Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2016

Beribadah Karena Mengharap Surga Merusak Keikhlasan??!!

Seseorang yang beramal karena surga maka ia adalah seorang yang beramal karena perut dan kemaluannya, seperti pekerja yang buruk. Dan derajatnya adalah derajat al-balah (orang dungu), dan sesungguhnya ia meraih surga dengan amalannya, karena kebanyakan penduduk surga adalah orang dungu. (Al Ghazali)


Ada beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang merusak keikhlasan, akan tetapi ternyata tidak merusak keikhlasan. Perkara-perkara tersebut adalah :


Pertama :

Beramal dalam rangka mencari surga.

Senin, 31 Oktober 2016

DEMONSTRASI DAN MENCELA PEMERINTAH DI MEDIA SOSIAL BUKAN AJARAN ISLAM

Demonstrasi bukan ajaran islam

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺼَﺢَ ﻟِﺬِﻱ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻓَﻼ ﻳُﺒْﺪِﻩِ ﻋَﻼﻧِﻴَﺔً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﺄْﺧُﺬُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻓَﻴَﺨْﻠُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺒِﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺬَﺍﻙَ ﻭَﺇِﻻ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺃَﺩَّﻯ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

"Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]


Beberapa Pelajaran :



  1. Pesan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di dalam hadits yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. 

Tatkala seseorang berkata kepada Sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma,

ﺃَﻻَ ﺗَﺪْﺧُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻓَﺘُﻜَﻠِّﻤَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺗُﺮَﻭْﻥَ ﺃَﻧِّﻰ ﻻَ ﺃُﻛَﻠِّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ ﺃُﺳْﻤِﻌُﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﻠَّﻤْﺘُﻪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻴْﻨِﻰ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﺃَﻓْﺘَﺘِﺢَ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﻻَ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﻦْ ﻓَﺘَﺤَﻪُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya), maka ia berkata, “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memperdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafaz ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata,

ﻗﻮﻟﻪ ﻗﺪ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﻣﺎ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﺍﻓﺘﺢ ﺑﺎﺑﺎ ﺃﻱ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﺷﺮﺗﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻜﻦ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻭﺍﻷﺩﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻛﻼﻣﻲ ﻣﺎ ﻳﺜﻴﺮ ﻓﺘﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu), “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, tanpa ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Al-Imam Al-Muhallab –rahimahullah- berkata,

ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﻣﻦ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺍﻥ ﻳﻜﻠﻢ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺧﺎﺻﺘﻪ ﻭﻣﻤﻦ ﻳﺨﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺷﺄﻥ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻘﺒﺔ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﻳﺢ ﻧﺒﻴﺬ ﻭﺷﻬﺮ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺧﺎ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻷﻣﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻗﺪ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﺳﺮﺍ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﺃﻓﺘﺢ ﺑﺎﺑﺎ ﺃﻱ ﺑﺎﺏ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻋﻼﻧﻴﺔ ﺧﺸﻴﺔ ﺍﻥ ﺗﻔﺘﺮﻕ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ

“Mereka menginginkan dari Usamah agar beliau berbicara kepada ‘Utsman -dan Usamah adalah orang dekat dan disegani oleh ‘Utsman- dalam perkara Al-Walid bin ‘Uqbah, karena muncul darinya bau nabidz (khamar) dan telah ramai dibicarakan, sedang ia adalah saudara ‘Utsman seibu dan beliau tugaskan sebagai gubernurnya. Maka Usamah berkata, “Sungguh aku telah berbicara kepadanya secara rahasia tanpa aku membuka pintu” maknanya adalah pintu mengingkari pemimpin secara terang-terangan, karena dikhawatirkan akan terpecahnya persatuan.” [Fathul Bari, 13/52]

  • 2. Sebaliknya, kaum Khawarij menyelisihi cara menasihati penguasa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan diamalkan para sahabat ini. 

Tabi’in yang Mulia Sa’id bin Jumhan –rahimahullah- berkata,

ﺃَﺗَﻴْﺖُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْﻦَ ﺃَﺑِﻲ ﺃَﻭْﻓَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺤْﺠُﻮﺏُ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ، ﻓَﺴَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ ؟ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻌِﻴﺪُ ﺑْﻦُ ﺟُﻤْﻬَﺎﻥَ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﻭَﺍﻟِﺪُﻙَ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﻗَﺘَﻠَﺘْﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔُ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔَ ، ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔَ ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛِﻼَﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔُ ﻭَﺣْﺪَﻫُﻢْ ﺃَﻡِ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﻞِ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ . ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻳَﻈْﻠِﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ، ﻭَﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺑِﻬِﻢْ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺘَﻨَﺎﻭَﻝَ ﻳَﺪِﻱ ﻓَﻐَﻤَﺰَﻫَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻏَﻤْﺰَﺓً ﺷَﺪِﻳﺪَﺓً ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻳْﺤَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺟُﻤْﻬَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻷَﻋْﻈَﻢِ ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻷَﻋْﻈَﻢِ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥُ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﻣِﻨْﻚَ ، ﻓَﺄْﺗِﻪِ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ، ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺒِﻞَ ﻣِﻨْﻚَ ، ﻭَﺇِﻻَّ ﻓَﺪَﻋْﻪُ ، ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﺴْﺖَ ﺑِﺄَﻋْﻠَﻢَ ﻣِﻨْﻪُ

“Aku pernah mendatangi Abdullah bin Abi Aufa -radhiyallahu’anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku, “Siapakah kamu?” Aku berkata, “Aku Sa’id bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al-Azaariqoh telah membunuhnya”.

Beliau berkata, “Semoga Allah melaknat Al-Azariqoh, semoga Allah melaknat Al-Azariqoh. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kami bahwa mereka dalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata, “Apakah Al-Azariqoh saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan semana-mena terhadap mereka”.

Beliau pun menarik tanganku dengan keras seraya berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah), hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasihatmu, maka datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui, semoga ia menerima nasihat darimu. Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/382), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 6435) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 905), dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 905]


  • 3) Menasihati penguasa secara terang-terangan dengan aksi demonstrasi atau melalui media massa, menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum. Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata,

ﻓﺎﻟﻨﺼﺢ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻷﺳﻠﻮﺏ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﻓﻬﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ , ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﺍﻟﺘﺸﻬﻴﺮ ﺑﻌﻴﻮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ , ﻭﻻ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﺑﺮ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ , ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﺴﻌﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﺸﺮ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺑﺎﻟﻄﺮﻕ ﺍﻟﺤﻜﻴﻤﺔ ﻭﺑﺎﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺮﺿﺎﻫﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridhoi Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]


  • 4) Melakukan aksi-aksi perlawanan terhadap kebijakan pemerintah secara terang-terangan bukan manhaj Salaf dan hanya mendatangkan kemudaratan, bukan kemaslahatan. 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata,

ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺘﺸﻬﻴﺮ ﺑﻌﻴﻮﺏ ﺍﻟﻮﻻﺓ , ﻭﺫﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﺑﺮ ; ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﻮﺿﻰ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ , ﻭﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ , ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻤﺘﺒﻌﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻠﻒ : ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ , ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ , ﺃﻭ ﺍﻻﺗﺼﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺼﻠﻮﻥ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻮﺟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻴﺮ

“Bukan termasuk manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar, sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]


  • 5. Solusi menghadapi pemerintah yang zalim, disamping memberi nasihat, bahkan ketika nasihat juga tidak bermanfaat, atau pun tidak ada akses untuk menyampaikan nasihat, maka hendaklah bersabar dan berdoa, tidak dibenarkan untuk melakukan perlawanan dan menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat dalam menasihati.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِﻩ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﻜْﺮَﻫُﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺼْﺒِﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻓَﻤِﻴﺘَﺔٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ

“Barangsiapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) sejengkal saja, kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (7054) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1849) dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮَﻭْﻥَ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃَﺛَﺮَﺓ ﻭَﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﺗُﻨْﻜِﺮُﻭﻧَﻬَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺩُّﻭﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﻘَّﻬُﻢْ ﻭَﺳَﻠُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻘَّﻜُﻢْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (7052) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1843) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

DUA MACAM PEMBERONTAKAN

Keluar, memisahkan diri atau memberontak dan menentang penguasa muslim adalah perangai Jahiliyah yang diadopsi kaum Khawarij, diharamkan dalam Islam, dan bentuknya ada dua:

  • Pertama: Dengan senjata.
  • Kedua: Dengan kata-kata.

Dan yang pertama tidak mungkin terjadi tanpa yang kedua, karena itulah demonstrasi diharamkan dalam Islam, demikian pula mencela para penguasa di mimbar terbuka atau di media massa dilarang dalam Islam.

Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

Faqihul ‘Ashr Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﺑﻞ ﺍﻟﻌﺠﺐ ﺃﻧﻪ ﻭُﺟّﻪ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻗﻴﻞ ﻟـﻪ : ﺍﻋﺪﻝ، ﻭﻗﻴﻞ ﻟـﻪ : ﻫﺬﻩ ﻗﺴﻤﺔ ﻣﺎ ﺃﺭﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ . ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻛﺒﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﺴﻴﻒ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻭﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻳﻌﻨﻲ : ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺃﺧﺬ ﺍﻟﺴﻴﻒ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻟﻜﻨﻪ ﺃﻧﻜﺮ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﻧﺤﻦ ﻧﻌﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﻃﺒﻴﻌﺔ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﺴﻴﻒ ﺇﻻ ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻘﻪ ﺧﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ . ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬﻭﺍ ﺳﻴﻮﻓﻬﻢ ﻳﺤﺎﺭﺑﻮﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺑﺪﻭﻥ ﺷﻲﺀ ﻳﺜﻴﺮﻫﻢ، ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨـﺎﻙ ﺷﻲﺀ ﻳﺜـﻴﺮﻫﻢ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻜﻼﻡ . ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺑﺎﻟﻜﻼﻡ ﺧﺮﻭﺟﺎً ﺣﻘﻴﻘﺔ، ﺩﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺩﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ

“Sangat mengherankan tatkala celaan (terhadap pemerintah) itu diarahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (yaitu yang dilakukan oleh pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh). Dikatakan kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam, “Berlaku adillah!” Juga dikatakan, “Pembagianmu ini tidak menginginkan wajah Allah!”

Maka ini adalah sebesar-besarnya dalil yang menunjukkan bahwa memberontak kepada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi pula dengan ucapan dan kata-kata. Maksudnya, orang ini tidaklah memerangi Rasul -shallallahu’alaihi wa sallam- dengan pedang, akan tetapi ia mengingkari beliau (dengan ucapan di depan umum).

Kita tahu dengan pasti bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang bisa memprovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memprovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

BEBERAPA DAMPAK BURUK DEMONSTRASI


  1. Memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa, terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memprovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum muslimin (lihat Fathul Bari, 13/51-52)
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya (lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619)
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33)
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik (lihat Haqqur Ro’i, hal. 27)
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99)
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa (lihat Fathul Bari, 13/52)
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum khawarij (lihat Syarah Muslim, 18/118)
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa muslim (lihat As-Sailul Jarror, 4/556)
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat Madarikun Nazhor, hal.211)
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.


ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Semoga bermanfaat. Mohon ta’awun menyebarkan dakwah tauhid dan sunnah ini. Semoga menjadi sebab hidayah dan pemberat timbangan kebaikan kita di Hari Kiamat, insya Allah ta’ala.
Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

Sumber:  taawundakwah.com

Kamis, 20 Oktober 2016

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU
Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari
Sesungguhnya agama Islam telah sempurna, nyata, terang lagi jelas, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali pasti binasa. Dan Islam, adalah agama yang berlandaskan wahyu Allah Ta’ala, bukan berlandaskan akal fikiran maupun perasaan manusia. Barang siapa mengikuti wahyu, maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kepada yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. [az-Zukhruf/43:43].

