Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

ADAB-ADAB KEPADA ORANG KAFIR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul dengan membawa agama yang haq, untuk membimbing manusia menuju cara beribadah yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut para rasul itu sebagai orang-orang Muslim. Maknanya, orang yang menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Allah Azza wa Jalla. Itulah arti Islam secara umum. Yaitu semua agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul semenjak Nabi Nuh Alaihissallam sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun secara khusus, Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Azza wa Jalla. Dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, Allah Azza wa Jalla menghapus seluruh agama dan syariat sebelumnya. Maka, orang yang mendapati agama ini, namun tidak memeluknya, maka dia kafir.

Agama Islam adalah agama yang haq dan adil, mengajarkan cara-cara bermuamalah dengan seluruh jenis manusia, termasuk mengajarkan sikap seorang Muslim kepada orang-orang kafir. 

Di sini kami akan menyampaikan beberapa adab kepada orang kafir. Penjelasan ini merujuk padas penjelasan Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri dalam kitab Minhâjul Muslim, dan kitab-kitab ulama lainnya.

Seorang Muslim meyakini bahwa seluruh agama selain agama Islam itu batil dan pemeluknya kafir. Allah Ta’ala berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imrân/3: 19]

Dan firmanNya:

ﻭَﻣَﻦ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imrân/3: 85]

Juga firman-Nya:

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [al-Mâidah/5: 3]
Adab kepada orang kafir

Dengan berita-berita dari Allah Azza wa Jalla ini, seorang Muslim mengetahui bahwa semua agama sebelum Islam telah dihapus dan Islam menjadi agama semua manusia. Sehingga Allah tidak akan menerima agama kecuali Islam, juga tidak ridha dengan syariat selain syariat Islam. Dari sini seorang Muslim meyakini bahwa setiap orang yang tidak tunduk kepada Allah dengan menganut Islam, maka dia kafir yang harus disikapi dengan sikap yang telah ditentukan syariat. Di antaranya, sebagai berikut :

  • Tidak menyetujui keberadaannya di atas kekufuran dan tidak ridha terhadap kekufuran. Karena ridha terhadap kekufuran merupakan salah satu kekufuran.


  • Membenci orang kafir karena Allah Azza wa Jalla juga benci kepadanya. Karena dalam Islam, cinta itu karena Allah, begitu juga benci karena Allah. Oleh karena itu, selama Allah Azza wa Jalla membenci orang kafir karena kekufurannya, maka seorang Mukmin harus juga membenci orang kafir tersebut.



  • Tidak memberikan wala’ (kedekatan; loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :


ﻟَّﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﻣِﻦ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab; pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. [Ali ‘Imrân/3: 28]

Dan firman-Nya:

ﻟَّﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻳُﻮَﺍﺩُّﻭﻥَ ﻣَﻦْ ﺣَﺎﺩَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺁﺑَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻬُﻢْ ﺃَﻭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻬُﻢْ

Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang yang menentang itu asdalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [al-Mujâdilah/58: 22]


  • Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir muhârib (orang kafir yang memerangi kaum Muslimin). Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :


ﻟَّﺎ ﻳَﻨْﻬَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻢْ ﻳُﻘَﺎﺗِﻠُﻮﻛُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻛُﻢ ﻣِّﻦ ﺩِﻳَﺎﺭِﻛُﻢْ ﺃَﻥ ﺗَﺒَﺮُّﻭﻫُﻢْ ﻭَﺗُﻘْﺴِﻄُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻘْﺴِﻄِﻴﻦَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [al-Mumtahanah/60: 8]

Ayat yang mulia lagi muhkam (ayat yang maknanya jelas-red) ini membolehkan bersikap adil dan berbuat baik kepada orang-orang kafir, kecuali orang-orang kafir muhârib (orang-orang kafir yang memerangi umat Islam). Karena Islam memberikan sikap khusus terhadap orang-orang kafir muhârib.


  • Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar; memberi minum jika haus; mengobatinya jika sakit; menyelamatkannya dari kebinasaan; dan tidak mengganggunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


ﺍﺭْﺣَﻤُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻳَﺮْﺣَﻤْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ

Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas langit akan mengasihi kamu. [HR. at-Tirmidzi, no. 1924]


  • Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatan, selama dia bukan kafir muhârib. Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, berdasarkan hadits qudsi berikut ini :


ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺫَﺭٍّ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﻋَﻦْ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﺇِﻧِّﻲ ﺣَﺮَّﻣْﺖُ ﺍﻟﻈُّﻠْﻢَ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻭَﺟَﻌَﻠْﺘُﻪُ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣُﺤَﺮَّﻣًﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻈَﺎﻟَﻤُﻮﺍ

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sesuatu yang diharamkan di tengah kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi”. [HR. Muslim, no. 2577]


  • Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya serta diperbolehkan memakan daging sembelihan ahli kitab. Allah Azza wa Jalla berfirman :


ﻭَﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺣِﻞٌّ ﻟَّﻜُﻢْ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu. [al-Mâidah/5: 5]


  • Tidak boleh menikahkan wanita Muslimah dengan laki-laki kafir (walaupun lelaki ini Ahli kitab-pent). Dan laki-laki Muslim tidak boleh menikahi wanita kafir, kecuali wanita Ahli kitab.


Tentang larangan menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki kafir, Allah Azza wa Jalla berfirman:

ﻟَﺎ ﻫُﻦَّ ﺣِﻞٌّ ﻟَّﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤِﻠُّﻮﻥَ ﻟَﻬُﻦَّ

Mereka (perempuan-perempuan yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. [al-Mumtahanah/60: 10]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman :

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛَﺎﺕِ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳُﺆْﻣِﻦَّ ۚ ﻭَﻟَﺄَﻣَﺔٌ ﻣُّﺆْﻣِﻨَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻦ ﻣُّﺸْﺮِﻛَﺔٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻋْﺠَﺒَﺘْﻜُﻢْ ۗ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻨﻜِﺤُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ۚ ﻭَﻟَﻌَﺒْﺪٌ ﻣُّﺆْﻣِﻦٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻦ ﻣُّﺸْﺮِﻙٍ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻋْﺠَﺒَﻜُﻢْ ۗ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ۖ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِ ۖ ﻭَﻳُﺒَﻴِّﻦُ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺘَﺬَﻛَّﺮُﻭﻥَ

”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. [al-Baqarah/2: 221]

Sedangkan tentang bolehnya menikahi wanita Ahli kitab, Allah Azza wa Jalla berfirman :

ﻭَﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺁﺗَﻴْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻦَّ ﻣُﺤْﺼِﻨِﻴﻦَ ﻏَﻴْﺮَ ﻣُﺴَﺎﻓِﺤِﻴﻦَ ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺘَّﺨِﺬِﻱ ﺃَﺧْﺪَﺍﻥٍ

(Dan dihalalkan mangawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka, dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. [al-Mâidah/5: 5]


  • Tidak mendahului orang kafir dalam mengucap salam. Jika orang kafir tersebut mengucapkan salam terlebih dahulu, maka cukup dijawab dengan ”Wa ‘Alaikum”.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ

Jika salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan ”Wa ‘Alaikum. [HR. Ibnu Mâjah, no. 3697; dishahîhkan oleh al-Albâni]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ﻟَﺎ ﺗَﺒْﺪَﺀُﻭﺍ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯ ﺑِﺎﻟﺴَّﻠَﺎﻡِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺘُﻢْ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻃَﺮِﻳﻖٍ ﻓَﺎﺿْﻄَﺮُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺿْﻴَﻘِﻪِ

Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nashâra. Dan jika kamu menemui salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah ia ke jalan yang paling sempit/pinggir. [HR. Muslim, no. 2167]

Dalam penjelasan tentang makna hadits ini, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Para sahabat kami mengatakan, orang kafir dzimmi tidak dibiarkan berjalan di tengah jalan, namun dia didesak ke pinggirnya jika umat Islam melewati jalan tersebut. Namun jika jalan itu sepi, tidak berdesakan (di jalan itu) maka tidak mengapa”.


  • Kaum Muslimin harus menyelisihi orang kafir dan tidak boleh melakukan tasyabbuh (menyerupai) dengannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka. [HR. Abu Dawud, no. 4031]

Tasyabbuh artinya menyerupai atau meniru. Tasyabbuh dengan orang kafir yang terlarang adalah meniru atau menyerupai orang kafir dalam masalah keyakinan, ibadah, kebiasaan, atau model-model perilaku yang merupakan ciri khas mereka. Demikian keterangan Syaikh Dr. Nâshir bin Abdul Karîm al-‘Aql dalam dalam kitab beliau : “Man Tasyabbaha Bi Qaumin Fahuwa Minhum”, hlm. 5.

Inilah beberapa adab berkaitan dengan orang-orang kafir. Lewat paparan singkat ini, kita dapat mengetahui sikap adil yang diajarkan agama Islam dalam menyikapi orang-orang kafir secara umum. Wallahu a’lam bisshawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber almanhaj.or.id

Sabtu, 05 November 2016

Jangan sedih, Allah bersama kita !

Jangan sedih, Allah bersama kita !

(Menyikapi Penyerangan Koalisi Syi'ah & Komunis)
(Khutbah Jum'at Mesjid Nabawi 26/12/1436 H – 8/10/2015 M)
Asy-Syaikh Doktor Abdul Baari Ats-Tsubaiti hafizohullah

Khutbah Pertama:


Alhamdulillah segala puji bagi Allah semata, sholawat dan salam semoga tercurahkan peda nabi yang terakhir, dan kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba'du.


Allah ta'aala telah menciptakan nenek moyang kita Adam 'alaihis salam, lalu setan pun memusuhinya dan berbuat makar kepadanya untuk menyesatkannya. Para rasul telah menghadapi berbagai macam makar dan tipu daya, diadakan konspirasi untuk mencelakakan para rasul.

Yusuf 'alaihis salam saudara-saudaranya telah berbuat makar kepadanya, maka iapun bersabar atas gangguan mereka. Maka Allah berfirman tentang Yusuf :

ﺇِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﻭَﻳَﺼْﺒِﺮْ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﻀِﻴﻊُ ﺃَﺟْﺮَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ

Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (QS Yusuf : 90)

Nabi Ibrahim 'alaihis salam dikumpulkan kayu bakar dan dinyalakan api baginya, lalu beliau dilemparkan ke dalam api tersebut, maka jadilah api dingin dan keselamatan, dan hancurlah makar mereka sebagaimana firman Allah:

ﻭَﺃَﺭَﺍﺩُﻭﺍ ﺑِﻪِ ﻛَﻴْﺪًﺍ ﻓَﺠَﻌَﻠْﻨَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi (QS Al-Anbiyaa' : 70)

Nabi Isa 'alaihis salam, kaumnya berbuat makar dan tipu daya kepadanya untuk membunuhnya dan menyalibnya, maka Allah pun menyelamatkan beliau dari kejahatan mereka.

