosialnya, sering menggangu orang lain, mecela orang lain, menzhalimi orang lain dan sebagainya dari interkasi social yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
  • Mencintai orang yang perbuatan dan tingkah laku buruk dan keji, suka maksiat, suka pamer aurat, suka minum khamr dan barang memabukkan lainnya, suka mencuri, suka berzina, seks bebas dan sebagainya dari perbuatan keji dan buruk, maka dia akan bersanama di hari kiamat…

Mari perhatikan perkataan Al Mubarakfury rahimahullah :

ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺐ ﺃﻱ ﻳﺤﺸﺮ ﻣﻊ ﻣﺤﺒﻮﺑﻪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺭﻓﻴﻘﺎ ﻟﻤﻄﻠﻮﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻣﻦ ﻳﻄﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻓﺄﻭﻟﺌﻚ ﻣﻊ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﻧﻌﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻵﻳﺔ ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ﻟﻠﺼﺎﻟﺢ ﻭﺍﻟﻄﺎﻟﺢ ﻭﻳﺆﻳﺪﻩ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻋﻠﻰ ﺩﻳﻦ ﺧﻠﻴﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﻓﻔﻴﻪ ﺗﺮﻏﻴﺐ ﻭﺗﺮﻫﻴﺐ ﻭﻭﻋﺪ ﻭﻭﻋﻴﺪ

Artinya: “Sabda beliau “Seseorang bersama yang yang dia cintai”, maksudnya adalah dia akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai dan akan menjadi teman untuk yang dicarinya, Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang yang dianugerahkan oleh Allah nikmat atas mereka”, dan secara lahir hadits , mencakup keumuman baik untuk mencintai orang shalih atau orang yang tidak shalih, dan yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang berbunyi: “Seseorang sesuai dengan agama temannya”, sebagaimana yang sudah disebutkan. Maka di dalam hadits ini, terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent).” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi.

Kawanku …
Jangan sampai hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat MENJADIKAN IDOLA YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIIDOLAKAN, BAIK KARENA KEKAFIRANNYA, KESYIRIKANNYA, KEBID’AHANNYA DAN MAKSIATNYA!!!.

} ﻳَﻮْﻡَ ﺗُﻘَﻠَّﺐُ ﻭُﺟُﻮﻫُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺘَﻨَﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻟَﺎ ‏( 66 ‏) ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻃَﻌْﻨَﺎ ﺳَﺎﺩَﺗَﻨَﺎ ﻭَﻛُﺒَﺮَﺍﺀَﻧَﺎ ﻓَﺄَﺿَﻠُّﻮﻧَﺎ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻠَﺎ ‏( {(67 ‏[ ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ 66 : ، 67 ‏]

Artinya: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: "Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” QS. Al Ahzab: 66-67.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 6 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA

Sumber:
dakwahsunnah.com

Jumat, 07 Oktober 2016

16 Alasan Mengapa Kita Mesti Berdakwah

kenapa harus dakwah

Berdakwah adalah tugas mulia. Tugas yang diemban para nabi. Akantetapi tahukah kita keutamaan berdakwah?
***

16 Alasan Mengapa Kita Mesti Berdakwah


Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba’du:

Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan kepadanya hidayah!

Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam? Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! Alangkah beruntungnya ia…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[1] .”

An Nawawi rahimahullah berkata: “ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan.”

Saudaraku muslim…

Berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla termasuk keta’atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:

} ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺪَّﺛِّﺮُ ‏( 1 ‏) ﻗُﻢْ ﻓَﺄَﻧْﺬِﺭْ ‏( {(2 ‏[ ﺍﻟﻤﺪﺛﺮ : 1 ، 2 ‏]

Artinya: “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! [2] .”

Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!

Allah Azza wa Jalla telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata: “Berdakwah ke jalan Allah Ta’ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya.”

Saudaraku muslim…

Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiahkan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, di antaranya:

  • Pertama: mengikuti para nabi dan mencontoh mereka


} ﻗُﻞْ ﻫَﺬِﻩِ ﺳَﺒِﻴﻠِﻲ ﺃَﺩْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﺼِﻴﺮَﺓٍ ﺃَﻧَﺎ ﻭَﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻌَﻨِﻲ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ { ‏[ ﻳﻮﺳﻒ : 108 ‏]

Artinya: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik [3] .”