Wahyu Allah merupakan kebenaran mutlak, tidak ada kedustaan dan kesalahan di dalamnya. Hal ini berbeda dengan akal dan fikiran manusia yang tidak ada jaminan kebenaran mutlak, bahkan fikiran seseorang itu sering berubah-ubah. Demikian juga fikiran manusia yang satu dengan lainnya, juga sering berbeda. Oleh karena itulah manusia itu sering berselisih.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang kebenaran mutlak pada wahyu-Nya:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Kebatilan tidak datang kepadanya (Al-Qur`ân) baik dari depan maupun dari belakangnya. (Al-Qur`ân) diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. [Fushshilat/41:42].

Dengan tegas Allah menyatakan, bahwa di dalam Kitab-Nya tidak terkandung kebatilan, baik saat diturunkan maupun sesudahnya. Kebatilan dalam arti kedustaan ataupun kesia-siaan.

MAKNA AS-SUNNAH [1]


As-Sunnah, secara bahasa artinya ialah jalan atau ajaran, yang baik maupun yang buruk. Adapun secara istilah, as-Sunnah memiliki beberapa makna sebagai berikut.


1. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ushûl Fiqh.


Al-Aamidi rahimahullah berkata: “Dalil-dalil syari’at yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang tidak dibaca, bukan merupakan mu’jizat, dan tidak termasuk mu’jizat [2]. Dan Sunnah ini mencakup perkataan-perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatan-perbuatan, dan taqrîr-taqrîr (ketetapan-ketetapan) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[3]

Istilah as-Sunnah di sini, contohnya perkataan, “sumber aqidah dan hukum Islam ialah Al-Kitab dan as-Sunnah”, “kita wajib berpegang kepada Al-Kitab dan as-Sunnah”, dan semacamnya.


2. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.


Yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrîr (ketetapan)beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah di sini semakna dengan al-Hadits.

3. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ahli Fiqih.


Yaitu perkara yang pelakunya terpuji dan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang meninggalkannya tidak tercela dan tidak mendapatkan dosa. Istilah Sunnah menurut ahli fiqih ini semakna dengan mustahab, mandûb, tathawwu’, nafilah, muragh-ghab fîhi, dan semacamnya.

Istilah as-Sunnah di sini, contohnya perkataan, “hukum shalat rawaatib adalah Sunnah, bukan wajib”, “pendapat yang râjih (kuat), hukum shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki adalah wajib ‘ain, bukan sunnah”, dan semacamnya.


4. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Aqidah Atau Ulama Salaf.


Yaitu bermakna jalan dan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diikuti oleh para sahabatnya. Sunnah di sini kebalikan dari bid’ah. Oleh karena itu, banyak ulama pada zaman dahulu menulis kitab-kitab aqidah, dan mereka menamakannya dengan as-Sunnah. Misalnya, “as-Sunnah” karya ‘Abdullah bin Imam Ahmad, “as-Sunnah” karya al-Khallâl, dan lain-lain.

Adapun makna as-Sunnah yang dimaksudkan dalam tulisan ini, yaitu as-Sunnah menurut istilah ahli ushûl fiqh.

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU


Allah azza wa Jalla memerintahkan manusia agar mengikuti wahyu yang telah Dia turunkan kepada mereka melalui perantaraan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salalm. Allah Azza wa Jalla berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. [al-A’râf/7:3].

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan dari-Nya secara khusus, dan Dia memberitahukan bahwa barangsiapa mengikuti selainnya, maka dia telah mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”.[4]

Allah juga telah menjelaskan, apa yang Dia turunkan bukan hanya al-Kitab (Al-Qur`ân). Bahkan yang Allah turunkan ialah berupa al-Kitab (Al-Qur`ân) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. [al-Baqarah/2:231].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu”, yaitu Dia mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk dan penjelasan-penjelasan, “dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah”, yaitu As-Sunnah, “Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu”, yaitu Allah memerintah kamu, melarang kamu, dan mengancam kamu dari melakukan perkara-perkara yang haram. [5]

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [an-Nisâ`/4:113].

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu Al-Qur`ân, dan menyebutkan al-Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku ridhai, yaitu seseorang yang ahli ilmu Al-Qur`ân berkata,’Al-Hikmah ialah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah as-Sunnah yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Sementara Allah Ta’âla berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui”. [al-Ahzâb/33:34].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi) apa yang diturunkan Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”.[7]

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa beliau diberi al-Kitab dan yang semisalnya, yaitu as-Sunnah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama, sama-sama wajib diikuti. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ وَلَا لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا صَاحِبُهَا وَمَنْ نَزَلَ بِقَوْمٍ فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَقْرُوهُ فَإِنْ لَمْ يَقْرُوهُ فَلَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ

“Ingatlah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab (Al-Qur`ân) dan (diberi) yang semisalnya (yaitu as-Sunnah) bersamanya. Ingatlah, hampir ada seorang laki-laki yang kenyang berada di atas tempat tidurnya yang dihiasi, dia akan berkata: ‘Kamu wajib berpegang dengan Al-Qur`ân ini. Apa yang kamu dapati di dalamnya perkara yang halal, maka halalkanlah ia! Dan apa yang kamu dapati di dalamnya perkara yang haram, maka haramkanlah ia!’. Ingatlah, tidak halal bagi kamu daging keledai jinak, dan (tidak halal) seluruh yang bertaring dari binatang buas, dan (tidak halal) barang temuan milik orang kafir mu’ahid, kecuali jika pemiliknya tidak membutuhkannya. Barang siapa bertamu kepada suatu kaum, maka mereka wajib menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya, maka dia berhak mengambil dari mereka dengan semisal jamuannya”[9].

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

يُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِي فَيَقُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ أَلاَ وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Hampir ada seorang laki-laki yang bersandar di atas tempat tidurnya yang dihiasi, disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku, lalu dia akan berkata: ‘Di antara kami dan kamu ada kitab Allah Azza wa Jalla . Apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang halal, maka kita menghalalkannya. Dan apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang haram, maka kita mengharamkannya’. Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah n seperti apa yang diharamkan oleh Allah”. [HRIbnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni].

Penulis kitab ‘Aunul-Ma’bûd Syarh Sunan Abi Dâwud mengatakan: “(Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) ‘aku diberi al-Kitab’, yaitu Al-Qur`ân, ‘dan (diberi) yang semisalnya’, yaitu wahyu batin yang tidak dibaca, atau penjelasan wahyu zhahir, dengan menjelaskan keumuman, mengkhususkan, menambah, mengurangi, atau hukum-hukum, nasihat-nasihat, atau perumpamaan-perumpamaan, yang menyerupai Al-Qur`ân dalam masalah kewajiban yang diamalkan, atau dalam hal kedudukannya”.

Al-Baihaqi berkata: “Hadits ini memungkinkan dua makna. 
  • Pertama, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi wahyu batin yang tidak dibaca, seperti diberi wahyu zhahir yang dibaca. 
  • Kedua, maknanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi al-Kitab yang merupakan wahyu yang dibaca, dan diberi penjelasan semisalnya. 
Yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diizinkan menjelaskan yang ada di dalam al-Kitab, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keumuman, mengkhususkan, menambahkan, sehingga beliau mensyari’atkan sesuatu yang tidak disebutkan dalam al-Kitab. Maka jadilah hal itu, di dalam kewajiban berhukum dan keharusan mengamalkannya seperti wahyu yang zhahir yang dibaca”.[10]

Dengan demikian, Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Allah Ta’ala sebagaimanan Al-Qur`ân. Hassân bin ‘Athiyah rahimahullah berkata:

كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى النَّبِيِّ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ

“Dahulu, Malaikat Jibrîl turun kepada Nabi n dengan membawa as-Sunnah, sebagaimana ia turun membawa Al-Qur`ân”.[11]

KEDUDUKAN AS-SUNNAH SAMA DENGAN AL-QUR`ÂN DALAM HUJJAH


Setelah mengetahui bahwasanya wahyu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua, selain Al-Qur`ân atau al-Kitab, yang merupakan wahyu zhahir yang dibaca, juga as-Sunnah yang merupakan wahyu batin yang dibaca, sehingga kedudukan keduanya ini satu derajat dalam hal hujjah dan sumber aqidah dan hukum, karena keduanya sama sebagai wahyu Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, termasuk perkara yang pantas untuk diperingatkan, yakni pendapat sebagian ahli ushuul fiqih yang menyatakan bahwa kedudukan as-Sunnah berada di bawah Al-Qur`ân dalam pengambilan sumber hukum. Sehingga pendapat ini memunculkan prinsip yang tidak benar pada sebagian umat Islam; misalnya hadits yang shahîh, jika bertentangan dengan Al-Qur`ân maka hadits itu berarti hadits lemah dan ditolak. Kemudian mereka menggunakan akal fikirannya sendiri, atau bahkan kebodohannya untuk menghukumi sesuatu hadits bertentangan dengan ayat Al-Qur`ân. Dari sinilah, kemudian timbul berbagai penyimpangan.

Oleh karena itu, kami ingatkan bahwasanya as-Sunnah juga merupakan wahyu Allah, sehingga tidak akan bertentangan dengan Al-Qur`ân. Jika ada hadits yang telah memenuhi syarat shahîh, tetapi menurut akal, seolah-olah hadits itu bertentangan dengan Al-Qur`ân, maka hendaklah kita mendahulukan naql (wahyu) daripada akal. Demikian ini merupakan prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah.

Imam Abul-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwasanya madzhab (jalan) Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (menyetakan), akal tidaklah mewajibkan sesuatu kepada seorangpun, tidak menghilangkan sesuatu darinya, tidak ada peran bai akal dalam menghalalkan dan mengharamkan, menganggap baik dan menganggap buruk. Seandainya tidak ada penjelasan dari agama, maka tidak ada sesuatu pun yang wajib atas diri seseorang, dan mereka tidak terkena pahala atau siksa”.

Imam Abul-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah juga berkata: “Ahlus Sunnah mengatakan, prinsip dalam beragama adalah ittiba` (mengikuti dalil wahyu), sedangkan akal mengikutinya. Seandainya prinsip agama itu berlandaskan akal, maka sesungguhnya manusia tidak membutuhkan wahyu dan nabi-nabi. Demikian juga makna larangan dan perintah (dari Allah lewat perantaraan para nabi) menjadi sia-sia. Dan setiap orang akan berbicara sesuai yang ia kehendaki”. [13]

Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata: “As-Sunnah dengan al-Kitab berada pada satu derajat. Dari kedua sumber ini diambillah sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) dalam menentuankan hukum-hukum syari’at. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: ‘Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa al-Kitab (Al-Qur`ân) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah; dengan lafazhnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mu’jizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah, dilihat pada sisi ini, keutamaannya berada di bawah Al-Qur`ân.

Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata: “As-Sunnah dengan Al-Kitab berada pada satu derajat dari sisi keduanya digunakan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) terhadap hukum-hukum syari’at. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa Al-Kitab (Al-Qur’an) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah, dengan lafazhnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mu’jizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah di bawah Al-Qur’an di dalam keutamaan pada sisi-sisi ini.

Akan tetapi, hal itu tidak menyebabkan keduanya berbeda keutamaannya dalam masalah penggunaan sebagai hujjah. Yaitu menganggap kedudukan as-Sunnah di bawah Al-Qur`ân dalam penggunaan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen); sehingga seandainya terjadi pertentangan, maka As-Sunnah disia-siakan, dan hanya Al-Qur`ân yang diamalkan.