Mereka berbuat makar kepada Nabi Musa 'alaihis salam, maka Allah berfirman :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺻَﻨَﻌُﻮﺍ ﻛَﻴْﺪُ ﺳَﺎﺣِﺮٍ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻔْﻠِﺢُ ﺍﻟﺴَّﺎﺣِﺮُ ﺣَﻴْﺚُ ﺃَﺗَﻰ

"Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang" (QS Thoha : 69)

Dan pasukan Abrahah berbuat makar untuk menghancurkan Ka'bah maka Allah hancurkan makar mereka:

ﺃَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻛَﻴْﺪَﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺗَﻀْﻠِﻴﻞٍ ‏( 2 ‏) ﻭَﺃَﺭْﺳَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻃَﻴْﺮًﺍ ﺃَﺑَﺎﺑِﻴﻞَ ‏( 3 ‏) ﺗَﺮْﻣِﻴﻬِﻢْ ﺑِﺤِﺠَﺎﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﺳِﺠِّﻴﻞٍ ‏( 4 ‏) ﻓَﺠَﻌَﻠَﻬُﻢْ ﻛَﻌَﺼْﻒٍ ﻣَﺄْﻛُﻮﻝٍ ‏( 5 )

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (QS Al-Fiil : 2-5)

Para musuh bersekutu dan mereka berbuat makar kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi makar mereka hanyalah menuju kegagalan. Allah berfirman

ﻭَﻳَﻤْﻜُﺮُﻭﻥَ ﻭَﻳَﻤْﻜُﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻤَﺎﻛِﺮِﻳﻦَ

Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya (QS Al-Anfaal : 30)

Diantara sifat-sifat para pembuat makar adalah berkhianat dan melanggar janji. 


Pada peristiwa Bi'ir Ma'uunah telah terbunuh 70 orang dari sahabat terpilih, Allah berfirman :

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺨُﻮﻧُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺗَﺨُﻮﻧُﻮﺍ ﺃَﻣَﺎﻧَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (QS Al-Anfaal : 27)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari sifat khianat, beliau berkata :

ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨِﻴَﺎﻧَﺔِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺑِﺌْﺴَﺖِ ﺍﻟْﺒِﻄَﺎﻧَﺔُ

"Dan aku berlindung kepadaMu dari sifat khinat, karena ia adalah seburuk-buruk teman"

Orang-orang munafik dahulu adalah sumber utama makar yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena sikap-sikap mereka yang membunglon dan berubah-rubah kondisi mereka. Allah berfirman :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻟَﻘُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺁﻣَﻨَّﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺧَﻠَﻮْﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻨِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok" (QS Al-Baqoroh : 14)

Allah berfirman tentang kaum munafiqin

ﺃَﻭَﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻳُﺴِﺮُّﻭﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻌْﻠِﻨُﻮﻥَ

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan (QS Al-Baqoroh : 77)

Yaitu : Apakah mereka tidak tahu bahwasanya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa makar dan kekufuran dan apa yang mereka tampakan berupa keimanan dan sikap mencintai kaum muslimin?

Diantara sifat pelaku makar adalah muncul pada saat-saat ujian berat dan peristiwa-peristiwa genting, dan gembira dengan musibah yang menimpa kaum muslimin. 


Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dan kejayaan maka merekapun marah dan sedih. Jika kaum muslimin ditimpa bencana dan ujian maka para musuhpun mabuk saking gembira dan sombongnya.

ﺇِﻥْ ﺗَﻤْﺴَﺴْﻜُﻢْ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﺗَﺴُﺆْﻫُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﺼِﺒْﻜُﻢْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٌ ﻳَﻔْﺮَﺣُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS Ali Imron : 120)

Diantara sifat para pembuat makar adalah memperbesar permasalahan dan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran, lalu menyebarkannya, dan pura-pura tidak mengetahui prestasi-prestasi dan sisi-sisi positif. 


Dan inilah kebiasaan mereka yang tukang dengki dan hasad.

Diantara bentuk makar adalah menjadikan para pemuda sebagai target untuk disesatkan melalui perkataan, foto/video, dan pengaruh pemikiran melalui media-media sosial dan sarana komunikasi modern, dan ini lebih berbahaya daripada para pasukan yang menyikat dan senjata yang mematikan. 


Yaitu dengan menyebarkan pemikiran ekstrem dan menyimpang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang berbahaya, menguasai otak-otak para pemuda dan untuk menjauhkan mereka dari para ulama sehingga mudah untuk dijerat dan mempengaruhi mereka. Yang hal ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak dikenal dengan ilmu dan amal.

Diantara kegiatan para pendengki dan penghasad adalah menanamkan organisasi-organisasi teroris di negeri-negeri kaum muslimin, agar menjadi bahan bakar untuk membakar para pemuda, dan menghancurkan masa depan mereka dan negeri mereka.


Diantara metode makar adalah menggambarkan agama ini seakan-akan adalah agama yang terbelakang dan penuh kekacauan, amburadul dan mengerikan, yaitu dengan menampilkan klip-klip berdarah dan pelaksanaan penculikan yang dilakukan oleh orang-orang (sesat) yang menyelip di barisan kaum muslimin dan berpenampilan dengan penampilannya agama.


Diantara bentuk makar adalah membuat-buat berita dusta dan menyebarkan isu-isu yang bertujuan buruk. 


Dan telah datang ayat-ayat yang jelas yang memperingatkan agar tidak ikut menjadi penyebar berita dusta tersebut, dan arahan untuk benar dalam perkataan dan tidak menyampaikan semua berita secara sembarangan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tanpa hikmah dan penjelasan.

ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻗُﻮﻟُﻮﺍ ﻗَﻮْﻟًﺎ ﺳَﺪِﻳﺪًﺍ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzaab : 70)

Al-Qur'an membimbing untuk meluruskan perkataan, dan hati-hati dalam berucap, serta mempelajari tujuan ucapan dan arahannya sebelum mengikuti orang-orang munafik dan pembuat onar. Al-Qur'an membimbing untuk mengucapkan perkataan yang baik yang mengantarkan kepada amal shalih.

Diantara bentuk makar adalah menyebarkan keraguan di kaum muslimin terhadap pemimpin mereka dan pemerintah mereka dengan memalsukan hakekat yang sebenarnya. 


Dan diantara bentuk konspirasi adalah mengeluarkan fatwa-fatwa syubhat dan fitnah, hal ini mengantarkan pada tersebarnya kebatilan serta menghiasinya dengan pakaian kebatilan. Yang sungguh menakjubkan adalah fatwa-fatwa asing malah tersebar di zaman kita, sehingga menimbulkan kerancuan bagi masyarakat, dan orang-orang yang suka dengan pendapat-pendapat yang aneh segera berlomba-lomba dalam menyebarkannya. Hal ini menimbulkan dampak negatif dan kemudhorotan yang besar pada umat ini.

Diantara metode konspirasi (keburukan) adalah menghalangi kebenaran, yaitu dengan mengobarkan syahwat dan nafsu serta menenggelamkan para pemuda dalam lautan narkoba.

Diantara kegiatan para tukang makar adalah mengobarkan kekacauan, ketidakstabilan, dan fitnah, memecahkan barisan kaum muslimin, menimbulkan kondisi krisis agar menghentikan gerakan pembangunan, pengembangan, dan produksi di negeri-negeri kaum muslimin, sehingga kaum muslimin akhirnya terfokus kepada cara mencari solusi menghadapi fitnah dan usaha untu memadamkan api fitnahnya.


Diantara bentuk makar para pembuat makar adalah membentuk kegaduhan dengan menyebarkan rasa pesimis dan kerendahan serta jiwa yang jatuh dan kalah. Allah berfirman :


ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻗَﺪْ ﺟَﻤَﻌُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﺧْﺸَﻮْﻫُﻢْ ﻓَﺰَﺍﺩَﻫُﻢْ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛِﻴﻞُ

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (QS Ali 'Imron : 173)

(Hasbunallah wa nikmal wakiil)…ini adalah benteng perlindungan yang kokoh sebagai tempat berlindung kaum mukminin tatkala diliputi oleh berbagai musibah dan ujian. Bagaimanapun berat perkaranya maka hal ini tidaklah menambah bagi kaum mukminin kecuali semakin kokoh, semakin beriman, dan semakin pasrah kepada Allah.
Sejarah mulia dari umat ini mendorong nilai optimis, dan ia adalah sejarah kejayaan dan kepemimpinan, penuh kepercayaan bahwasanya Allah akan membalas mereka yang berbuat zolim dan melampaui batas. Allah berfirman

ﺇِﻥَّ ﺑَﻄْﺶَ ﺭَﺑِّﻚَ ﻟَﺸَﺪِﻳﺪٌ ‏( 12 ‏) ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﻳُﺒْﺪِﺉُ ﻭَﻳُﻌِﻴﺪُ ‏( 13 )

Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali) (QS Al-Buruuj : 12-13)

Kita berhusnudzon (berprasangka baik) kepara Robb kita, kita meyakini akan keadilaNya, sesungguhnya Allah penolong wali-waliNya, menghancurkan musuh-musuhNya. Allah berfirman :

ﻭَﻟَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻯ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟْﺄَﺣْﺰَﺍﺏَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻭَﻋَﺪَﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﺯَﺍﺩَﻫُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS Al-Ahzaab : 22)

Khutbah Kedua ;


Diantara penjagaan Allah kepada kebenaran dan pembela kebenaran adalah hancur leburnya seluruh model makar dan tipu daya di atas batu ketegaran umat ini yang memikul warisan kenabian. Meskipun umat ini lemah pada suatu zaman akan tetapi dominasi dan kemenangan adalah milik umat ini, kejayaan dan kekuasaan adalah kesudahan umat ini. Allah berfirman ;

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ ﻛَﺎﻥَ ﺯَﻫُﻮﻗًﺎ

Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa' : 81)

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺣَﻘًّﺎ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻧَﺼْﺮُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS Ar-Ruum : 47)