Al Farra berkata: “Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat”.

  • Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahala karena Allah Azza wa Jalla memuji para pendakwah:


} ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ { ‏[ ﻓﺼﻠﺖ : 33 ‏]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri? [4] .”

Asy Syaukani berkata: “Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding amalannya”.

  • Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sedikit

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:

ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[5] .”

Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jalla ia akan masuk ke dalamnya.

  • Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran: bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah

Allah Ta’ala berfirman:

} ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺟَﺎﻫَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻨَﺎ ﻟَﻨَﻬْﺪِﻳَﻨَّﻬُﻢْ ﺳُﺒُﻠَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ { ‏[ ﺍﻟﻌﻨﻜﺒﻮﺕ : 69 ‏]

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik [6] .”

Al Baghawi berkata: “Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat”.

  • Kelima: Harapan shalihnya keturunan

Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu ‘ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

} ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَﺎﻓًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ { ‏[ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ : 9 ‏]

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar [7] .”

dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agam Allah.

  • Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻹِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun [8] .”

  • Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat

Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ ‏( 1 ‏) ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻟَﻔِﻲ ﺧُﺴْﺮٍ ‏( 2 ‏) ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ ‏( 3 ‏)

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran [9] .”

  • Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh

Allah Ta’ala berfirman:

} ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ { ‏[ ﻣﺤﻤﺪ : 7 ‏]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu [10] .”

Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri’atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.

  • Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan didapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi

Syaikh Abdurrahman As Sa’dy rahimahullah berkata: “Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul”.

  • Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta’ala dan sabda rasul-Nya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻭَﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﻨَّﻤْﻠَﺔَ ﻓِﻰ ﺟُﺤْﺮِﻫَﺎ ﻭَﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟْﺤُﻮﺕَ ﻟَﻴُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻌَﻠِّﻢِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan[11] .”

  • Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin”.

  • Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻪِ ﻓِﻲ ﺣَﻴَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻤَﺎﺗِﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘْﺮُﻙَ

Artinya: “Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan[12] .”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﺇﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺙٍ : ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ، ﺃَﻭْ ﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ، ﺃَﻭْ ﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ

Artinya: “Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…” , dan salah satu diantaranya adalah: “Ilmu yang bermanfa’at.”

  • Ketiga belas: Kecintaan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya

Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta’ala:

} ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ { ‏[ ﻓﺼﻠﺖ : 33 ‏]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri? [13] . “

Beliau berkata: “Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini aadalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah”.

  • Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada dan juga menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, yaitu doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau,

ﻧَﻀَّﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃً ﺳَﻤِﻊَ ﻣَﻘَﺎﻟَﺘِﻰ ﻓَﺒَﻠَّﻐَﻬَﺎ

Artinya: “Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan [14] .”

Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.

  • Kelima belas: Doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau

termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:

ﺭﺣﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻣﺮﺃ ﺳﻤﻊ ﻣﻨﻰ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻓﺤﻔﻈﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺒﻠﻐﻪ ﻏﻴﺮﻩ

Artinya: “Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya kemudian ia sampaikan kepada orang lain[15] .”

Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya etringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia dating ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel.

Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dam masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenganan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak paa hari kiamat, jika seluruh kealuarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?

  • Keenam belas: berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah

Allah Ta’ala berfirman,

} ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ { ‏[ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 3 ‏]

Artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka [16] .”

Al Hasan berkata: “Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu”.

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.

*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim,
Penerjemah: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

[1] Hadits riwayat Muslim
[2] QS. Al Mudatstsir:1-2
[3] QS. Yusuf:108
[4] QS. Fushshilat:33
[5] Hadits riwayat Muslim
[6] QS. Al Ankabut:69
[7] QS. An Nisa-‘:9
[8] Hadits riwayat Muslim
[9] QS. Al Ashr:1-3
[10] QS. Muhammad:10
[11] Hadits riwayat Tirmidzi
[12] Hadits riwayat Ath Thabarani
[13] QS. Fushshilat:33
[14] Hadits riwayat Ibnu Majah
[15] Hadits riwayat Ahmad
[16] QS. Al Baqarah:3

Sumber:
muslim.or.id