Sesungguhnya kedudukan Sunnah itu sederajat dengan al-Kitab (Al-Qur`ân) dalam pengambilannya sebagai hujjah. Dijadikannya al-Kitab sebagai hujjah, karena ia merupakan wahyu dari Allah…, dan dalam masalah ini, as-Sunnah sama dengan Al-Qur`ân, karena as-Sunnah juga merupakan wahyu seperti halnya Al-Qur`ân. Sehingga wajib menyatakan, dalam hal i’tibar, as-Sunnah tidak di berada belakang Al-Qur`ân”[14]

Oleh karena itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah merupakan dua perkara yang saling menyatu, tidak terpisah, dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” [15].

KESIMPULAN


Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa as-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur`ân. Oleh karena itu, keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai hujjah (argumen) dalam agama, dan wajib diikuti.
Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

MARÂJI’:

1. Al-Qur’ân Terjemah Departemen Agama.
2. At-Ta’zhim wal-Minnah fil-Intisharis-Sunnah, karya Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali.
3. Dharûrat Ihtimâm bis-Sunnah Nabawiyyah, karya Syaikh ‘Abdus-Salâm bin Barjas bin Nâshir Âlu ‘Abdul-Karîm .
4. I’lamul-Muwaqqi’in, karya Imam Ibnul-Qayyim, Penerbit Darul-Hadits, Kairo, Tahun 1422H/2002H.
5. Manhaj Imam Syafi’i t fî Its-bâtil ‘Aqîdah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb al-‘Aqîl, Penerbit Adh-waus-Salaf.
6. Tadwîn as-Sunnah an-Nabawiyyah, karya Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrâni, Penerbit Dârul- Khudhairi, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H / 1998 M.
7. Tafsîr Al-Qur`ânil-‘Azhîm, karya Imam Ibnu Katsîr.
8. Kitab-Kitab Hadits, dan lain-lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Dharûrat Ihtimâm bis-Sunnah Nabawiyyah, hlm. 29-34.
[2]. Yaitu bukan Al-Qur`ân, karena Al-Qur`ân dibaca pada waktu shalat dan merupakan mu’jizat, di mana Allah menantang orang yang meragukannya untuk membuat satu surat semisal Al-Qur’ân. Namun ini tidak berarti di dalam As-Sunnah tidak ada perkara luar biasa yang membuktikan kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah, Pen.
[3]. Taqrîr, artinya pengakuan. Maksudnya perbuatan atau perkataan sahabat yang tidak diingkari oleh Nabi n .
[4]. I’lâmul-Muwaqqi’in, 2/46.
Tafsîr Al-Qur`ânul ‘Azhîm, surat al-Baqarah/2 ayat 231.
[5]. Tafsîr Al-Qur`ânil ‘Azhîm, surat al-Ahzaab/33 ayat 34.
[6]. Ar-Risâlah, hlm. 32-33.
[7]. Tafsîr Al-Qur`ânil ‘Azhîm, surat al-Ahzaab/33 ayat 34.
[8]. Orang kafir yang ada perjanjian keamanan dengan kaum muslimin.
[9]. HR Abu Dawud, no. 4604. Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim dari al-Miqdam bin Ma’di Karib. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni.
[10]. ‘Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud. Lihat penjelasan hadits no.4604.
[110] Riwayat ad-Dârimi, no. 549. Al-Khathîb dalam al-Kifâyah, hlm. 48, dan lain-lain. Dinukil dari Tadwîn as-Sunnah an-Nabawiyyah, hlm. 22-23.
[12]. Yang dimaksudkan ialah baik dan buruk, yang karenanya mendapatkan pahala atau siksa, Pen.
[13]. Al-Hujjah fî Bayânil-Mahajjah, Juz. 1, hlm. 315. Dinukil dari Manhaj Imam Syafi’t t fî Its-bâtil- ‘Aqîdah, Juz. 1, hlm. 57-58.
[14]. Sebuah pembahasan dalam kitab Hujjiyyatus-Sunnah, hlm. 485-494. Dinukil dari Dharuuraat Ihtimaam bis-Sunnah Nabawwiyah, hlm. 24.
[15]. Hadits Shahiih li ghairihi. HR Maalik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam at-Ta’zhim wal-Minnah fil-Intisharis-Sunnah, hlm. 12-13.

Sumber: almanhaj.or.id

Selasa, 18 Oktober 2016

Kejayaan Islam, bagamana caranya?

Kejayaan Islam, bagamana caranya?


Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ,

Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini?


“ Wah, hari-hari gini masih bicara masalah Tauhid orang kan udah gak percaya lagi sama yang namanya dukun, klenik, tukang sihir, itu sih kepercayaan orang-orang tempoe doeloe.”

“ Jangan ketinggalan zaman, negara kuat itu dengan teknologi, lihat itu negara-negara maju! Janganlah banyak membicarakan tentang keyakinan, kepercayaan itu urusan pribadi.”

“Kalau perekonomian kuat, pasti negara kuat, negara kita itu ketinggalan jauh, jadi pengekor, karena memang negara ini negara miskin Intinya itu di duit.”

“Wahai umat Islam! Bangkitlah! Jangan mau jadi umat bawahan! Mari rebut tampuk kekuasaan! Ajari para pemuda bagaimana berpolitik agar mereka memiliki kesadaran politik yang tinggi!”

Tanggapan


  • Jika maksud ucapan yang pertama adalah bahwa seluruh umat Islam telah bertauhid dengan sempurna, pelanggaran tauhid sangatlah minim, oleh karena itu tinggalkan berbicara tentang tauhid, maka ini adalah pandangan yang menyelisihi kenyataan umat sekarang, bahkan menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam membina umat!
  • Jika maksud ucapan yang kedua adalah bahwa teknologi itu asas kemajuan umat Islam, maka ini tidak benar, pandangan ini menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi alaihimush shalatu was salam dalam meraih kejayaan umat. Walaupun memang tidak diragukan lagi teknologi itu penting, namun bukan perkara yang asasi (pokok kejayaan umat Islam).
  • Jika maksud ucapan yang ketiga adalah ekonomi adalah yang pertama dan utama dalam meraih kejayaan umat, maka inipun keliru dalam memandang hakikat kejayaan umat.
  • Jika maksud ucapan yang keempat adalah khilafah islamiyyah adalah tujuan dan perkara yang terpenting, maka hal ini sudah dijelaskan kesalahannya dalam artikel. Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah?

Hakikat kejayaan dengan ilmu Syar’i


Jika Anda memperhatikan ajaran Islam ini dengan baik, maka Anda akan dapatkan bahwa hakikat kejayaan umat Islam ini diraih dengan ilmu syar’i (yang diamalkan tentunya).

Oleh karena itu, di antara prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang terpenting adalah “Meraih kemuliaan dengan ilmu syar’i”. Prinsip inilah yang harus diperhatikan oleh para aktivis dakwah Islam, tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin negara, bahkan oleh seluruh kaum muslimin.

Betapa banyak kaum muslimin terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam yang menyerang kaum muslimin dari berbagai arah. Setiap kali musuh-musuh Islam berbuat makar dalam bidang tertentu, maka perhatian sebagian aktivis dakwah tertuju kepada melawan serangan tersebut dengan gerakan tandingan yang lebih kuat lagi atau minimalnya yang sebanding, tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at.

  • Ketika mereka menyusun makar dalam bidang ekonomi, dengan mensosialisasikan sistem ekonomi yang bertentangan dengan syari’at, maka sebagian da’i menandinginya dengan move-move ekonomi Syari’ah. 
  • Ketika mereka menyerang kaum muslimin dengan serangan teknologi, maka sebagaian kaum muslimin disibukkan menandinginya dengan teknologi yang semisalnya atau lebih tinggi. 
  • Ketika mereka nampak menguasai jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, maka tampillah partai-partai Islam mengerahkan segala daya upaya untuk merebut jabatan-jabatan ‘strategis’ tersebut!

Memang benar, semua usaha melawan serangan-serangan makar musuh-musuh Islam dalam berbagai bidang asal dilakukan sesuai dengan rambu-rambu Islam, bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan, tidak pula mengurangi, maka itu adalah suatu usaha yang wajib kita syukuri.

Permasalahannya


Ketika semua langkah-langkah dakwah tersebut di atas kurang diperhatikan, manhaj dakwah yang benar tidak diketahui, skala prioritas dakwah tak dipedulikan, serta kaidah pertimbangan maslahat dan mudharat dengan bimbingan ulama salafush shalih tidak digunakan -hakikatnya semua itu bersumber dari sangat kurangnya ilmu tentang mengenal Allah dan agama-Nya- maka ia akan terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam. Seolah dia berperang menghadapi musuh tanpa strategi yang tepat, bahkan justru termakan strategi musuh. Hal ini seperti mengobati penyakit tanpa mengetahui mana penyakit yang paling ganas dan mana penyakit yang ringan, serta tidak tahu bagaimana penganganan yang tepat.

Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar berkata,
“Prinsip (Ahlus Sunnah) keempat: Meraih kemuliaan dengan ilmu (agama Islam) Bab ini termasuk salah satu prinsip yang terpenting dari enam prinsip Ahlul Atsar karena tujuannya adalah menjelaskan pokok amal yang selayaknya mendasari seluruh langkah karena walaupun sebuah jama’ah (dakwah) mendapatkan aksi makar musuh yang menakutkan, yang mana kekuatan kekufuran dan kesesatan berusaha keras untuk melancarkan aksi tersebut, kemudian jama’ah dakwah tersebut memandang bahwa kejayaan umat akan kembali kepada mereka dengan sekedar menghadapi aksi musuh dengan aksi yang lebih kuat darinya, sehingga mereka mengerahkan seluruh sarana yang dimilikinya untuk menandingi musuh-musuh Islam, namun, di sisi lain ternyata, mereka teledor dalam memperhatikan ilmu syar’i dengan keteledoran yang mencolok. Padahal hakikat yang sesungguhnya bahwa walaupun mereka (jama’ah dakwah) telah menyusun gerakan dengan rapi, telah membaguskan strategi dan mengintensifkan aksi serta telah berusaha menjaga (umat) dari makar musuh, maka tetap saja tidak akan ditulis bagi mereka kemuliaan dan ketinggian derajat, sampai mendasari amal mereka di atas ilmu syar’i dan mengenal (dengan baik) kedudukan ilmu syar’i dan ahlinya (ulama), Allah Ta’ala berfirman ,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).