Kaum mukimin telah mengalami luka dari makar para pembuat makar, gangguan dari para pelaku tipu daya, hal ini demikian agar Allah menguji kaum mukminin, dan mengungkap kaum munafiqin, dan menguji ketegaran kaum muslimin. Dan bagaimanapun puncak makar dan tipu daya maka ia tergantung dengan takdir Allah, terliput oleh kehendak Allah. Dan makar/rencana yang jahat tidak lain kecuali akan kembali kepada pelakunya. Allah berfirman :

ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤِﻴﻖُ ﺍﻟْﻤَﻜْﺮُ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺊُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺄَﻫْﻠِﻪِ

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir : 43)

Sesungguhnya satu kata, satu barisan dan satu hati merupakan jalan menuju kemenangan dan kemuliaan, serta pondasi dari kejayaan. Allah berfirman :

ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋُﻮﺍ ﻓَﺘَﻔْﺸَﻠُﻮﺍ ﻭَﺗَﺬْﻫَﺐَ ﺭِﻳﺤُﻜُﻢْ

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (QS Al-Anfaal : 46)

Dan umat Islam menggabungkan antara berikhtiyar berusaha melakukan sebab dan bertawakkal kepada Allah SWT. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah dan memasrahkannya maka Allah cukup baginya, Allah akan menjaganya. Allah berfirman :

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺣَﺴْﺒُﻪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑَﺎﻟِﻎُ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﻗَﺪْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﺭًﺍ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS At-Tholaq : 3)

ﻟَﺎ ﺗَﺤْﺰَﻥْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﻌَﻨَﺎ

"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". (QS At-Taubah : 40)

Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sementara beliau berada di dalam goa bersama sahabatnya, dan orang-orang kafir telah mengepung mereka. Maka Allah pun menyelamatkan mereka dan menjaga mereka serta menolong mereka. Perkataan ("Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita") menumbuhkan ketenangan dan ketentraman, serta hilangnya rasa putus asa.

Jendela-jendela makar ditutup dengan ketegaran di atas kebenaran dan berpegang teguh dengan Al-Kitab dan as-Sunnah serta kembali kepada para ulama pada lokasi-lokasi fitnah, dan hendaknya perkara dikembalikan kepada pemerintah dalam urusan hukum dan keamanan.

Menghias diri dengan ketakwaan dan kesabaran akan melemahkan tipu daya mereka dan akan menghilangkan kemudhorotan. Allah berfirman

ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣُﻮﻫِﻦُ ﻛَﻴْﺪِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

Itulah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sesungguhnya Allah melemahkan tipu daya orang-orang yang kafir (QS Al-Anfaal : 18)

Dan sesungguhnya keamanan negeri ini –negeri dua kota suci- merupakan landasan keamanan umat Islam, negeri ini adalah jantung umat ini yang berdenyut, dan mengganggu negeri ini berarti mengganggu keamanan umat ini. Dan jasad umat ini senantiasa baik selama darah jantung masih berdenyut, dan kebaikan umat ini tersebar, dan kegiatan sosialnya tidak pernah berhenti, menjaga negeri ini dari gangguan makar para pembuat makar dan dari tipu daya para pelakunya adalah perkara yang dituntut dalam syari'at dan kewajiban agama bagi setiap muslim. Dan para penduduk negeri ini yang berakal mengerti akan hal ini dan mereka ikut berpartisipasi dengan kesadaran mereka dalam menggagalkan konspirasi orang-orang yang menanti-nanti jatuhnya negeri ini. Barangsiapa yang berusaha untuk mengganggu keamanan negeri ini maka ia telah melayani musuh-musuh agama. Dan negeri ini terjaga dengan penjagaan Allah, tegak dan tegar. Allah berfirman

ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻛُﻢْ ﻛَﻴْﺪُﻫُﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. (QS Ali Imron : 120)

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

Kamis, 03 November 2016

Karakter Orang Munafik

Karakter Orang Munafik

Karakter Orang Munafik

ﺍﻹﻋﺮﺍﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﻭﺍﻟﺘﻜﺒﺮ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻘﻴﻦ

"Berpaling dari nasihat dan sombong termasuk karakter orang-orang munafik."

Al Mukhtashar fii Tafsir Al Qur'an Al Karim, hal. (555)

Ustadz Didik Suyadi hafidzahullah


Senin, 31 Oktober 2016

DEMONSTRASI DAN MENCELA PEMERINTAH DI MEDIA SOSIAL BUKAN AJARAN ISLAM

Demonstrasi bukan ajaran islam

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺼَﺢَ ﻟِﺬِﻱ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻓَﻼ ﻳُﺒْﺪِﻩِ ﻋَﻼﻧِﻴَﺔً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﺄْﺧُﺬُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻓَﻴَﺨْﻠُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺒِﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺬَﺍﻙَ ﻭَﺇِﻻ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺪْ ﺃَﺩَّﻯ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

"Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya lalu sampaikan nasihatnya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari ‘Iyadh bin Ganm radhiyallahu’anhu, dishahihkan Al-Muhaddits Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]


Beberapa Pelajaran :



  1. Pesan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di dalam hadits yang mulia ini benar-benar diamalkan oleh sebaik-baik generasi, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum. 

Tatkala seseorang berkata kepada Sahabat yang mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma,

ﺃَﻻَ ﺗَﺪْﺧُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﻓَﺘُﻜَﻠِّﻤَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺗُﺮَﻭْﻥَ ﺃَﻧِّﻰ ﻻَ ﺃُﻛَﻠِّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ ﺃُﺳْﻤِﻌُﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﻠَّﻤْﺘُﻪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺑَﻴْﻨِﻰ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﺃَﻓْﺘَﺘِﺢَ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﻻَ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﺃَﻭَّﻝَ ﻣَﻦْ ﻓَﺘَﺤَﻪُ

“Tidakkah engkau masuk menemui ‘Utsman untuk berbicara dengannya (menasihatinya), maka ia berkata, “Apakah kalian menyangka bahwa aku tidak berbicara kepadanya, kecuali aku harus memperdengarkan kepada kalian?! Sesungguhnya aku telah berbicara kepadanya ketika hanya antara aku dan dia saja, tanpa aku membuka satu perkara yang aku tidak suka untuk membukanya pertama kali.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (no. 3267) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 2989), dan lafaz ini milik Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata,

ﻗﻮﻟﻪ ﻗﺪ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﻣﺎ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﺍﻓﺘﺢ ﺑﺎﺑﺎ ﺃﻱ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺃﺷﺮﺗﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻜﻦ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻭﺍﻷﺩﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻛﻼﻣﻲ ﻣﺎ ﻳﺜﻴﺮ ﻓﺘﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ

“Ucapan beliau (Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu), “Sungguh aku telah berbicara dengannya tanpa aku membuka sebuah pintu” maknanya adalah, aku telah berbicara kepadanya dalam perkara yang kalian maksudkan tersebut, akan tetapi dengan jalan maslahat dan adab secara rahasia, tanpa ada dalam ucapanku sesuatu yang dapat mengobarkan fitnah (kekacauan) atau semisalnya.” [Fathul Bari, 13/51]

Al-Imam Al-Muhallab –rahimahullah- berkata,

ﺃﺭﺍﺩﻭﺍ ﻣﻦ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺍﻥ ﻳﻜﻠﻢ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺧﺎﺻﺘﻪ ﻭﻣﻤﻦ ﻳﺨﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺷﺄﻥ ﺍﻟﻮﻟﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻘﺒﺔ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﻳﺢ ﻧﺒﻴﺬ ﻭﺷﻬﺮ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺧﺎ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻷﻣﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻗﺪ ﻛﻠﻤﺘﻪ ﺳﺮﺍ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﺃﻓﺘﺢ ﺑﺎﺑﺎ ﺃﻱ ﺑﺎﺏ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻋﻼﻧﻴﺔ ﺧﺸﻴﺔ ﺍﻥ ﺗﻔﺘﺮﻕ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ

“Mereka menginginkan dari Usamah agar beliau berbicara kepada ‘Utsman -dan Usamah adalah orang dekat dan disegani oleh ‘Utsman- dalam perkara Al-Walid bin ‘Uqbah, karena muncul darinya bau nabidz (khamar) dan telah ramai dibicarakan, sedang ia adalah saudara ‘Utsman seibu dan beliau tugaskan sebagai gubernurnya. Maka Usamah berkata, “Sungguh aku telah berbicara kepadanya secara rahasia tanpa aku membuka pintu” maknanya adalah pintu mengingkari pemimpin secara terang-terangan, karena dikhawatirkan akan terpecahnya persatuan.” [Fathul Bari, 13/52]

  • 2. Sebaliknya, kaum Khawarij menyelisihi cara menasihati penguasa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan diamalkan para sahabat ini. 

Tabi’in yang Mulia Sa’id bin Jumhan –rahimahullah- berkata,

ﺃَﺗَﻴْﺖُ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑْﻦَ ﺃَﺑِﻲ ﺃَﻭْﻓَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺤْﺠُﻮﺏُ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ، ﻓَﺴَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻲ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ ؟ ﻓَﻘُﻠْﺖُ : ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻌِﻴﺪُ ﺑْﻦُ ﺟُﻤْﻬَﺎﻥَ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﻭَﺍﻟِﺪُﻙَ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﻗَﺘَﻠَﺘْﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔُ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔَ ، ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔَ ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛِﻼَﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﺍﻷَﺯَﺍﺭِﻗَﺔُ ﻭَﺣْﺪَﻫُﻢْ ﺃَﻡِ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﺑَﻞِ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﺝُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ . ﻗَﺎﻝَ : ﻗُﻠْﺖُ : ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻳَﻈْﻠِﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ، ﻭَﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺑِﻬِﻢْ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺘَﻨَﺎﻭَﻝَ ﻳَﺪِﻱ ﻓَﻐَﻤَﺰَﻫَﺎ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻏَﻤْﺰَﺓً ﺷَﺪِﻳﺪَﺓً ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻳْﺤَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺟُﻤْﻬَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻷَﻋْﻈَﻢِ ، ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻷَﻋْﻈَﻢِ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥُ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﻣِﻨْﻚَ ، ﻓَﺄْﺗِﻪِ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ، ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻢُ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺒِﻞَ ﻣِﻨْﻚَ ، ﻭَﺇِﻻَّ ﻓَﺪَﻋْﻪُ ، ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﺴْﺖَ ﺑِﺄَﻋْﻠَﻢَ ﻣِﻨْﻪُ

“Aku pernah mendatangi Abdullah bin Abi Aufa -radhiyallahu’anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku, “Siapakah kamu?” Aku berkata, “Aku Sa’id bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al-Azaariqoh telah membunuhnya”.

Beliau berkata, “Semoga Allah melaknat Al-Azariqoh, semoga Allah melaknat Al-Azariqoh. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kami bahwa mereka dalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata, “Apakah Al-Azariqoh saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan semana-mena terhadap mereka”.

Beliau pun menarik tanganku dengan keras seraya berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah), hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasihatmu, maka datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui, semoga ia menerima nasihat darimu. Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/382), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 6435) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 905), dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 905]


  • 3) Menasihati penguasa secara terang-terangan dengan aksi demonstrasi atau melalui media massa, menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum. Asy-Syaikhul ‘Allaamah Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata,

ﻓﺎﻟﻨﺼﺢ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻷﺳﻠﻮﺏ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﻓﻬﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ , ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﺍﻟﺘﺸﻬﻴﺮ ﺑﻌﻴﻮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ , ﻭﻻ ﺑﺎﻧﺘﻘﺎﺩ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﺑﺮ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ , ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﺴﻌﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﺸﺮ ﻭﻳﺜﺒﺖ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﺑﺎﻟﻄﺮﻕ ﺍﻟﺤﻜﻴﻤﺔ ﻭﺑﺎﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺮﺿﺎﻫﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ

“Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengeritik negara di mimbar-mimbar dan yang semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang diridhoi Allah ‘azza wa jalla.” [Majmu’ Al-Fatawa, 7/306]


  • 4) Melakukan aksi-aksi perlawanan terhadap kebijakan pemerintah secara terang-terangan bukan manhaj Salaf dan hanya mendatangkan kemudaratan, bukan kemaslahatan. 

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata,

ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺘﺸﻬﻴﺮ ﺑﻌﻴﻮﺏ ﺍﻟﻮﻻﺓ , ﻭﺫﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻨﺎﺑﺮ ; ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﻮﺿﻰ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ , ﻭﻳﻔﻀﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻮﺽ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ , ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻤﺘﺒﻌﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻠﻒ : ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ , ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﺇﻟﻴﻪ , ﺃﻭ ﺍﻻﺗﺼﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺼﻠﻮﻥ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻮﺟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻴﺮ

“Bukan termasuk manhaj Salaf, menasihati dengan cara menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar, sebab yang demikian itu mengantarkan kepada kekacauan dan tidak mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma’ruf, dan mengantarkan kepada provokasi yang berbahaya dan tidak bermanfaat. Akan tetapi tempuhlah jalan yang telah dilalui oleh Salaf, yaitu nasihat antara mereka dan pemerintah (secara rahasia), dan menulis surat kepada penguasa, atau menghubungi ulama yang memiliki akses kepadanya, sehingga ia bisa diarahkan kepada kebaikan.” [Majmu’ Al-Fatawa, 8/210]


  • 5. Solusi menghadapi pemerintah yang zalim, disamping memberi nasihat, bahkan ketika nasihat juga tidak bermanfaat, atau pun tidak ada akses untuk menyampaikan nasihat, maka hendaklah bersabar dan berdoa, tidak dibenarkan untuk melakukan perlawanan dan menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat dalam menasihati.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺃَﻣِﻴﺮِﻩ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻳَﻜْﺮَﻫُﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺼْﺒِﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻓَﺎﺭَﻕَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔَ ﺷِﺒْﺮًﺍ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﻓَﻤِﻴﺘَﺔٌ ﺟَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔٌ

“Barangsiapa yang melihat suatu (kemungkaran) yang ia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) sejengkal saja, kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (7054) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1849) dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma]

Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺳَﺘَﺮَﻭْﻥَ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺃَﺛَﺮَﺓ ﻭَﺃُﻣُﻮﺭًﺍ ﺗُﻨْﻜِﺮُﻭﻧَﻬَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺩُّﻭﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺣَﻘَّﻬُﻢْ ﻭَﺳَﻠُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻘَّﻜُﻢْ

“Sesungguhnya kalian akan melihat (pada pemimpin kalian) kecurangan dan hal-hal yang kalian ingkari (kemungkaran)”. Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan hak mereka (pemimpin) dan mintalah kepada Allah hak kalian.” [HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (7052) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 1843) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu]

DUA MACAM PEMBERONTAKAN

Keluar, memisahkan diri atau memberontak dan menentang penguasa muslim adalah perangai Jahiliyah yang diadopsi kaum Khawarij, diharamkan dalam Islam, dan bentuknya ada dua:

  • Pertama: Dengan senjata.
  • Kedua: Dengan kata-kata.

Dan yang pertama tidak mungkin terjadi tanpa yang kedua, karena itulah demonstrasi diharamkan dalam Islam, demikian pula mencela para penguasa di mimbar terbuka atau di media massa dilarang dalam Islam.

Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

Faqihul ‘Ashr Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﺑﻞ ﺍﻟﻌﺠﺐ ﺃﻧﻪ ﻭُﺟّﻪ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻗﻴﻞ ﻟـﻪ : ﺍﻋﺪﻝ، ﻭﻗﻴﻞ ﻟـﻪ : ﻫﺬﻩ ﻗﺴﻤﺔ ﻣﺎ ﺃﺭﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ . ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻛﺒﺮ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﺴﻴﻒ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻭﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻳﻌﻨﻲ : ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺃﺧﺬ ﺍﻟﺴﻴﻒ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻟﻜﻨﻪ ﺃﻧﻜﺮ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﻧﺤﻦ ﻧﻌﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﻃﺒﻴﻌﺔ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﺴﻴﻒ ﺇﻻ ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻘﻪ ﺧﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ . ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬﻭﺍ ﺳﻴﻮﻓﻬﻢ ﻳﺤﺎﺭﺑﻮﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺑﺪﻭﻥ ﺷﻲﺀ ﻳﺜﻴﺮﻫﻢ، ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨـﺎﻙ ﺷﻲﺀ ﻳﺜـﻴﺮﻫﻢ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻜﻼﻡ . ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺑﺎﻟﻜﻼﻡ ﺧﺮﻭﺟﺎً ﺣﻘﻴﻘﺔ، ﺩﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺩﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻮﺍﻗﻊ

“Sangat mengherankan tatkala celaan (terhadap pemerintah) itu diarahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (yaitu yang dilakukan oleh pentolan Khawarij, Dzul Khuwaisiroh). Dikatakan kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam, “Berlaku adillah!” Juga dikatakan, “Pembagianmu ini tidak menginginkan wajah Allah!”

Maka ini adalah sebesar-besarnya dalil yang menunjukkan bahwa memberontak kepada penguasa bisa jadi dengan senjata, bisa jadi pula dengan ucapan dan kata-kata. Maksudnya, orang ini tidaklah memerangi Rasul -shallallahu’alaihi wa sallam- dengan pedang, akan tetapi ia mengingkari beliau (dengan ucapan di depan umum).

Kita tahu dengan pasti bahwa kenyataannya, tidak mungkin terjadi pemberontakan dengan senjata, kecuali telah didahului dengan pemberontakan dengan lisan dan ucapan. Manusia tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi penguasa tanpa ada sesuatu yang bisa memprovokasi mereka. Mesti ada yang bisa memprovokasi mereka, yaitu dengan kata-kata. Jadi, memberontak terhadap penguasa dengan kata-kata adalah pemberontakan secara hakiki, berdasarkan dalil As-Sunnah dan kenyataan.” [Fatawa Al-‘Ulama Al-Akabir, hal. 96]

BEBERAPA DAMPAK BURUK DEMONSTRASI


  1. Memprovokasi masyarakat untuk memberontak kepada penguasa, terlebih jika nasihat dalam demo tersebut tidak diindahkan oleh penguasa, maka akibatnya akan semakin memprovokasi massa dan menceraiberaikan kesatuan kaum muslimin (lihat Fathul Bari, 13/51-52)
  2. Cara mengingkari kemungkaran penguasa dengan terang-terangan mengandung penentangan terhadapnya (lihat Umdatul Qaari, 22/33, Al-Mufhim, 6/619)
  3. Pencemaran nama baik dan ghibah kepada penguasa yang dapat mengantarkan kepada perpecahan masyarakat dan pemerintah muslim (lihat Umdatul Qaari, 22/33)
  4. Mengakibatkan masyarakat tidak mau menaati penguasa dalam hal yang baik (lihat Haqqur Ro’i, hal. 27)
  5. Menyebabkan permusuhan antara pemimpin dan rakyatnya (lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 99)
  6. Menjadi sebab ditolaknya nasihat oleh penguasa (lihat Fathul Bari, 13/52)
  7. Menyebabkan tertumpahnya darah seorang muslim, sebagaimana yang terjadi pada sahabat yang mulia Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu akibat demonstrasi kaum khawarij (lihat Syarah Muslim, 18/118)
  8. Menghinakan sulthan Allah, yang telah Allah takdirkan sebagai penguasa muslim (lihat As-Sailul Jarror, 4/556)
  9. Munculnya riya’ dalam diri pelakunya (lihat Madarikun Nazhor, hal.211)
  10. Mengganggu ketertiban umum
  11. Menimbulkan kemacetan di jalan-jalan
  12. Merusak stabilitas ekonomi
  13. Tidak jarang adanya ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita) ketika demonstrasi, bahkan pada demo yang mereka sebut Islami sekali pun
  14. Menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat
  15. Mengikuti jalan ahlul bid’ah (Khawarij) dan orang-orang kafir. Wallahu A’lam.


ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Semoga bermanfaat. Mohon ta’awun menyebarkan dakwah tauhid dan sunnah ini. Semoga menjadi sebab hidayah dan pemberat timbangan kebaikan kita di Hari Kiamat, insya Allah ta’ala.
Jazaakumullaahu khayron wa baaroka fiykum.

Sumber:  taawundakwah.com

Kamis, 20 Oktober 2016

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU
Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari
Sesungguhnya agama Islam telah sempurna, nyata, terang lagi jelas, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali pasti binasa. Dan Islam, adalah agama yang berlandaskan wahyu Allah Ta’ala, bukan berlandaskan akal fikiran maupun perasaan manusia. Barang siapa mengikuti wahyu, maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Maka berpegang teguhlah kepada yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. [az-Zukhruf/43:43].