Nasihat Seorang Ulama Rabbani


Seorang mufti besar dunia, Syaikh Bin Baz rahimahullah, ketika berbicara tentang sebab kelemahan dan kemunduran kaum muslimin menjelaskan tentang pentingnya mendiagnosa akar masalah dengan tepat dan memberikan solusi yang sesuai dengannya, beliau berkata:

ﻓﺈﻥ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﺛﻢ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

“Sesungguhnya penyebutan penyakit dan obatnya (dengan tepat), hal itu merupakan sebab kesembuhan dan kesehatan yang terbesar”
Beliau juga mengatakan,

ﻭﺗﺮﺟﻊ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻭﺗﺴﻠﻴﻂ ﺍﻷﻋﺪﺍﺀ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﺐ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻭﻋﺎﻣﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﻋﻮﺍﻣﻞ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻭﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻫﻮ : ﺍﻟﺠﻬﻞ؛ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﻌﻮﺍﻗﺐ ﺍﻟﺘﻲ ﺍﺳﺘﻮﻟﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﺔ، ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﻠﻴﻼً ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ ﻏﺎﻟﺒﺎ

“Dan sebab-sebab kelemahan dan kemunduran serta berkuasanya musuh (atas kaum muslimin) sebenarnya kembali kepada satu sebab (saja), yang darinya lahirlah sebab-sebab yang banyak, berawal dari satu faktor pengaruh, lalu melahirkan faktor-faktor pengaruh lainnya yang banyak. Adapun sebab dan faktor pengaruh yang satu itu adalah kebodohan, yaitu tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik! Dan akibat buruknya menimpa mayoritas (manusia), maka (ketika itu) ilmu (agama Islam) menjadi sedikit dan kebodohan mendominasi”

ﻭﻋﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻧﺸﺄﺕ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻭﻋﻮﺍﻣﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺣﺐ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻛﺮﺍﻫﻴﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﺪﻡ ﺍﻹﻋﺪﺍﺩ ﻟﻠﻌﺪﻭ

“Kebodohan (terhadap Allah dan agama-Nya) inilah, terlahir berbagai sebab dan faktor pengaruh yang buruk berupa cinta dunia (yang berlebihan), membenci kematian, menelantarkan shalat dan mengikuti syahwat, tidak mempersiapkan diri menghadapi musuh”
Sampai perkataan beliau,

ﻭﻧﺸﺄ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺘﻔﺮﻕ ﻭﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻭﻋﺪﻡ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻻﺗﺤﺎﺩ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ . ﻓﻌﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺨﻄﻴﺮﺓ ﻭﺛﻤﺮﺍﺗﻬﺎ ﻭﻣﻮﺟﺒﺎﺗﻬﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

“Dan juga demikian, terlahirlah dari satu sebab itu (kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, pent.) perpecahan dan perselisihan, tidak merapatkan barisan, tak bersatu dan tak pula saling tolong-menolong. Dari sebab-sebab yang bahaya inilah, berikut buah pahit dan konsekuensinya, maka terjadilah apa yang terjadi berupa kelemahan dan kemunduran di hadapan musuh Islam dalam seluruh bidang kecuali bidang yang Allah kehendaki (tidak mengalami kelemahan dan kemunduran)”

Selanjutnya Syaikh Bin Baz rahimahullah menyebutkan dalil-dalil tentang kesimpulannya bahwa akar masalah kelemahan dan kemunduran umat Islam ini adalah kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, beliau berkata:

ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻫﻮ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﺤﻘﺎﺋﻖ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﻭﺍﻷﺧﺬ ﺑﻬﺎ – ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ : )) ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ (( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻊ ﺁﻳﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﻠﻬﺎ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﺒﺚ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺧﺒﺚ ﻋﻮﺍﻗﺒﻪ ﻭﻧﻬﺎﻳﺘﻪ

“Dan (dalil) yang menunjukkan bahwa sebab terbesar kelemahan dan kemunduran umat Islam adalah tidak mengenal Allah dan agama-Nya serta hakekat yang wajib dipegang dan diambil, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih”

( ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ )

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama ini kepadanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) , dan juga beberapa Ayat dan hadits yang menunjukkan kepada makna ini, semua dalil tersebut menunjukkan buruknya kebodohan dan keburukan akibat serta kesudahannya.

Jadi, dari beberapa penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas , dapat kita pahami sebab yang terpenting dan asas perbaikan masyarakat adalah mengenal Allah dan agama-Nya, bukan asal melawan makar musuh dengan tindakan dan perlawanan yang sepadan! karena apalah gunanya hal itu semua dilakukan jika diiringi menelantarkan sesuatu yang terbesar dalam Islam? Yaitu, menelantarkan ma’rifatullah (mengenal Allah), sehingga tidak mengenal hak-hak-Nya dan tidak mentauhidkan-Nya dengan baik. Oleh karena itu Syaikh Bin Baz rahimahullah juga mengatakan,

ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : } ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ { ﺇﻟﺦ، ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻭﺃﻋﺪﻭﺍ ﻟﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﻗﻮﺗﻬﻢ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻻ ﻳﺴﺘﻄﺎﻉ.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ )

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfaal:60) dan seterusnya. (Dalam Ayat ini) Allah tidak berfirman, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang sepadan dengan kekuatan mereka’ karena seperti itu terkadang sesuatu yang tidak mampu dilakukan.

Asalkan kaum muslimin benar dalam membangun keimanannya dan dalam memperbaiki diri mereka, dimulai dengan memperhatikan perkara yang terpenting kemudian sesudahnya dan sesudahnya, maka walaupun kekuatan fisik mereka tidak sepadan dengan kekuatan fisik musuh-musuh Islam, tetaplah Allah akan menolong mereka, karena kekuatan yang terpokok yaitu kekuatan iman (tauhid) mereka kokoh, ikhlas hatinya dan langkah mereka dalam memperbaiki diri benar (baca: dakwah mereka sesuai dengan As-Sunnah). Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian”
(Muhammad:7).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di
rahimahullah menafsirkan Ayat di atas,

ﻫﺬﺍ ﺃﻣﺮ ﻣﻨﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺪﻳﻨﻪ، ﻭﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺟﻬﺎﺩ ﺃﻋﺪﺍﺋﻪ، ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ، ﻧﺼﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺛﺒﺖ ﺃﻗﺪﺍﻣﻬﻢ

“Ini adalah perintah dai Allah Ta’ala kepada kaum mukminin agar menolong agama Allah dengan melaksanakan agama-Nya sebaik-baiknya, mengajak manusia kepada-Nya (berdakwah), berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mendasari semua itu dengan niat ikhlas mengharap bisa melihat wajah-Nya (saat berjumpa dengan-Nya, pent.). Jika mereka melakukan hal itu, niscaya Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.”

Demikian pula, dari penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa bukanlah yang terpenting dalam menyelesaikan problematika umat adalah asal mengobati penyakit umat setiap kali ditemukan penyakit tersebut tanpa memilih mana yang perlu diobati terlebih dahulu dan mana yang butuh untuk mendapatkan perhatian terbesar sebelum yang lainnya.

Yang benar adalah perkara yang terpenting dan mendasar dalam dakwah kita adalah apakah tindakan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam -khususnya orang yang paling mulia di antara mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Atau dengan kata lain, apakah manhaj (metodologi) dakwah kita sama dengan manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam?

Jika memang sama, maka tentunya akan menemukan akar masalah terbesar yang sama dalam menyelesaikan problematika umat di zaman ini, yaitu kebodohan, tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, hal itu berarti bahwa hakikat kejayaan dan kemuliaan umat Islam ini ada pada ilmu agama Islam, sebuah ilmu yang menjadi penuntun setiap langkah umat.

Allah akan menjadikan jaya dan mulia sebuah umat dan mengangkat derajat mereka jika mereka berilmu sehingga benar amal mereka, Allah berfirman,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).

Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

ﻧَﺮْﻓَﻊُ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﻣَﻦْ ﻧَﺸَﺎﺀُ

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki” (Yusuf:76), beliau berkata

ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ

(Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) dengan sebab ilmu (agama Allah)”

Guru beliau pun, ‘Allamah Zaid bin Aslam rahimahullah menafsirkannya,

ﺇﻧﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ

“Sesungguhnya (penyebab ditinggikannya derajat seseorang) adalah ilmu (agama Allah), Allah menninggikan derajat hamba yang Allah kehendaki di dunia”

Jadi, dikarenakan inti permasalahannya ada pada tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, maka pantas jika kunci dakwah seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah tauhid. Karena Tauhid merupakan bentuk mengenal Allah dan agama-Nya yang terbesar, ia adalah sebuah ajaran yang teragung dan paling mendasar dalam Islam.

Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bagaimana kedudukan tauhid dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam , “Tauhid kunci dakwah para Rasul”.

Nah, bagaimanakah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing? Ikuti kelanjutannya di artikel berikutnya. (Beginilah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing) .
***
Diolah dari http://www.binbaz.org.sa/node/8274 dan Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Dari Muslim.or.id

Senin, 10 Oktober 2016

Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?

Apakah anda tidak takut berbuat bidah

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat dari bid’ah itu demi kepentingan sebuah organisasi?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang bahaya bid’ah itu demi kepentingan sebuah partai politik?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang amalan-amalan bid’ah itu demi mendapatkan secuil harta dunia?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang jeleknya bid’ah itu demi mempertahankan tradisi nenek moyang?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang kerugian pelaku bid’ah itu agar dikenal sebagai orang alim yang paling pandai?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat agar meninggalkan bid’ah itu demi membela tokoh Fulan dan Allan?

Demi Allah, sama sekali tidak. Bahkan nyatanya para pelaris kebid’ahan lah yang memiliki tendensi-tendensi demikian. Dan sungguh, kita hendaknya enggan dan takut berbuat bid’ah karena takut kepada Allah Ta’ala .

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala menyatakan bahwa ajaran Islam sudah sempurna, tidak butuh penambahan. Membuat amalan-amalan ibadah baru sama saja dengan memberikan ‘catatan kaki’ pada firman Allah Ta’ala :

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ” (QS. Al Maidah: 3)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala melarang kita berselisih ketika Qur’an dan sunnah sudah sangat jelas dalam menjelaskan ajaran agama ini secara sempurna, dari masalah tauhid hingga adab buang air besar, sama sekali tidak perlu penambahan lagi. Allah
Ta’ala berfirman:

ﻭَﻻ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮﺍ ﻭَﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕُ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“ Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat ” (QS. Al Imran: 105)

Ash Shabuni berkata: “Maksud ayat ini adalah, janganlah berlaku seperti orang Yahudi dan Nasrani yang mereka berpecah-belah dalam masalah agama karena mengikuti hawa nafsu mereka padahal ayat-ayat yang datang kepada mereka sudah sangat jelas” (Shafwatut Tafasir , 202).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻓَﻠْﻴَﺤْﺬَﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻔُﻮﻥَ ﻋَﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻥْ ﺗُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﺃَﻭْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih ” (QS. An Nuur: 63)

Ketika Imam Malik ditanya tentang orang yang merasa bahwa ber-ihram sebelum miqat itu lebih bagus, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mensyari’atkan bahwa ihram dimulai dari miqat, maka Imam Malik pun berkata: “Ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan aku khawatir orang itu akan tertimpa fitnah di dunia dan adzab yang pedih sebagaimana dalam ayat.. (beliau menyebutkan ayat di atas)” ( Al I’tisham , 174).

Menjelaskan perkataan Imam Malik ini, Asy Syathibi berkata: “Fitnah yang dimaksud Imam Malik dalam menafsirkan ayat ini berhubungan dengan kebiasaan dan kaidah ahlul bid’ah, yaitu karena mengedepankan akal, mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah sebagai petunjuk bagi mereka” (Al I’tisham , 174).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Allah Ta’ala pun mengancam orang yang menyelisihi tuntunan Rasul-Nya dengan siksaan yang keras. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ

“ Apa yang datang dari Rasulullah, maka ambilah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya ” (QS. Al Hasyr: 7)

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang berbuat bid’ah. Tidak anda takut terhadap siksaan Allah yang keras karena melakukan yang dilarang Rasulullah?