Wahyu Allah merupakan kebenaran mutlak, tidak ada kedustaan dan kesalahan di dalamnya. Hal ini berbeda dengan akal dan fikiran manusia yang tidak ada jaminan kebenaran mutlak, bahkan fikiran seseorang itu sering berubah-ubah. Demikian juga fikiran manusia yang satu dengan lainnya, juga sering berbeda. Oleh karena itulah manusia itu sering berselisih.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang kebenaran mutlak pada wahyu-Nya:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Kebatilan tidak datang kepadanya (Al-Qur`ân) baik dari depan maupun dari belakangnya. (Al-Qur`ân) diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. [Fushshilat/41:42].

Dengan tegas Allah menyatakan, bahwa di dalam Kitab-Nya tidak terkandung kebatilan, baik saat diturunkan maupun sesudahnya. Kebatilan dalam arti kedustaan ataupun kesia-siaan.

MAKNA AS-SUNNAH [1]


As-Sunnah, secara bahasa artinya ialah jalan atau ajaran, yang baik maupun yang buruk. Adapun secara istilah, as-Sunnah memiliki beberapa makna sebagai berikut.


1. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ushûl Fiqh.


Al-Aamidi rahimahullah berkata: “Dalil-dalil syari’at yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang tidak dibaca, bukan merupakan mu’jizat, dan tidak termasuk mu’jizat [2]. Dan Sunnah ini mencakup perkataan-perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatan-perbuatan, dan taqrîr-taqrîr (ketetapan-ketetapan) beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[3]

Istilah as-Sunnah di sini, contohnya perkataan, “sumber aqidah dan hukum Islam ialah Al-Kitab dan as-Sunnah”, “kita wajib berpegang kepada Al-Kitab dan as-Sunnah”, dan semacamnya.


2. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ahli Hadits.


Yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrîr (ketetapan)beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sifat jasmani, atau sifat akhlak, perjalanan setelah bi’tsah (diangkat sebagai Nabi), dan terkadang masuk juga sebagian sebelum bi`tsah. Sehingga arti as-Sunnah di sini semakna dengan al-Hadits.

3. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Ahli Fiqih.


Yaitu perkara yang pelakunya terpuji dan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang meninggalkannya tidak tercela dan tidak mendapatkan dosa. Istilah Sunnah menurut ahli fiqih ini semakna dengan mustahab, mandûb, tathawwu’, nafilah, muragh-ghab fîhi, dan semacamnya.

Istilah as-Sunnah di sini, contohnya perkataan, “hukum shalat rawaatib adalah Sunnah, bukan wajib”, “pendapat yang râjih (kuat), hukum shalat berjama’ah di masjid bagi laki-laki adalah wajib ‘ain, bukan sunnah”, dan semacamnya.


4. Makna Sunnah Menurut Istilah Ulama Aqidah Atau Ulama Salaf.


Yaitu bermakna jalan dan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diikuti oleh para sahabatnya. Sunnah di sini kebalikan dari bid’ah. Oleh karena itu, banyak ulama pada zaman dahulu menulis kitab-kitab aqidah, dan mereka menamakannya dengan as-Sunnah. Misalnya, “as-Sunnah” karya ‘Abdullah bin Imam Ahmad, “as-Sunnah” karya al-Khallâl, dan lain-lain.

Adapun makna as-Sunnah yang dimaksudkan dalam tulisan ini, yaitu as-Sunnah menurut istilah ahli ushûl fiqh.

SUNNAH, JUGA MERUPAKAN WAHYU


Allah azza wa Jalla memerintahkan manusia agar mengikuti wahyu yang telah Dia turunkan kepada mereka melalui perantaraan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salalm. Allah Azza wa Jalla berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. [al-A’râf/7:3].

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan dari-Nya secara khusus, dan Dia memberitahukan bahwa barangsiapa mengikuti selainnya, maka dia telah mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya”.[4]

Allah juga telah menjelaskan, apa yang Dia turunkan bukan hanya al-Kitab (Al-Qur`ân). Bahkan yang Allah turunkan ialah berupa al-Kitab (Al-Qur`ân) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. [al-Baqarah/2:231].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu”, yaitu Dia mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa petunjuk dan penjelasan-penjelasan, “dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah”, yaitu As-Sunnah, “Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu”, yaitu Allah memerintah kamu, melarang kamu, dan mengancam kamu dari melakukan perkara-perkara yang haram. [5]

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [an-Nisâ`/4:113].

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan al-Kitab, yaitu Al-Qur`ân, dan menyebutkan al-Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku ridhai, yaitu seseorang yang ahli ilmu Al-Qur`ân berkata,’Al-Hikmah ialah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Bukti nyata bahwa maksud dari al-Hikmah yang diturunkan Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah as-Sunnah yaitu yang dibacakan di rumah-rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Sementara Allah Ta’âla berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui”. [al-Ahzâb/33:34].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi) apa yang diturunkan Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”.[7]

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa beliau diberi al-Kitab dan yang semisalnya, yaitu as-Sunnah. Keduanya memiliki kedudukan yang sama, sama-sama wajib diikuti. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلَا يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلَالٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ أَلَا لَا يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الْأَهْلِيِّ وَلَا كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ وَلَا لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا صَاحِبُهَا وَمَنْ نَزَلَ بِقَوْمٍ فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَقْرُوهُ فَإِنْ لَمْ يَقْرُوهُ فَلَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ

“Ingatlah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab (Al-Qur`ân) dan (diberi) yang semisalnya (yaitu as-Sunnah) bersamanya. Ingatlah, hampir ada seorang laki-laki yang kenyang berada di atas tempat tidurnya yang dihiasi, dia akan berkata: ‘Kamu wajib berpegang dengan Al-Qur`ân ini. Apa yang kamu dapati di dalamnya perkara yang halal, maka halalkanlah ia! Dan apa yang kamu dapati di dalamnya perkara yang haram, maka haramkanlah ia!’. Ingatlah, tidak halal bagi kamu daging keledai jinak, dan (tidak halal) seluruh yang bertaring dari binatang buas, dan (tidak halal) barang temuan milik orang kafir mu’ahid, kecuali jika pemiliknya tidak membutuhkannya. Barang siapa bertamu kepada suatu kaum, maka mereka wajib menjamunya. Jika mereka tidak menjamunya, maka dia berhak mengambil dari mereka dengan semisal jamuannya”[9].

Dalam riwayat lain dengan lafazh:

يُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِي فَيَقُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ أَلاَ وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Hampir ada seorang laki-laki yang bersandar di atas tempat tidurnya yang dihiasi, disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku, lalu dia akan berkata: ‘Di antara kami dan kamu ada kitab Allah Azza wa Jalla . Apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang halal, maka kita menghalalkannya. Dan apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang haram, maka kita mengharamkannya’. Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah n seperti apa yang diharamkan oleh Allah”. [HRIbnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni].

Penulis kitab ‘Aunul-Ma’bûd Syarh Sunan Abi Dâwud mengatakan: “(Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) ‘aku diberi al-Kitab’, yaitu Al-Qur`ân, ‘dan (diberi) yang semisalnya’, yaitu wahyu batin yang tidak dibaca, atau penjelasan wahyu zhahir, dengan menjelaskan keumuman, mengkhususkan, menambah, mengurangi, atau hukum-hukum, nasihat-nasihat, atau perumpamaan-perumpamaan, yang menyerupai Al-Qur`ân dalam masalah kewajiban yang diamalkan, atau dalam hal kedudukannya”.

Al-Baihaqi berkata: “Hadits ini memungkinkan dua makna. 
  • Pertama, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi wahyu batin yang tidak dibaca, seperti diberi wahyu zhahir yang dibaca. 
  • Kedua, maknanya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi al-Kitab yang merupakan wahyu yang dibaca, dan diberi penjelasan semisalnya. 
Yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diizinkan menjelaskan yang ada di dalam al-Kitab, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keumuman, mengkhususkan, menambahkan, sehingga beliau mensyari’atkan sesuatu yang tidak disebutkan dalam al-Kitab. Maka jadilah hal itu, di dalam kewajiban berhukum dan keharusan mengamalkannya seperti wahyu yang zhahir yang dibaca”.[10]

Dengan demikian, Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Allah Ta’ala sebagaimanan Al-Qur`ân. Hassân bin ‘Athiyah rahimahullah berkata:

كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى النَّبِيِّ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ

“Dahulu, Malaikat Jibrîl turun kepada Nabi n dengan membawa as-Sunnah, sebagaimana ia turun membawa Al-Qur`ân”.[11]

KEDUDUKAN AS-SUNNAH SAMA DENGAN AL-QUR`ÂN DALAM HUJJAH


Setelah mengetahui bahwasanya wahyu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua, selain Al-Qur`ân atau al-Kitab, yang merupakan wahyu zhahir yang dibaca, juga as-Sunnah yang merupakan wahyu batin yang dibaca, sehingga kedudukan keduanya ini satu derajat dalam hal hujjah dan sumber aqidah dan hukum, karena keduanya sama sebagai wahyu Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, termasuk perkara yang pantas untuk diperingatkan, yakni pendapat sebagian ahli ushuul fiqih yang menyatakan bahwa kedudukan as-Sunnah berada di bawah Al-Qur`ân dalam pengambilan sumber hukum. Sehingga pendapat ini memunculkan prinsip yang tidak benar pada sebagian umat Islam; misalnya hadits yang shahîh, jika bertentangan dengan Al-Qur`ân maka hadits itu berarti hadits lemah dan ditolak. Kemudian mereka menggunakan akal fikirannya sendiri, atau bahkan kebodohannya untuk menghukumi sesuatu hadits bertentangan dengan ayat Al-Qur`ân. Dari sinilah, kemudian timbul berbagai penyimpangan.

Oleh karena itu, kami ingatkan bahwasanya as-Sunnah juga merupakan wahyu Allah, sehingga tidak akan bertentangan dengan Al-Qur`ân. Jika ada hadits yang telah memenuhi syarat shahîh, tetapi menurut akal, seolah-olah hadits itu bertentangan dengan Al-Qur`ân, maka hendaklah kita mendahulukan naql (wahyu) daripada akal. Demikian ini merupakan prinsip Ahlus-Sunnah wal- Jama’ah.

Imam Abul-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwasanya madzhab (jalan) Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (menyetakan), akal tidaklah mewajibkan sesuatu kepada seorangpun, tidak menghilangkan sesuatu darinya, tidak ada peran bai akal dalam menghalalkan dan mengharamkan, menganggap baik dan menganggap buruk. Seandainya tidak ada penjelasan dari agama, maka tidak ada sesuatu pun yang wajib atas diri seseorang, dan mereka tidak terkena pahala atau siksa”.

Imam Abul-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah juga berkata: “Ahlus Sunnah mengatakan, prinsip dalam beragama adalah ittiba` (mengikuti dalil wahyu), sedangkan akal mengikutinya. Seandainya prinsip agama itu berlandaskan akal, maka sesungguhnya manusia tidak membutuhkan wahyu dan nabi-nabi. Demikian juga makna larangan dan perintah (dari Allah lewat perantaraan para nabi) menjadi sia-sia. Dan setiap orang akan berbicara sesuai yang ia kehendaki”. [13]

Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata: “As-Sunnah dengan al-Kitab berada pada satu derajat. Dari kedua sumber ini diambillah sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) dalam menentuankan hukum-hukum syari’at. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: ‘Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa al-Kitab (Al-Qur`ân) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah; dengan lafazhnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mu’jizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah, dilihat pada sisi ini, keutamaannya berada di bawah Al-Qur`ân.

Syaikh ‘Abdul-Ghani ‘Abdul-Khaliq rahimahullah berkata: “As-Sunnah dengan Al-Kitab berada pada satu derajat dari sisi keduanya digunakan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen) terhadap hukum-hukum syari’at. Untuk menjelaskan hal ini, kami katakan: Termasuk perkara yang telah diketahui, tidak ada perselisihan bahwa Al-Kitab (Al-Qur’an) memiliki keistimewaan dan kelebihan di atas As-Sunnah, dengan lafazhnya yang diturunkan dari sisi Allah, membacanya merupakan ibadah, merupakan mu’jizat (perkara luar biasa yang melemahkan) manusia dari membuat yang semisalnya. Sedangkan As-Sunnah di bawah Al-Qur’an di dalam keutamaan pada sisi-sisi ini.

Akan tetapi, hal itu tidak menyebabkan keduanya berbeda keutamaannya dalam masalah penggunaan sebagai hujjah. Yaitu menganggap kedudukan as-Sunnah di bawah Al-Qur`ân dalam penggunaan sebagai ‘ibrah (penilaian) dan hujjah (argumen); sehingga seandainya terjadi pertentangan, maka As-Sunnah disia-siakan, dan hanya Al-Qur`ân yang diamalkan.

Sesungguhnya kedudukan Sunnah itu sederajat dengan al-Kitab (Al-Qur`ân) dalam pengambilannya sebagai hujjah. Dijadikannya al-Kitab sebagai hujjah, karena ia merupakan wahyu dari Allah…, dan dalam masalah ini, as-Sunnah sama dengan Al-Qur`ân, karena as-Sunnah juga merupakan wahyu seperti halnya Al-Qur`ân. Sehingga wajib menyatakan, dalam hal i’tibar, as-Sunnah tidak di berada belakang Al-Qur`ân”[14]

Oleh karena itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah merupakan dua perkara yang saling menyatu, tidak terpisah, dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” [15].

KESIMPULAN


Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa as-Sunnah merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Qur`ân. Oleh karena itu, keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai hujjah (argumen) dalam agama, dan wajib diikuti.
Al-hamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

MARÂJI’:

1. Al-Qur’ân Terjemah Departemen Agama.
2. At-Ta’zhim wal-Minnah fil-Intisharis-Sunnah, karya Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali.
3. Dharûrat Ihtimâm bis-Sunnah Nabawiyyah, karya Syaikh ‘Abdus-Salâm bin Barjas bin Nâshir Âlu ‘Abdul-Karîm .
4. I’lamul-Muwaqqi’in, karya Imam Ibnul-Qayyim, Penerbit Darul-Hadits, Kairo, Tahun 1422H/2002H.
5. Manhaj Imam Syafi’i t fî Its-bâtil ‘Aqîdah, karya Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdul-Wahhâb al-‘Aqîl, Penerbit Adh-waus-Salaf.
6. Tadwîn as-Sunnah an-Nabawiyyah, karya Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrâni, Penerbit Dârul- Khudhairi, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H / 1998 M.
7. Tafsîr Al-Qur`ânil-‘Azhîm, karya Imam Ibnu Katsîr.
8. Kitab-Kitab Hadits, dan lain-lain.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Dharûrat Ihtimâm bis-Sunnah Nabawiyyah, hlm. 29-34.
[2]. Yaitu bukan Al-Qur`ân, karena Al-Qur`ân dibaca pada waktu shalat dan merupakan mu’jizat, di mana Allah menantang orang yang meragukannya untuk membuat satu surat semisal Al-Qur’ân. Namun ini tidak berarti di dalam As-Sunnah tidak ada perkara luar biasa yang membuktikan kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah, Pen.
[3]. Taqrîr, artinya pengakuan. Maksudnya perbuatan atau perkataan sahabat yang tidak diingkari oleh Nabi n .
[4]. I’lâmul-Muwaqqi’in, 2/46.
Tafsîr Al-Qur`ânul ‘Azhîm, surat al-Baqarah/2 ayat 231.
[5]. Tafsîr Al-Qur`ânil ‘Azhîm, surat al-Ahzaab/33 ayat 34.
[6]. Ar-Risâlah, hlm. 32-33.
[7]. Tafsîr Al-Qur`ânil ‘Azhîm, surat al-Ahzaab/33 ayat 34.
[8]. Orang kafir yang ada perjanjian keamanan dengan kaum muslimin.
[9]. HR Abu Dawud, no. 4604. Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim dari al-Miqdam bin Ma’di Karib. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni.
[10]. ‘Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud. Lihat penjelasan hadits no.4604.
[110] Riwayat ad-Dârimi, no. 549. Al-Khathîb dalam al-Kifâyah, hlm. 48, dan lain-lain. Dinukil dari Tadwîn as-Sunnah an-Nabawiyyah, hlm. 22-23.
[12]. Yang dimaksudkan ialah baik dan buruk, yang karenanya mendapatkan pahala atau siksa, Pen.
[13]. Al-Hujjah fî Bayânil-Mahajjah, Juz. 1, hlm. 315. Dinukil dari Manhaj Imam Syafi’t t fî Its-bâtil- ‘Aqîdah, Juz. 1, hlm. 57-58.
[14]. Sebuah pembahasan dalam kitab Hujjiyyatus-Sunnah, hlm. 485-494. Dinukil dari Dharuuraat Ihtimaam bis-Sunnah Nabawwiyah, hlm. 24.
[15]. Hadits Shahiih li ghairihi. HR Maalik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam at-Ta’zhim wal-Minnah fil-Intisharis-Sunnah, hlm. 12-13.

Sumber: almanhaj.or.id

Selasa, 18 Oktober 2016

Kejayaan Islam, bagamana caranya?

Kejayaan Islam, bagamana caranya?


Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ,

Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini?


“ Wah, hari-hari gini masih bicara masalah Tauhid orang kan udah gak percaya lagi sama yang namanya dukun, klenik, tukang sihir, itu sih kepercayaan orang-orang tempoe doeloe.”

“ Jangan ketinggalan zaman, negara kuat itu dengan teknologi, lihat itu negara-negara maju! Janganlah banyak membicarakan tentang keyakinan, kepercayaan itu urusan pribadi.”

“Kalau perekonomian kuat, pasti negara kuat, negara kita itu ketinggalan jauh, jadi pengekor, karena memang negara ini negara miskin Intinya itu di duit.”

“Wahai umat Islam! Bangkitlah! Jangan mau jadi umat bawahan! Mari rebut tampuk kekuasaan! Ajari para pemuda bagaimana berpolitik agar mereka memiliki kesadaran politik yang tinggi!”

Tanggapan


  • Jika maksud ucapan yang pertama adalah bahwa seluruh umat Islam telah bertauhid dengan sempurna, pelanggaran tauhid sangatlah minim, oleh karena itu tinggalkan berbicara tentang tauhid, maka ini adalah pandangan yang menyelisihi kenyataan umat sekarang, bahkan menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam membina umat!
  • Jika maksud ucapan yang kedua adalah bahwa teknologi itu asas kemajuan umat Islam, maka ini tidak benar, pandangan ini menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi alaihimush shalatu was salam dalam meraih kejayaan umat. Walaupun memang tidak diragukan lagi teknologi itu penting, namun bukan perkara yang asasi (pokok kejayaan umat Islam).
  • Jika maksud ucapan yang ketiga adalah ekonomi adalah yang pertama dan utama dalam meraih kejayaan umat, maka inipun keliru dalam memandang hakikat kejayaan umat.
  • Jika maksud ucapan yang keempat adalah khilafah islamiyyah adalah tujuan dan perkara yang terpenting, maka hal ini sudah dijelaskan kesalahannya dalam artikel. Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah?

Hakikat kejayaan dengan ilmu Syar’i


Jika Anda memperhatikan ajaran Islam ini dengan baik, maka Anda akan dapatkan bahwa hakikat kejayaan umat Islam ini diraih dengan ilmu syar’i (yang diamalkan tentunya).

Oleh karena itu, di antara prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang terpenting adalah “Meraih kemuliaan dengan ilmu syar’i”. Prinsip inilah yang harus diperhatikan oleh para aktivis dakwah Islam, tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin negara, bahkan oleh seluruh kaum muslimin.

Betapa banyak kaum muslimin terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam yang menyerang kaum muslimin dari berbagai arah. Setiap kali musuh-musuh Islam berbuat makar dalam bidang tertentu, maka perhatian sebagian aktivis dakwah tertuju kepada melawan serangan tersebut dengan gerakan tandingan yang lebih kuat lagi atau minimalnya yang sebanding, tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at.

  • Ketika mereka menyusun makar dalam bidang ekonomi, dengan mensosialisasikan sistem ekonomi yang bertentangan dengan syari’at, maka sebagian da’i menandinginya dengan move-move ekonomi Syari’ah. 
  • Ketika mereka menyerang kaum muslimin dengan serangan teknologi, maka sebagaian kaum muslimin disibukkan menandinginya dengan teknologi yang semisalnya atau lebih tinggi. 
  • Ketika mereka nampak menguasai jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, maka tampillah partai-partai Islam mengerahkan segala daya upaya untuk merebut jabatan-jabatan ‘strategis’ tersebut!