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengancam neraka bagi hamba-Nya yang mengambil cara beragama bukan dari Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸَﺎﻗِﻖِ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﻳَﺘَّﺒِﻊْ ﻏَﻴْﺮَ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻧُﻮَﻟِّﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻮَﻟَّﻰ ﻭَﻧُﺼْﻠِﻪِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﺳَﺎﺀَﺕْ ﻣَﺼِﻴﺮًﺍ

“ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali ” (QS. An Nisa: 115)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud ayat ini, barang siapa yang menjalani cara beragama yang bukan berasal dari Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam maka ia telah menempatkan dirinya di suatu irisan (syiqq ), sedangkan syariat Islam di irisan yang lain. Itu ia lakukan setelah kebenaran telah jelas baginya” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 2/412)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mencela orang yang membuat-buat syari’at baru yang dalam agama dan menyebut orang-orang yang mengajarkan syari’at baru, lalu ditaati, sebagai sesembahan selain Allah. Sebagaimana perbuatan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman:

ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺫَﻥْ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞِ ﻟَﻘُﻀِﻲَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih ” (QS. Asy Syura: 21)

Ibnu Katsir berkata: “Mereka (orang-orang musyrik) tidak mengikuti apa yang telah disyariatkan Allah melalui agama Allah yang lurus ini. Bahkan mereka mengikuti syariat dari setan-setan yang berupa jin dan manusia. Mereka mengharamkan apa yang diharamkan oleh setan tersebut, yaitu bahiirah , saaibah , washilah dan haam. Mereka menghalalkan bangkai, darah dan judi, dan kesesatan serta kebatilan yang lain. Semua itu dibuat-buat secara bodoh oleh mereka, yaitu berupa penghalalan (yg haram), pengharaman (yang halal), ibadah-ibadah yang batil dan perkatan-perkataan yang rusak” ( Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 7/198)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah telah mencap sesat orang-orang yang ketika tuntunan Islam sudah ada, mereka malah mempunyai pilihan lain. Bisa jadi pilihan lain ini datang dari ustadz-nya, kiai -nya, syaikh -nya, dari akalnya, atau dari yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻠَﺎﻟًﺎ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ

“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata ” (QS. Al Ahzab: 36)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata: “Tidak layak bagi seorang mu’min dan mu’minah, jika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan tegas, lalu ia memiliki pilihan yang lain. Yaitu pilihan untuk melakukannya atau tidak, padahal ia sadar secara pasti bahwa Rasulullah itu lebih pantas diikuti dari pada dirinya. Maka hendaknya janganlah menjadikan hawa nafsu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah dan RasulNya” (Taisiir Kariimirrahman, 665)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengabarkan ada sebagian hamba-Nya yang berbuat kesesatan namun mereka merasa itu amalan kebaikan. Dan demikianlah bid’ah, tidak ada satupun pelaku bid’ah kecuali ia merasa amalan bid’ahnya itu adalah kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ

“ Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya ” (QS. Al Kahfi: 103-104)
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak ” ( Muttafaq ‘alaihi )

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar
Radhiallahu’anhu berkata:

ﻛُﻞَّ ﺑٍﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔ

“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik ” (Shahih, sebagaimana penilaian Al Albani dalam takhrij kitab Ishlaahul Masajid hal 13 milik Syaikh Jamaluddin Al Qashimi)

Tidakkah anda takut amalan-amalan yang anda anggap baik, padahal tidak ada tuntunannya dalam agama, kemudian anda mengamalkannya sampai berpeluh-peluh, ternyata hanya sia-sia belaka di hadapan Allah ? Oleh karena itu saudaraku, takutlah kepada Allah dan jauhi perbuatan bid’ah.

Penulis: Yulian Purnama

Sumber:
muslim.or.id

Sabtu, 08 Oktober 2016

Non Muslim itu Kafir

non muslim itu kafir

Kafir adalah orang yang beragama selain Islam. Inilah yang ditegaskan oleh syariat. Meski kelihatan sepele tetapi pemahaman dimasyarakat berbeda-beda. Semoga tulisan ini bisa memperjelas. (Adm)

Non Muslim itu Kafir


Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Selain Islam itu kafir. 


Ini prinsip akidah yang mesti dipahami oleh setiap muslim. Banyak ayat Al Quran yang membuktikan pernyataan di atas. Allah Ta’ala berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al Bayyinah: 1).

Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al Bayyinah: 6).

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Mereka dikatakan sejelek-jelek makhluk karena mereka mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya. Akhirnya mereka menuai kerugian di dunia dan akhirat.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menuturkan, “Orang Yahudi, Nashrani, dan kaum musyrikin adalah sejelek-jelek makhluk. Ini juga yang disebutkan dalam ayat lainnya,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al Anfal: 55).

Dalam ayat lainnya disebutkan pula,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23)

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). ” (QS. Al Anfal: 22-23).” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 283-284).

Al Qur’an itulah yang jadi peringatan bagi orang-orang kafir. Allah Ta’ala juga berfirman,

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya).” (QS. Al An’am: 19)

هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya.” (QS. Ibrahim: 52)

Ada sebuah riwayat dalam shahih Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini (yaitu Yahudi dan Nashrani), lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman pada wahyu yang aku diutus dengannya, kecuali ia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim dalam Al Iman 153, Musnad Ahmad bin Hambal 2: 317)

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nashrani, maka ia juga ikut kafir. Hal ini berdasarkan kaedah yang sudah digariskan para ulama,

مَنْ لَمْ يَكْفُر الكَافِرَ بَعْدَ إِقَامَةِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir setelah ditegakkan hujjah (penjelasan) baginya, maka ia kafir.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

—

Selesai disusun di pagi hari penuh berkah di Darush Sholihin, 19 Dzulhijjah 1435 H

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber:
rumaysho.com

Kamis, 06 Oktober 2016

Mengapa Islam Muncul di Mekah?

islam muncul di mekkah

Mengapa islam muncul di mekah? Bukankah masih banyak daerah lain? Mengapa yang dipilih mekah? Syukron..


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 latar belakang pertanyaan semacam ini disampaikan,

  • Pertama, dalam rangka menggugat ketetapan Allah Ta’ala

Bertanya dengan latar belakang semacam ini, pernah dilakukan orang musyrikin quraisy.

Allah ceritakan dalam al-Quran,

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآَنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Mereka berkata: “Mengapa al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”

Lalu dibantah oleh Allah di lanjutan ayat,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ

“Apakah mereka yang membagi rahmat dari Rabmu?” (QS. az-Zukhruf: 31-32)

Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, dan Dia yang paling berhak untuk memilih. Dia yang paling berhak menentukan, dimana Allah akan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. al-Qashas: 68)

Meskipun, jika Allah berkehendak, Dia mampu untuk mengutus rasul di semua daerah,

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

“Jika Aku menghendaki, Aku akan mengutus seorang rasul di setiap daerah.” (QS. al-Furqan: 51)

Namun Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya sang utusan-Nya.

Kemudian, pertanyaan yang diajukan orang musyrik, hakekatnya bukan pertanyaan karena menolak tempat. Tapi pertanyaan karena latar belakang menolak kebenaran. Sehingga, andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Yaman, mereka akan mempertanyakan, “Mengapa nabi di utus di Yaman, bukankah masih banyak tempat lainnya?” dan sinonim yang sama juga bisa terjadi ketika beliau diutus di Indonesia sekalipun.

Allah Memilih Karena Hikmah


Dan tentu saja, dalam memilih tempat kedatangan Rasul, Allah tentukan sesuai ilmu-Nya dan hikmah-Nya. Karena Allah tersucikan dari tindakan sia-sia, apalagi hanya untuk main-main.

Allah berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ( ) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (115) Maka Maha Tinggi Allah, Sang Raja al-Haq… (QS. al-Mukminun: 115-116)

  • Kedua, dalam rangka menggali hikmah mengapa Allah memilih Mekah sebagai tempat munculnya islam.


Banyak ketetapan Allah yang sebenarnya makhluk tidak memiliki kepentingan dengannya. Dalam arti, makhluk tahu maupun tidak tahu, sama sekali tidak menambah ketaqwaannya kepada Allah. Bisa jadi, pertanyaan yang hanya sebatas kepo untuk sesuatu yang tidak ada kepentingan dengannya, termasuk tindakan kurang beradab.

Karena itulah, kita tidak pernah menjumpai ada sahabat yang mempertanyakan hal ini. sementara mereka adalah manusia yang paling haus tentang ilmu agama. Dan mereka memiliki guru yang paling istimewa, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanggung jawab kita, bagaimana bisa bertemu Allah dengan selamat. Sementara alasan, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya dari Mekah, kita serahkan kepada Allah yang Maha Tahu,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. al-An’am: 124)

Meskipun bisa saja orang mencari hikmah di  balik diutusnya rasul, dengan tujuan untuk menguatkan iman.

Sebagian referensi menyebutkan beberapa hikmah besar, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah,

  • Pertama, orang mekah dikenal sebagai orang yang ummi, tidak bisa baca tulis. Termasuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri orang yang tidak bisa membaca dan menulis. 

Sementara kehadiran beliau membawa mukjizat terbesar, yaitu al-Quran. Sehingga, latar belakang beliau akan menepis anggapan bahwa al-Quran ditulis oleh Muhammad dan para sahabatnya.

  • Kedua, di masa jahiliyah, sudah ada kekuatan besar yang menjadi negara adidaya, romawi dan persia. 
Sementara jazirah arab jauh di selatan, terpisah dengan gurun mematikan dengan romawi dan persia.

Disamping jazirah arab sendiri tidak terlalu bisa diharapkan akan menghasilkan keuntungan dari sisi pertanian, sehingga romawi dan persi tidak ada nafsu untuk menaklukkanya.

Kondisi ini sangat menguntungkan dari sisi tantangan dakwah, karena islam datang di luar wilayah negara adikuasa, sehingga tidak mengalami tantangan dari penguasanya. Dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibaiat sebagai kepala negara Madinah, beliau berdiri di wilayah yang tidak masuk kekuasaan negara lain.

  • Ketiga, di kota Mekah ada ka’bah yang merupakan salah satu syiar islam, karena mengunjungi ka’bah bagian dari ajaran Ibrahim. 
Sehingga kehadiran beliau di Mekah sebagai tahap awal untuk pembersihan masjidil haram dari semua bentuk lambang kesyirikan.

Di samping itu, ka’bah menjadi pusat perhatian masyarakat di jazirah arab. Sehingga memudahkan Rasul untuk mendakwahkan mereka semua ketika mereka datang di kota Mekah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


Sumber: https://konsultasisyariah.com

Minggu, 02 Oktober 2016

Bila Dukun Berkedok Ustadz


 Bila dukun berkedok ustadz


Oleh: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Muqaddimah


Fenomena perdukunan di negeri ini sudah sangat mengenaskan. Operasi mereka sekarang pun sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi sudah terang-terangan bak matahari di siang hari.

Kian hari mereka semakin gencar menjajakan perdukunan syirik mereka melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, mulai televisi, koran, hingga internet tanpa tedeng aling-aling lagi.

Masyarakat pun semakin banyak yang terkecoh. Banyak di antara mereka yang silau pada dukun sebab banyak dukun sekarang yang bergaya ustadz, habib, dan kiai, sehingga banyak di antara masyarakat kita menggandrungi para dukun serta mengetuk pintu mereka:

  • Pejabat yang menginginkan kelanggengan kedudukannya…
  • Tokoh politik yang membidik kursi panas jabatannya…
  • Bos yang berhasrat disegani dan terlihat berwibawa di depan karyawannya…
  • Bawahan yang bercita-cita naik pangkatnya…
  • Pedagang yang mengharapkan kelancaran rezekinya…
  • Pengusaha yang berkeinginan untuk menjatuhkan saingan bisnisnya…
  • Remaja yang ingin mengintip masa depan ‘cintanya’…
  • Bujangan yang mengincar wanita idamannya…
  • Istri yang berharap suaminya tidak melirik ‘rumput tetangga’…
  • Rumah tangga yang bermimpi memiliki keturunan di tengah-tengah mereka…
  • Siswa sekolah yang menginginkan kelulusan dalam ujiannya…
  • Bahkan pelacur agar laris didatangi oleh pelanggannya… [1]

Banyak di antara mereka tergopoh-gopoh datang mengetuk pintu para dukun, menghiba bantuannya. Inilah sebuah fenomena nyata di tengah-tengah kita yang menunjukkan betapa menjamurnya dunia klenik dan perdukunan di negeri kita. Realita ini sungguh aneh tapi nyata.