Memang benar, semua usaha melawan serangan-serangan makar musuh-musuh Islam dalam berbagai bidang asal dilakukan sesuai dengan rambu-rambu Islam, bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan, tidak pula mengurangi, maka itu adalah suatu usaha yang wajib kita syukuri.

Permasalahannya


Ketika semua langkah-langkah dakwah tersebut di atas kurang diperhatikan, manhaj dakwah yang benar tidak diketahui, skala prioritas dakwah tak dipedulikan, serta kaidah pertimbangan maslahat dan mudharat dengan bimbingan ulama salafush shalih tidak digunakan -hakikatnya semua itu bersumber dari sangat kurangnya ilmu tentang mengenal Allah dan agama-Nya- maka ia akan terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam. Seolah dia berperang menghadapi musuh tanpa strategi yang tepat, bahkan justru termakan strategi musuh. Hal ini seperti mengobati penyakit tanpa mengetahui mana penyakit yang paling ganas dan mana penyakit yang ringan, serta tidak tahu bagaimana penganganan yang tepat.

Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar berkata,
“Prinsip (Ahlus Sunnah) keempat: Meraih kemuliaan dengan ilmu (agama Islam) Bab ini termasuk salah satu prinsip yang terpenting dari enam prinsip Ahlul Atsar karena tujuannya adalah menjelaskan pokok amal yang selayaknya mendasari seluruh langkah karena walaupun sebuah jama’ah (dakwah) mendapatkan aksi makar musuh yang menakutkan, yang mana kekuatan kekufuran dan kesesatan berusaha keras untuk melancarkan aksi tersebut, kemudian jama’ah dakwah tersebut memandang bahwa kejayaan umat akan kembali kepada mereka dengan sekedar menghadapi aksi musuh dengan aksi yang lebih kuat darinya, sehingga mereka mengerahkan seluruh sarana yang dimilikinya untuk menandingi musuh-musuh Islam, namun, di sisi lain ternyata, mereka teledor dalam memperhatikan ilmu syar’i dengan keteledoran yang mencolok. Padahal hakikat yang sesungguhnya bahwa walaupun mereka (jama’ah dakwah) telah menyusun gerakan dengan rapi, telah membaguskan strategi dan mengintensifkan aksi serta telah berusaha menjaga (umat) dari makar musuh, maka tetap saja tidak akan ditulis bagi mereka kemuliaan dan ketinggian derajat, sampai mendasari amal mereka di atas ilmu syar’i dan mengenal (dengan baik) kedudukan ilmu syar’i dan ahlinya (ulama), Allah Ta’ala berfirman ,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).


Nasihat Seorang Ulama Rabbani


Seorang mufti besar dunia, Syaikh Bin Baz rahimahullah, ketika berbicara tentang sebab kelemahan dan kemunduran kaum muslimin menjelaskan tentang pentingnya mendiagnosa akar masalah dengan tepat dan memberikan solusi yang sesuai dengannya, beliau berkata:

ﻓﺈﻥ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﺪﺍﺀ ﺛﻢ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

“Sesungguhnya penyebutan penyakit dan obatnya (dengan tepat), hal itu merupakan sebab kesembuhan dan kesehatan yang terbesar”
Beliau juga mengatakan,

ﻭﺗﺮﺟﻊ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻭﺗﺴﻠﻴﻂ ﺍﻷﻋﺪﺍﺀ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﺐ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﻭﻋﺎﻣﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻧﺸﺄﺕ ﻋﻨﻪ ﻋﻮﺍﻣﻞ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻭﺍﻟﻌﺎﻣﻞ ﺍﻟﻮﺍﺣﺪ ﻫﻮ : ﺍﻟﺠﻬﻞ؛ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﻌﻮﺍﻗﺐ ﺍﻟﺘﻲ ﺍﺳﺘﻮﻟﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﺔ، ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻗﻠﻴﻼً ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ ﻏﺎﻟﺒﺎ

“Dan sebab-sebab kelemahan dan kemunduran serta berkuasanya musuh (atas kaum muslimin) sebenarnya kembali kepada satu sebab (saja), yang darinya lahirlah sebab-sebab yang banyak, berawal dari satu faktor pengaruh, lalu melahirkan faktor-faktor pengaruh lainnya yang banyak. Adapun sebab dan faktor pengaruh yang satu itu adalah kebodohan, yaitu tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik! Dan akibat buruknya menimpa mayoritas (manusia), maka (ketika itu) ilmu (agama Islam) menjadi sedikit dan kebodohan mendominasi”

ﻭﻋﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻧﺸﺄﺕ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻭﻋﻮﺍﻣﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﺣﺐ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻛﺮﺍﻫﻴﺔ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺇﺿﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻋﺪﻡ ﺍﻹﻋﺪﺍﺩ ﻟﻠﻌﺪﻭ

“Kebodohan (terhadap Allah dan agama-Nya) inilah, terlahir berbagai sebab dan faktor pengaruh yang buruk berupa cinta dunia (yang berlebihan), membenci kematian, menelantarkan shalat dan mengikuti syahwat, tidak mempersiapkan diri menghadapi musuh”
Sampai perkataan beliau,

ﻭﻧﺸﺄ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺘﻔﺮﻕ ﻭﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻭﻋﺪﻡ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻻﺗﺤﺎﺩ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ . ﻓﻌﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﺨﻄﻴﺮﺓ ﻭﺛﻤﺮﺍﺗﻬﺎ ﻭﻣﻮﺟﺒﺎﺗﻬﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﺎ ﺣﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﻌﻒ ﺃﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺪﻭ ﻭﺍﻟﺘﺄﺧﺮ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

“Dan juga demikian, terlahirlah dari satu sebab itu (kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, pent.) perpecahan dan perselisihan, tidak merapatkan barisan, tak bersatu dan tak pula saling tolong-menolong. Dari sebab-sebab yang bahaya inilah, berikut buah pahit dan konsekuensinya, maka terjadilah apa yang terjadi berupa kelemahan dan kemunduran di hadapan musuh Islam dalam seluruh bidang kecuali bidang yang Allah kehendaki (tidak mengalami kelemahan dan kemunduran)”

Selanjutnya Syaikh Bin Baz rahimahullah menyebutkan dalil-dalil tentang kesimpulannya bahwa akar masalah kelemahan dan kemunduran umat Islam ini adalah kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, beliau berkata:

ﻭﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻷﺳﺒﺎﺏ ﻫﻮ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﺪﻳﻨﻪ ﻭﺑﺎﻟﺤﻘﺎﺋﻖ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﻭﺍﻷﺧﺬ ﺑﻬﺎ – ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ : )) ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ (( ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺸﻴﺨﺎﻥ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻊ ﺁﻳﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﻠﻬﺎ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﺒﺚ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻭﺧﺒﺚ ﻋﻮﺍﻗﺒﻪ ﻭﻧﻬﺎﻳﺘﻪ

“Dan (dalil) yang menunjukkan bahwa sebab terbesar kelemahan dan kemunduran umat Islam adalah tidak mengenal Allah dan agama-Nya serta hakekat yang wajib dipegang dan diambil, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih”

( ﻣﻦ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﺧﻴﺮﺍ ﻳﻔﻘﻬﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ )

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama ini kepadanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) , dan juga beberapa Ayat dan hadits yang menunjukkan kepada makna ini, semua dalil tersebut menunjukkan buruknya kebodohan dan keburukan akibat serta kesudahannya.

Jadi, dari beberapa penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas , dapat kita pahami sebab yang terpenting dan asas perbaikan masyarakat adalah mengenal Allah dan agama-Nya, bukan asal melawan makar musuh dengan tindakan dan perlawanan yang sepadan! karena apalah gunanya hal itu semua dilakukan jika diiringi menelantarkan sesuatu yang terbesar dalam Islam? Yaitu, menelantarkan ma’rifatullah (mengenal Allah), sehingga tidak mengenal hak-hak-Nya dan tidak mentauhidkan-Nya dengan baik. Oleh karena itu Syaikh Bin Baz rahimahullah juga mengatakan,

ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : } ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ { ﺇﻟﺦ، ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻭﺃﻋﺪﻭﺍ ﻟﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﻗﻮﺗﻬﻢ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻻ ﻳﺴﺘﻄﺎﻉ.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ )

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfaal:60) dan seterusnya. (Dalam Ayat ini) Allah tidak berfirman, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang sepadan dengan kekuatan mereka’ karena seperti itu terkadang sesuatu yang tidak mampu dilakukan.

Asalkan kaum muslimin benar dalam membangun keimanannya dan dalam memperbaiki diri mereka, dimulai dengan memperhatikan perkara yang terpenting kemudian sesudahnya dan sesudahnya, maka walaupun kekuatan fisik mereka tidak sepadan dengan kekuatan fisik musuh-musuh Islam, tetaplah Allah akan menolong mereka, karena kekuatan yang terpokok yaitu kekuatan iman (tauhid) mereka kokoh, ikhlas hatinya dan langkah mereka dalam memperbaiki diri benar (baca: dakwah mereka sesuai dengan As-Sunnah). Allah Ta’ala berfirman,

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺗَﻨْﺼُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻨْﺼُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﻳُﺜَﺒِّﺖْ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣَﻜُﻢْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian”
(Muhammad:7).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di
rahimahullah menafsirkan Ayat di atas,

ﻫﺬﺍ ﺃﻣﺮ ﻣﻨﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺪﻳﻨﻪ، ﻭﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺟﻬﺎﺩ ﺃﻋﺪﺍﺋﻪ، ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﺇﺫﺍ ﻓﻌﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ، ﻧﺼﺮﻫﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺛﺒﺖ ﺃﻗﺪﺍﻣﻬﻢ

“Ini adalah perintah dai Allah Ta’ala kepada kaum mukminin agar menolong agama Allah dengan melaksanakan agama-Nya sebaik-baiknya, mengajak manusia kepada-Nya (berdakwah), berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mendasari semua itu dengan niat ikhlas mengharap bisa melihat wajah-Nya (saat berjumpa dengan-Nya, pent.). Jika mereka melakukan hal itu, niscaya Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.”

Demikian pula, dari penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa bukanlah yang terpenting dalam menyelesaikan problematika umat adalah asal mengobati penyakit umat setiap kali ditemukan penyakit tersebut tanpa memilih mana yang perlu diobati terlebih dahulu dan mana yang butuh untuk mendapatkan perhatian terbesar sebelum yang lainnya.