Coba bayangkan, di zaman yang serba teknologi dan alat canggih ini ternyata klenik, mistik, dan perdukunan masih begitu lengket, bahkan pada tokoh-tokoh nasional dan pejabat tinggi.


Yang maju memang teknologinya, tetapi mental dan otaknya masih terbelakang.

Lantas, apa kira-kira faktor penyebab dan pemicu utama yang menjadikan mayoritas masyarakat kita kepincut dengan propaganda sesat dukun dan paranormal (baca: para-gaknormal)?!!

Faktor Larisnya Perdukunan di Indonesia


Ada beberapa faktor yang menjadikan perdukunan begitu marak di Indonesia, di antaranya adalah:

1. Latar belakang bangsa Indonesia yang masih mewarisi keyakinan melekat animisme dan dinamisme, atau hindu dan buddha, sehingga mudah sekali terpengaruh dengan adegan mistik dan dunia klenik, ditambah keislaman yang dianut kaum muslimin Indonesia bercorak tasawuf yang berpikir mistis dan esoteris.

2. Mereka tidak berpegang pada aqidah yang benar ditambah jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar serta ulama rabbaniyyun. Mereka masih jauh dari sentuhan tauhid yang murni dan ilmu yang benar.

3. Adanya beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh agama malah membela mati-matian dunia klenik dan perdukunan.

4. Kurang sabar dalam menerima ujian kemiskinan sehingga ingin hasil secara instan dan cepat saji.

5. Banyak kalangan pebisnis dan elit politik yang memanfaatkan jasa dukun untuk kelancaran usaha dan politiknya, sehingga mereka menjadi panutan orang-orang awam untuk mendatangi para dukun karena ngiler dengan kesuksesan dan keberhasilan mereka.

6. Jalan pintas untuk meraih kesuksesan ini dianggap paling mudah dan ringan, apalagi setelah melihat banyak bukti dan beragam cerita dari orang-orang yang berhasil dalam waktu yang singkat dengan memanfaatkan jasa dukun.

7. Pemerintah yang terkesan membiarkan bahkan cenderung mendukung praktik perdukunan, karena tidak ada sanksi tegas dan hukuman yang jelas buat mereka yang menyesatkan umat lewat dunia klenik dan perdukunan.

8. Salah kaprah dalam memandang sosok dukun atau kiai sakti. Mereka menjadikan orang pintar (baca: orang gak-pintar), paranormal (baca: para-gaknormal) sebagai tempat bertanya dan mencurahkan keluh kesah dan tempat bersandar serta bergantungnya layaknya seperti Tuhan, padahal tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan mudarat atau mengubah nasib kecuali hanya Allah semata.

9. Mayoritas masyarakat lebih percaya kepada wejangan dan titah dukun ketimbang para ulama yang memahami al-Qur‘an dan as-Sunnah. Orang ingin cepat mendapat jodoh, sembuh dari penyakit, cepat kaya, naik pangkat, semuanya datang kepada dukun. Seolah-olah mereka adalah serba bisa dan serba mampu mengatasi masalah. Semua itu mereka menganggap sebagai ikhtiar (usaha dan upaya), sehingga sering mereka menggunakan trik “Ini ‘kan hanya ikhtiar, yang menentukan ‘kan Tuhan”. Sebuah trik yang sangat efisien untuk memperdayai orang-orang bodoh. [2]

Definisi Dukun


Dukun ( kahin ) adalah orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib dan memberikan kabar kepada manusia tentang kejadian yang ada di alam semesta. Di kalangan orang-orang Arab dahulu banyak dukun yang mengklaim diri mengetahui banyak perkara gaib. [3]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “ Al-kahanah (perdukunan) ialah pekerjaan mengaku tahu tentang ilmu gaib seperti mengabarkan tentang apa yang akan terjadi di muka bumi dengan bersandar kepada sebab tertentu yang berasal dari informasi jin yang mencuri kabar langit dari perkataan malaikat kemudian hasilnya disampaikan ke telinga dukun.” [4]

Dalam praktiknya, para petualang dunia klenik dan dukun mempunyai aneka ragam sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah dan negara; ahli metafisika menurut ilmiahnya, paranormal menurut istilah media, dukun menurut istilah kampungnya, orang pintar menurut istilah orang bodohnya, kiai karomah menurut kaum ilmuwan Islamnya, orang tua menurut kaum abangan, kiai khos menurut istilah santrinya, atau wali berkaromah menurut istilah tasawufnya.

Nama boleh saja berbeda-beda, namun hakikatnya sama, sama-sama menyimpang dan merusak aqidah yang benar.

Tanda-Tanda Dukun


Agar masalah ini semakin jelas dan orang orang-orang awam tidak mudah terkecoh, maka perlu disampaikan secara detail ciri-ciri dukun sehingga kita bisa selamat dari tipu muslihat mereka. Tanda-tanda dukun yaitu:

1. Suka menanyakan nama pasien, tanggal lahir, dan nama orang tuanya.

2. Suka mengambil sesuatu yang bisa dipakai pasien, seperti baju, peci, sapu tangan, dan lain-lain.

3. Terkadang meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, kadang darahnya dioleskan kebagian-bagian tubuh yang sakit, atau dibuang ke sungai, laut, atau tempat angker.

4. Suka menulis rajah-rajah atau memberikan jimat-jimat.

5. Meminta pasien untuk membaca do’a-do’a atau mantra-mantra dalam waktu khusus dan jumlah tertentu.

6. Menyuruh pasien untuk memberikan sesaji berupa makanan atau minuman sebagai kelengkapan dari ritual yang harus dijalaninya.

7. Membaca mantra-mantra atau huruf rajah yang susah dipahami maknanya.

8. Memberikan bungkusan hijib atau tumbal kepada pasien yang berisi huruf dan angka-angka.

9. Kadang menyuruh untuk menjauhi manusia beberapa waktu dengan menyepi dan mengurung diri dalam kamar yang gelap yang disebut oleh orang awam sebagai hujbah , semedi, atau bertapa.

10. Kadang minta pasien untuk tidak menyentuh air selama beberapa hari, biasanya 40 hari.

11. Memberikan sesuatu kepada pasien untuk ditanam di dalam tanah.

12. Memberikan lembaran kertas kepada pasien untuk dibakar, lalu asapnya dipakai untuk mengasapi dirinya atau diseduh dalam air kemudian diminta untuk meminumnya.

13. Berkomat-kamit ketika membaca mantra atau do’a-do’a dengan bahasa yang tidak bisa dipahami.

14. Terkadang memberi tahu pasien tentang namanya, kampung halamannya, atau kesulitan yang dihadapi sebelum si pasien memberitahukannya.

15. Terkadang menuliskan huruf-huruf untuk si pasien di atas kertas hijib untuk dimasukkan ke dalam bejana putih berisi air, kemudian meminumnya. [5]


Dukun Hitam Dukun Putih


Seyogianya seorang muslim bersikap cerdas dalam menilai sesuatu. Hendaknya dia tidak mudah terkecoh dengan tipuan penampilan. Justru dia tetap menjadikan substansi sesuatu sebagai tolok ukur penilaian.

Dukun bukan hanya yang notabene beraliran hitam, yang biasanya ditandai dengan mengenakan belangkon atau ikat kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya.

Namun, termasuk mereka juga adalah yang menamakan diri “dukun putih”. Yang kedua ini kerap berbusana bak seorang wali, dengan serban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama! [6]

Sebagai dampak kebodohan umat terhadap agama Islam atau terlalu liciknya tipu muslihat seorang paranormal dalam menjalankan aksinya, dengan berkedok sebagai seorang ustadz, kiai, atau habib, atau praktik pengobatan, ritual kesesatan ini semakin tumbuh subur di tengah masyarakat.

Dengan menggunakan simbol-simbol dan amalan-amalan yang berbau Islam yang diambil dari ayat-ayat suci al-Qur‘an, kesesatan ritual mereka semakin tidak tampak.

Apalagi penampilan mereka terkesan begitu islami, misalkan dengan serban, gamis, dan berjenggot dan memenuhi ruang praktiknya dengan ayat-ayat al-Qur‘an atau tulisan Asma‘ul Husna yang dipajang di dinding, yang membuat orang awam semakin terkecoh dan tidak bisa mengelak, apalagi mengatakan bahwa pengobatan yang dilakukan si paranormal itu menyimpang, karena bacaan yang dibaca si pasien adalah lafal Islam, seperti: Bismillah, Allahu Akbar, dan sebagainya. “Bagaimana mungkin berlandaskan ayat-ayat al-Qur‘an dan tidak merugikan orang dikatakan menyimpang?” Begitu keyakinan mereka.

Ada banyak contoh ritual yang dipergunakan oleh paranormal yang berkedok sebagai ustadz, kiai, atau habib berkaromah, di antaranya adalah:

1. Terapi dengan amalan-amalan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari al-Qur‘an maupun sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Misalnya dengan membaca dzikir-dzikir aneh, seperti: membaca ayat-ayat surat al-Ikhlash dengan lafal kul kul kul…hu…hu hu hu… dan sebagainya dengan jumlah tertentu.

2. Terapi dengan menjalani ritual puasa, seperti puasa mutih , puasa 40 hari, puasa 100 hari, dan sebagainya.

3. Ritual memindahkan penyakit pasien kepada hewan ternak (kambing), ayam, telur ayam, dan sebagainya.

4. Memberi minuman air putih yang sudah dibacai mantra-mantra.

5. Memberikan rajah yang sudah ditulis di kertas atau di kain, yang dapat dikenakan atau dimasukkan dalam minuman atau diminum oleh pasien.

6. Memberikan jimat atau benda keramat, seperti: cincin, gelang, kalung, sabuk, susuk, dan sebagainya.

7. Transfer energi atau tenaga dalam disertai dengan dzikir dan amalan khusus.

8. Ruqyah jama’ah yang dilakukan oleh sebagian kelompok yang kurang paham tentang perbedaan sunnah dan bid’ah. [7]

Beda Dukun dan Sihir Dengan Karomah


Para dukun dan tukang sihir banyak yang menampakkan aksi-aksi luar biasa, yang disiarkan di media massa dan layar kaca yang disaksikan oleh banyak penonton setia. Sebagian orang karena kejahilan tentang agama menilai hal itu sebagai karomah padahal hal itu adalah sihir dan penipuan yang amat nyata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala bahwa, “Fitnah Dajjal itu tidaklah terbatas pada orang-orang yang hidup di zamannya saja, bahkan fitnah Dajjal yang sesungguhnya adalah setiap kebatilan dan penyimpangan terhadap syari’at yang dibarengi dengan keluarbiasaan. Barangsiapa percaya dengan kesesatan yang memiliki kedigdayaan tersebut maka dia terkena fitnah Dajjal. Fitnah jenis ini banyak sekali pada setiap waktu dan tempat. Namun, fitnah Dajjal yang diberitakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam banyak haditsnya adalah fitnah yang paling dahsyat.” [8]

Memang, antara karomah dan sihir ada kemiripan dari sisi sama-sama keluarbiasaan dan kedigdayaan. Namun, harus diingat bahwa kedigdayaan dan keluarbiasaan yang muncul pada seseorang tidak mesti menunjukkan kebaikan. Akan tetapi, kebaikan seseorang harus diukur dengan barometer syari’at.

Tidakkah engkau lihat bahwa Dajjal juga memiliki keluarbiasaan, tetapi apakah hal itu menunjukkan dia shalih dan baik?!! Jadi, dalam hal ini harus dibedakan antara karomah dan istidraj.

Karomah adalah keluarbiasaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Adapun kedigdayaan yang muncul dari orang yang menyimpang, penyihir, dan para Dajjal, maka hal itu disebut istidraj dan tipu daya Iblis.

Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala telah menyingkap kedok mereka:

ﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲْ ﺣَﺎﺗِﻢٍ : ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳُﻮْﻧُﺲُ ، ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠﺸَّﺎﻓِﻌِﻲِّ : ﺻَﺎﺣِﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚُ ﻳَﻘُﻮْﻝُ : ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺻَﺎﺣِﺐَ ﻫَﻮَﻯ ﻳَﻤْﺸِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪ ُ . ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺼَّﺮَ ، ﻟَﻮْ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﻟَﻤَﺎ ﻗَﺒِﻠْﺘُﻪُ

Ibnu Abi Hatim berkata: Menceritakan kepada kami Yunus: Aku berkata kepada Syafi’i: Kawan kita Laits mengatakan, “Seandainya saya melihat pengekor hawa nafsu berjalan di atas air, saya tidak akan menerimanya.” Syafi’i berkata, “Dia masih kurang, seandainya saya melihatnya dapat berjalan di udara, saya tidak akan menerimanya.” [9]

Alangkah indahnya ucapan seorang penyair:

ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺷَﺨْﺼًﺎ ﻗَﺪْ ﻳَﻄِﻴْﺮُ ﻭَﻓَﻮْﻕَ ﻣَﺎﺀِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻳَﺴِﻴْﺮُ
ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘِﻒْ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺪُﻭْﺩِ ﺍﻟﺸَّﺮْﻉِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣُﺴْﺘَﺪْﺭَﺝٌ ﺑِﺪْﻋِﻲْ

Bila engkau lihat seorang dapat terbang
Dan berjalan di atas lautan
Padahal dia tidak menaati undang-undang syari’at
Maka ketahuilah bahwa dia adalah ahli bid’ah yang dimanjakan.

Jadi, sehebat apa pun kejadian luar biasa yang dipertontonkan para dukun tidak bisa dikatakan sebagai karomah dan pelakunya tidak bisa dikatakan sebagai wali Allah, sebab banyak perbedaan antara sihir dan perdukunan dengan karomah:

1. Sihir dan perdukunan terjadi dengan bantuan setan, sedangkan karomah biasanya adalah kebetulan.

2. Sihir dan perdukunan itu dilakukan orang fasik, sedangkan karomah dari orang shalih yang konsisten dalam beragama.

3. Sihir dan perdukunan melakukan pelanggaran-pelanggaran syari’at berupa kekufuran dan kejahatan, sedangkan karomah tidak mungkin demikian. [10]


Bahaya Dukun dan Perdukunan [11]


Barangkali ada sebagian kalangan yang bertanya-tanya, mengapa Islam begitu ‘keras’ dalam hal ini? Toh, para dukun tersebut hanya ingin berbuat baik kepada sesama, dengan memberdayakan ‘daya linuwih’ yang dimiliki. Lantas apa salahnya?

Sebelum menjawab kebimbangan di atas, satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perbuatan tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya baik di dunia maupun akhirat walaupun—barangkali—perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingkan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.

Segala yang berbau perdukunan maupun praktik sihir memuat berbagai sisi negatif, di antaranya:

  • Pertama: Demi menjalankan aktivitasnya, para dukun melakukan ritual kesyirikan dan praktik kekufuran.
Seringkali para dukun dan tukang sihir bisa melakukan atraksi-atraksi ajaib yang mencengangkan. Orang yang beriman tidak akan mudah termakan karena ia tahu bahwa sejatinya mereka telah berkolaborasi dengan setan untuk melakukan atraksi tersebut.[12]

Sementara itu, setan tidak mungkin membantu para tukang sihir dalam hal itu, kecuali setelah mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut. [13] Semakin kufur atau syirik perbuatan yang dipersembahkan, semakin besar bantuan yang diberikan setan. [14]

Kenyataan ini bukanlah isapan jempol belaka atau fitnah murahan, melainkan fenomena tersebut diakui oleh para mantan dukun yang telah bertaubat. Mereka bersaksi bahwa untuk menggapai ‘kesaktian’ yang dimiliki, mereka diharuskan untuk melakukan kesyirikan dan kekufuran.

Ada yang mengatakan bahwa mereka dahulunya memohon bantuan kepada Iblis, ada yang tidak menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, ada yang menempelkan lembaran-lembaran mushaf al-Qur‘an di tembok WC, dan berbagai tindak kekufuran lainnya.[15]

Adanya kolaborasi para dukun dengan setan telah dijelaskan para ulama Islam sejak dahulu kala. Sebagaimana dipaparkan antara lain oleh Imam Syafi’i (w. 204 H) [16] , al-Baidhawi (w. 685 H) [17] , dan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H). [18]


  • Kedua: Tukang ramal dan paranormal telah menabrak salah satu prinsip dasar aqidah Islam, yakni keyakinan bahwa dzat yang mengetahui hal gaib hanyalah Allah Ta’ala.
Terlalu banyak fakta yang membuktikan bahwa para pelaku perdukunan telah mengklaim dirinya mengetahui hal-hal gaib. Salah satu contoh nyatanya, lihatlah apa yang bermunculan di media massa, elektronik maupun cetak, setiap datang penghujung tahun. Para dukun dan ‘spiritualis’ berlomba meramal kejadian tahun depan! Ini hanyalah satu contoh, dan masih banyak contoh lainnya yang senada. Bahkan ada pula yang berani meramal kapan datangnya hari Kiamat!

Padahal dalam al-Qur‘an, begitu gamblang dijelaskan bahwa pengetahuan tentang hal gaib hanyalah dimiliki Allah Tabaraka wa Ta’ala, Rabb semesta alam.

ﻗُﻞ ﻟَّﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦ ﻓِﻰ ﭐﻟﺴَّﻤَـٰﻮَٰﺕِ ﻭَﭐﻟْﺄَﺭْﺽِ ﭐﻟْﻐَﻴْﺐَ ﺇِﻟَّﺎ ﭐﻟﻠَّﻪُ ۚ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS an-Naml [27]: 65)

Dan masih banyak ayat lain serta hadits nabawi yang senada.

  • Ketiga: Pergi ke dukun dan paranormal membentuk mentalitas pemalas dalam diri seseorang.
“Pemikiran yang mistik mencerminkan mentalitas jalan pintas. Orang yang tidak mau kerja keras, tidak mau berencana, dan hanya mengharapkan solusi dengan cara gaib. Mistik membuat orang malas, tidak ulet, dan tidak bermental tangguh.” [19]

Islam menginginkan umatnya ulet, tangguh, rajin bekerja, bersungguh-sungguh dalam berusaha, serta tidak bergantung pada sesuatu yang fiktif dan terbuai dengan angan-angan kosong. Islam juga sangat membenci karakter pemalas. Karena itu, di antara do’a yang kerap dipanjatkan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻌَﺠْﺰِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺴَﻞِ، ﻭَﺍﻟْﺠُﺒْﻦِ ﻭَﺍﻟْﻬَﺮَﻡِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan kepada-Mu dari ketidakberdayaan, kemalasan, sifat pengecut, dan lanjut usia. Aku memohon perlindungan-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Serta aku memohon perlindungan-Mu dari adzab kubur.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu )


  • Keempat: Menjadi musuh dan selalu dicurigai masyarakat.
Dukun dan orang yang suka memakai jasanya akan selalu dicurigai dan dibenci oleh masyarakat umum. Terlebih lagi pada saat terjadi musibah yang menimpa seseorang dengan ciri-ciri yang tidak wajar, maka hal tersebut akan menimbulkan kecurigaan, dan seringkali tuduhannya diarahkan kepada para dukun dan orang yang menggunakan jasa dukun.

Akibatnya, sering kita jumpai sebagian masyarakat bertindak main hakim sendiri terhadap orang-orang yang dicurigai melakukan praktik perdukunan.

  • Kelima: Memotivasi orang untuk berbuat maksiat.
Cobalah renungkan dengan baik, bukankah orang tawuran agar menang meminta jimat dan ilmu kebal kepada dukun, wanita pelacur supaya laris meminta ilmu pengasihan kepada dukun, pencuri dan perampok agar lancar dalam menjalankan misinya diberi ajian sirep oleh dukun, dan bandar judi supaya lancar dan sukses bisnis terkutuknya datang kepada dukun, bahkan para dukun memberikan ramalan nomor togel kepada orang-orang awam.

  • Keenam: Perdukunan menzalimi orang lain.
Seringkali dukun menyakiti orang lain dengan santet, teluh, pelet, jengges , dan sejenisnya atau mengguna-gunai orang sehingga hidupnya hancur. Jelas ini adalah kezaliman yang tidak akan Allah biarkan begitu saja.

  • Ketujuh: Praktik perdukunan adalah usaha yang membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat.
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam haditsnya:

ﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊَ ﺍﻟْﻤُﻮﺑِﻘَﺎﺕِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻦَّ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺴِّﺤْﺮُ ﻭَﻗَﺘْﻞُ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻭَﺃَﻛْﻞُ ﻣَﺎﻝِ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴﻢِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻮَﻟِّﻲ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺰَّﺣْﻒِ ﻭَﻗَﺬْﻑُ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠَﺎﺕِ

“Hindarilah tujuh perkara yang menghancurkan.” Mereka bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Syirik (menyekutukan Allah), sihir[20] , membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang haq, memakan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukminah yang terjaga dari dosa dan tidak tahu menahu tentangnya.” (HR al-Bukhari: 2615 dan Muslim: 258)

  • Kedelapan: Dukun memperolok-olok agama Allah.
Di antara dukun ada yang menulis al Qur‘an dengan kotoran manusia atau darah haid, ada pula yang menjadikannya sebagai alas kaki ketika buang hajat, menduduki al-Qur‘an, atau menulis salah satu surat al-Qur‘an dengan cara terbalik seperti mantra yang dikenal dengan mantra Qulhu sungsang (surat al-Ikhlash dibaca secara terbalik).


Kalau orang yang mengolok-olok simbol Islam atau menghina ajaran al-Qur‘an masuk dalam kekufuran, maka bagaimana dengan dukun yang melakukan demo penghinaan dibiarkan dan tidak dianggap melakukan perbuatan kufur?!

 Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS at-Taubah [9]: 65–66)

  • Kesembilan: Mendatangi dukun dan mempercayainya termasuk kekufuran terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pernyataan:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﺃَﻭْ ﺳَﺎﺣِﺮﺍً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻝُ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” [21]

Hukum Mendatangi Dukun


Sungguh sangat disayangkan, banyak di antara umat Islam berbondong-bondong datang ke dukun untuk mengadukan berbagai macam masalah problem hidup mereka, padahal sejak empat belas abad lalu, panutan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan dengan tegas:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﺮَّﺍﻓًﺎ ﻓَﺴَﺄَﻟَﻪُ ﻋَﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ؛ ﻟَﻢْ ﺗُﻘْﺒَﻞْ ﻟَﻪُ ﺻَﻠَﺎﺓٌ ﺃَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﻟَﻴْﻠَﺔً

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu ia bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR Muslim 4/1751 no. 2230 dari sebagian istri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam )

Hadits lain memberikan pernyataan yang lebih keras lagi:

ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﻛَﺎﻫِﻨًﺎ ﺃَﻭْ ﺳَﺎﺣِﺮﺍً ﻓَﺼَﺪَّﻗَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻝُ؛ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” [22]

Hadits-hadits di atas sangat jelas menunjukkan larangan perdukunan dan mendatangi serta membenarkan dukun, bahkan ancamannya sangat berat. Oleh karenanya, para ulama sepakat bahwa perdukunan dan sihir adalah haram dan dosa besar dengan kesepakatan ulama. Ibnu Qudamah Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Mempelajari sihir dan mengajarkannya hukumnya haram. Kami tidak mendapati perselisihan pendapat di kalangan ulama.” [23] Hal senada juga disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. [24]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Adapun mendatangi peramal, dukun, paranormal, dan sejenisnya dari orang-orang yang mengaku mengetahui hal gaib, maka hukumnya adalah haram dan merupakan kemungkaran yang tidak boleh. Membenarkannya lebih mungkar lagi bahkan termasuk cabang kekufuran.”

Kemudian beliau membawakan beberapa hadits di atas lalu kata beliau, “Hadits-hadits serupa banyak sekali. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk waspada dan tidak bertanya kepada para dukun, peramal, dan sejenisnya yang menipu kaum muslimin, dengan nama apa pun baik dengan nama pengobatan alternatif atau lainnya dari nama-nama yang semu.” [25]

Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Ketahuilah bahwa perdukunan dan mendatangi para dukun serta mempelajari perdukunan, meramal bintang, meramal dengan kerikil atau rambut, semua itu hukumnya haram dan mengambil upahnya haram berdasarkan nash yang shahih.” [26]

Berikut ini kami nukilkan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat berkenaan dengan permasalahan di atas, yang diputuskan pada Musyawarah Nasional MUI VII:

Fatwa tentang Perdukunan ( Kahânah ) dan Peramalan (’Irâfah )


1. Segala bentuk praktek perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) hukumnya haram.

2. Mempublikasikan praktek perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) dalam bentuk apa pun hukumnya haram.

3. Memanfaatkan, menggunakan dan/atau mempercayai segala praktik perdukunan ( kahânah) dan peramalan (’irâfah ) hukumnya haram. [27]

Fatwa telah diputuskan. Tinggal komitmen kita sebagai umat Islam di negeri ini mematuhi dan menaati keputusan yang dibuat forum tertinggi umat Islam di negeri ini. Jangan sampai keputusan komisi fatwa itu hilang maknanya, lantaran ketidakseriusan kita sendiri sebagai umat Islam untuk menyebarkan dan menerangkannya kepada masyarakat. [28]

Jihad Melawan Perdukunan


Merupakan tugas bagi setiap kita semua untuk bersama-sama berjuang membasmi segala praktek perdukunan, sihir dan apapun bentuknya karena merusak agama, harta, kesehatan dan akal.

Al-Qurthubi mengatakan: “Wajib bagi setiap orang yang mampu, baik dai atau lainnya untuk mengingkari orang yang melakukan perbuatan perdukunan di pasar dan mengingkari dengan keras terhadap siapa saja yang mendatangi dukun. Janganlah kita tertipu dengan berita mereka atau julukan mereka sebagai ahli ilmu. Sebab, sebenarnya mereka bukanlah ahli ilmu tetapi orang yang bodoh, karena mereka masih melakukan perbuatan terlarang.” [29]

Berikut beberapa langkah untuk jihad melawan perdukunan:

1. Menjelaskan bahaya sihir dan perdukunan terhadap aqidah serta ancaman bagi yang mendatangi para dukun.

2. Membongkar kedok para tukang sihir dan dukun serta menguak kebohongan dan penipuan mereka.

3. Memperkokoh ilmu syar’i serta menyebarkannya dengan berbagai sarana modern baik cetak maupun layar kaca, lewat lisan dan tulisan.

4. Mendukung kegiatan-kegiatan yang memperkokoh keimanan.

5. Peran para guru, ustadz, da’i, dan kiai dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang masalah ini.

6. Menyebarkan fatwa-fatwa majelis ulama yang resmi dan diakui seputar masalah ini, termasuk dalam hal ini fatwa MUI.

7. Memperkokoh aqidah dan tawakal yang kuat bahwa hanya Allah yang mengatur alam semesta dan mengetahui hal-hal gaib.

8. Menangkap dan menghukum para tukang sihir sehingga membuat mereka jera.

9. Memberikan nasihat dan teguran kepada media-media yang menayangkan atau mempromosikan sihir dan perdukunan. [30]

Perlu diketahui bahwa sihir dan perdukunan itu merebak pada zaman dan tempat yang penuh dengan kejahilan dan jauhnya manusia dari agama Allah, manakala manusia dalam kondisi sangat lemah aqidah dan imannya kepada Allah sehingga bergantung kepada para dukun dan tukang sihir.

Dari sini, kami menyeru kepada para ustadz, para juru dakwah, dan penuntut ilmu agama Islam: “Marilah kita bersama-sama menegakkan dakwah tauhid, memperkokoh tauhid yang murni di hati masyarakat sehingga mereka hanya bergantung dan meminta pertolongan kepada Allah semata serta membongkar kedok para dukun tersebut dan menyingkap kebohongan mereka. Sungguh ini adalah tanggung jawab yang ada di pundak setiap para dai di negeri ini.”

Dan kepada para pemerintah negeri ini, hendaknya mereka memburu dan menangkap para dukun yang merusak itu serta memberikan hukuman kepada mereka, tentunya setelah proses dan penyelidikan kebenaran bahwa mereka betul-betul melakukan kasus perdukunan tersebut.[31] Sungguh, hukuman bagi dukun dan tukang sihir dalam Islam sangat keras. [32]

Imam Ahmad Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Telah shahih dari tiga sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hukuman tukang sihir adalah dibunuh.” Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama karena dia dianggap murtad dan kafir. [33] Dan jika sihirnya sampai derajat menewaskan korban maka tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa dia dihukum mati ( qishash ) dan hukuman membuat murtad dan membuat kerusakan bagi ulama yang mengafirkan. [34]

Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi Rahimahullahu Ta’ala , “Mereka yang melakukan perbuatan yang keluar dari al-Kitab dan Sunnah yang shahih bermacam-macam, di antara mereka adalah tukang pendusta dan penipu yang sebagian mereka menampakkan kepatuhan jin kepadanya, atau kalangan supernatural yang mengaku tahu kegaiban dari kalangan para penganut tarekat yang gemar menipu. Oleh karena itu, mereka berhak menerima hukuman berat yang membuat mereka dan orang-orang sejenisnya jera untuk melakukan manipulasi.

Bahkan di antara mereka sudah ada yang pantas dihukum mati seperti yang mengaku nabi dengan atraksi sulapnya yang penuh khurafat atau bertujuan mengubah syari’at.” [35]

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar mengokohkan aqidah dan iman kita serta menjauhkan kita semua dari kejahatan dan keburukan sihir dan perdukunan. Dan kita memohon kepada Allah agar memberikan petunjuk kepada para dukun untuk segera bertaubat, sebagaimana kita memohon kepada Allah agar memberikan kekuatan kepada pemimpin kita untuk memburu dan menghukum para dukun dengan seberat-beratnya sehingga membuat lainnya jera.


[1] “Perdukunan, No Way”, makalah Khutbah Jum’at Ustadz Abdullah Zaen, dimuat di Majalah kita Al Furqon edisi 116.
[2] Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 99–101 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin. Tulisan kami ini banyak mengambil faedah dari buku tersebut dengan beberapa tambahan dari referensi lainnya. Kami sarankan kepada pembaca untuk menelaah buku beliau tersebut karena sangat penting dan bagus dalam masalah ini. Wallahu A’lam.
[3] Ma’alimu Sunan 3/501 oleh al-Khathabi
[4] Fathul Bari 10/243–244
[5] Lihat ash-Sharim al-Battar hlm. 77–78 karya Wahid Abdussalam Bali, Biladul Haramain wal Mauqif Sharim minas Sihri wa Saharah hlm. 23–25 oleh Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar, as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 95 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, Fathul Haqqil Mubin hlm. 130–131 oleh Dr. Abdullah ath-Thayyar dan Sami al-Mubarak.
[6] Pembahasan lebih lanjut baca di buku Dukun Hitam Dukun Putih – Menguak Rahasia Kehebatan Sekutu Setan , karya Abu Umar Abdillah.
[7] Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 108–109 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin
[8] Bughyatul Murtab hlm. 483 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Fitnah Dajjal hlm. 30 oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.
[9] Siyar A’lam Nubala‘ 3/3282 oleh adz-Dzahabi
[10] Lihat Fathul Bari 10/223 oleh Ibnu Hajar, al-Furqan Baina Auliya‘ ar-Rahman wa Auliya‘ asy-Syaithan hlm. 61–64 oleh Ibnu Taimiyyah, Karamatul Auliya‘ , Dirasah Aqadiyyah hlm. 237–245 oleh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-’Anqari.
[11] Dinukil dari “Perdukunan, No Way”, makalah Khutbah Jum’at Ustadz Abdullah Zaen, dimuat di Majalah Al Furqon edisi 116 dan Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah hlm. 139–148 oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin.
[12] Lihat Kitab an-Nubuwwat karya Ibnu Taimiyyah 2/830–831.
[13] Lihat al-Furqan Baina Auliya‘ ar-Rahman wa Auliya‘ asy-Syaithan karya Ibnu Taimiyyah hlm. 331–332.
[14] Lihat at-Tafsir al-Qayyim hlm. 581.
[15] Lihat Majalah Ghoib , edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hlm. 12–14, 17, 19, 20, 22, 43), edisi 32 (hlm. 5), edisi 56 (hlm. 11), edisi 70 (hlm. 8).
[16] Lihat Tafsir al-Qurthubi 2/274.
[17] Lihat Tafsir al-Baidhawi hlm. 21.
[18] Lihat Fathul Bari 10/222.
[19] Perkataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana dalam buku Harus Bisa – Seni Memimpin ala SBY karya Dr. Dino Patti Djalal hlm.127.
[20] Perdukunan masuk dalam kategori hukum sihir karena sama-sama mengabarkan hal yang samar bagi yang lain, mengaku ilmu gaib seperti tukang sihir, sama-sama khurafat dan bergantung kepada selain Allah. (Lihat as-Sihru Bainal Haqiqah wal Khayal hlm. 176 oleh Dr. Ahmad al-Hamd, as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 12 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.)
[21] HR al-Bazzar 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir -nya 1/393 dan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956
[22] HR al-Bazzar 5/315 no. 1931 dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu dan sanadnya dinilai shahih oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir -nya 1/393 dan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2/956
[23] Al-Mughni 8/151
[24] Fathul Bari 10/224
[25] Iqamatul Barahin ’ala Man Istaghatsa bi Ghairillahi Au Shaddaqa Kahanah wal Arrafin hlm. 34–35
[26] Raudhah Thalibin 9/346
[27] Himpunan Fatwa MUI hlm. 91, edisi ketiga 2010
[28] Majalah Ghoib edisi 66 hlm. 44
[29] Al-Jami’ li Ahkamil Qur‘an 2/44
[30] Dari seminar “Sihir dan Perdukunan Modern Gaya Baru” di Kuliah Syari’ah wa Ushuluddin di Universitas Qashim 17/5/1428 H, sebagaimana dalam as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 96–97 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[31] Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 2/763 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, Biladul Haramain Syarifain wal Mauqif Sharim minas Sihri was Saharah hlm. 54–57 oleh Dr. Abdullah ath-Thayyar.
[32] Sungguh mengherankan sekali. Beberapa saat lalu ada Rancangan Undang-Undang tentang sihir dll., padahal di negeri ini telah subur dan banyak kasus sihir dan perdukunan yang telah meresahkan masyarakat sejak dahulu kala. Kenapa sampai sekarang belum ada Undang-Undang, padahal korban sudah banyak sekali?!!
[33] Tafsir al-Qur‘anil Azhim 1/144 oleh Ibnu Katsir
[34] Lihat secara lebih detail dalam as-Sihru Bainal Madhi wal Hadhir hlm. 29 oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.
[35] Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 2/763–764 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi

Sumber:
abiubaidah.com

Baca juga tulisan lainnya DISINI