Yang benar adalah perkara yang terpenting dan mendasar dalam dakwah kita adalah apakah tindakan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam -khususnya orang yang paling mulia di antara mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Atau dengan kata lain, apakah manhaj (metodologi) dakwah kita sama dengan manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam?

Jika memang sama, maka tentunya akan menemukan akar masalah terbesar yang sama dalam menyelesaikan problematika umat di zaman ini, yaitu kebodohan, tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, hal itu berarti bahwa hakikat kejayaan dan kemuliaan umat Islam ini ada pada ilmu agama Islam, sebuah ilmu yang menjadi penuntun setiap langkah umat.

Allah akan menjadikan jaya dan mulia sebuah umat dan mengangkat derajat mereka jika mereka berilmu sehingga benar amal mereka, Allah berfirman,

ﻳَﺮْﻓَﻊِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).

Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

ﻧَﺮْﻓَﻊُ ﺩَﺭَﺟَﺎﺕٍ ﻣَﻦْ ﻧَﺸَﺎﺀُ

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki” (Yusuf:76), beliau berkata

ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ

(Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) dengan sebab ilmu (agama Allah)”

Guru beliau pun, ‘Allamah Zaid bin Aslam rahimahullah menafsirkannya,

ﺇﻧﻪ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ

“Sesungguhnya (penyebab ditinggikannya derajat seseorang) adalah ilmu (agama Allah), Allah menninggikan derajat hamba yang Allah kehendaki di dunia”

Jadi, dikarenakan inti permasalahannya ada pada tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, maka pantas jika kunci dakwah seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah tauhid. Karena Tauhid merupakan bentuk mengenal Allah dan agama-Nya yang terbesar, ia adalah sebuah ajaran yang teragung dan paling mendasar dalam Islam.

Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bagaimana kedudukan tauhid dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam , “Tauhid kunci dakwah para Rasul”.

Nah, bagaimanakah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing? Ikuti kelanjutannya di artikel berikutnya. (Beginilah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing) .
***
Diolah dari http://www.binbaz.org.sa/node/8274 dan Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Dari Muslim.or.id

Kamis, 13 Oktober 2016

Menjual Ayat Allah?

Menjual ayat Allah
Maaf kalo menganggu ustadz. Mau tanya, bolehkah kita berdakwah sambil bermuamalah? Tempat untuk muamalah seperti fanpage facebook dijadikan juga utk memberikan ilmu agama dan dunia.

Apakah itu termasuk hadist menjual ayat2 Allah?


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada beberapa peringatan mengenai menjual ayat Allah dalam al-Quran. Diantaranya,
Allah berfirman,

ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ﻭَﺇِﻳَّﺎﻱَ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﻥِ

“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

Allah juga berfirman,

ﻓَﻼَ ﺗَﺨْﺸَﻮُﺍْ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﺍﺧْﺸَﻮْﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨًﺎ ﻗَﻠِﻴﻼً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Sasaran Utama Ayat


Sasaran utama ketika ayat ini diturunkan adalah sebagai peringatan untuk para pembesar yahudi, seperti Huyai bin Akhtab, Ka’ab al-Asyraf, atau pemuka yahudi lainnya. Sebelum islam datang, para pemuka yahudi mendapatkan upeti dan uang sogokan dari masyarakatnya. Setiap kali mereka mengeluarkan fatwa atau membacakan taurat, atau melakukan ritual yahudi, mereka diberi bayaran oleh masyarakat. Banyak masyarakat sekitar Madinah, baik yahudi maupun orang musyrik, yang menjadi korban mereka.

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tiba di madinah, mereka khawatir, jika nanti sampai banyak masyarakat Madinah, terutama yang yahudi masuk islam, maka mereka tidak lagi mendapatkan uang upeti, sogok atau minimal pemasukan mereka akan berkurang.

Karena alasan ini, mereka berusaha menghalangi masyarakat Madinah, terutama masyarakat yahudi, agar tidak mengikuti dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. padahal mereka tahu dengan yakin, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir seperti yang disebutkan dalam taurat.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,

ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻻ ﺗﻌﺘﺎﺿﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻭﺍﻹﻳﻀﺎﺡ ﻭﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻜﺘﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻠﺒﺲ ﻟﺘﺴﺘﻤﺮﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺭﻳﺎﺳﺘﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻟﻘﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺤﻘﻴﺮﺓ ﺍﻟﺰﺍﺋﻠﺔ ﻋﻦ ﻗﺮﻳﺐ

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dan makna [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah” adalah dunia seisinya.

Harun bin Zaid menceritakan,

ﺳﺌﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ، ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ، ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﺛﻤﻨﺎ ﻗﻠﻴﻼ ‏) ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺤﺬﺍﻓﻴﺮﻫﺎ

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

Cakupan Tafsir


Cakupan tafsir ayat ini tidak berbeda dengan latar belakang Allah menurutkan ayat di atas. Siapa saja yang sengaja menyembunyikan kebenaran, dengan harapan agar bisa mendapatkan dunia atau mempertahankan penghasilan, termasuk diantara bentuk menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

Di masyarakat kita, terkadang ada sebagian tokoh yang dia bertugas sebagai pemuka adat dan tradisi. Untuk sekali memimpin ritual, dia akan dibayar oleh penyelenggara. Tentu saja, banyak yang melanggar syariat.

Ketika dakwah kebenaran telah sampai kepadanya, dia paham, bahwa yang dia lakukan melanggar syariat, dan dia merasa berat untuk mengikuti dakwah itu.
Bahkan terkadang dia menghalangi dakwah kebenaran itu, dengan maksud agar masyarakat tetap mempertahankan tradisi meyimpang itu.

Karena itu, berdakwah sambil jual beli, tidak termasuk menjual ayat-ayat Allah.
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber:
konsultasisyariah.com

Senin, 10 Oktober 2016

Apakah Anda Tidak Takut Berbuat Bid’ah?

Apakah anda tidak takut berbuat bidah

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat dari bid’ah itu demi kepentingan sebuah organisasi?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang bahaya bid’ah itu demi kepentingan sebuah partai politik?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang amalan-amalan bid’ah itu demi mendapatkan secuil harta dunia?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang jeleknya bid’ah itu demi mempertahankan tradisi nenek moyang?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat tentang kerugian pelaku bid’ah itu agar dikenal sebagai orang alim yang paling pandai?

Apakah anda mengira, memperingatkan ummat agar meninggalkan bid’ah itu demi membela tokoh Fulan dan Allan?

Demi Allah, sama sekali tidak. Bahkan nyatanya para pelaris kebid’ahan lah yang memiliki tendensi-tendensi demikian. Dan sungguh, kita hendaknya enggan dan takut berbuat bid’ah karena takut kepada Allah Ta’ala .

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala menyatakan bahwa ajaran Islam sudah sempurna, tidak butuh penambahan. Membuat amalan-amalan ibadah baru sama saja dengan memberikan ‘catatan kaki’ pada firman Allah Ta’ala :

ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ” (QS. Al Maidah: 3)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala melarang kita berselisih ketika Qur’an dan sunnah sudah sangat jelas dalam menjelaskan ajaran agama ini secara sempurna, dari masalah tauhid hingga adab buang air besar, sama sekali tidak perlu penambahan lagi. Allah
Ta’ala berfirman:

ﻭَﻻ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮﺍ ﻭَﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕُ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“ Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat ” (QS. Al Imran: 105)

Ash Shabuni berkata: “Maksud ayat ini adalah, janganlah berlaku seperti orang Yahudi dan Nasrani yang mereka berpecah-belah dalam masalah agama karena mengikuti hawa nafsu mereka padahal ayat-ayat yang datang kepada mereka sudah sangat jelas” (Shafwatut Tafasir , 202).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya dan sunnah Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻓَﻠْﻴَﺤْﺬَﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻔُﻮﻥَ ﻋَﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻥْ ﺗُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﺃَﻭْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Allah itu takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih ” (QS. An Nuur: 63)

Ketika Imam Malik ditanya tentang orang yang merasa bahwa ber-ihram sebelum miqat itu lebih bagus, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mensyari’atkan bahwa ihram dimulai dari miqat, maka Imam Malik pun berkata: “Ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan aku khawatir orang itu akan tertimpa fitnah di dunia dan adzab yang pedih sebagaimana dalam ayat.. (beliau menyebutkan ayat di atas)” ( Al I’tisham , 174).

Menjelaskan perkataan Imam Malik ini, Asy Syathibi berkata: “Fitnah yang dimaksud Imam Malik dalam menafsirkan ayat ini berhubungan dengan kebiasaan dan kaidah ahlul bid’ah, yaitu karena mengedepankan akal, mereka tidak menjadikan firman Allah dan sunnah Rasulullah sebagai petunjuk bagi mereka” (Al I’tisham , 174).

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Allah Ta’ala pun mengancam orang yang menyelisihi tuntunan Rasul-Nya dengan siksaan yang keras. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ

“ Apa yang datang dari Rasulullah, maka ambilah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya ” (QS. Al Hasyr: 7)

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang berbuat bid’ah. Tidak anda takut terhadap siksaan Allah yang keras karena melakukan yang dilarang Rasulullah?

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengancam neraka bagi hamba-Nya yang mengambil cara beragama bukan dari Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺸَﺎﻗِﻖِ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﻳَﺘَّﺒِﻊْ ﻏَﻴْﺮَ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻧُﻮَﻟِّﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻮَﻟَّﻰ ﻭَﻧُﺼْﻠِﻪِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﺳَﺎﺀَﺕْ ﻣَﺼِﻴﺮًﺍ

“ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali ” (QS. An Nisa: 115)

Ibnu Katsir menjelaskan: “Maksud ayat ini, barang siapa yang menjalani cara beragama yang bukan berasal dari Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam maka ia telah menempatkan dirinya di suatu irisan (syiqq ), sedangkan syariat Islam di irisan yang lain. Itu ia lakukan setelah kebenaran telah jelas baginya” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 2/412)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mencela orang yang membuat-buat syari’at baru yang dalam agama dan menyebut orang-orang yang mengajarkan syari’at baru, lalu ditaati, sebagai sesembahan selain Allah. Sebagaimana perbuatan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman:

ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺫَﻥْ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟْﻔَﺼْﻞِ ﻟَﻘُﻀِﻲَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih ” (QS. Asy Syura: 21)

Ibnu Katsir berkata: “Mereka (orang-orang musyrik) tidak mengikuti apa yang telah disyariatkan Allah melalui agama Allah yang lurus ini. Bahkan mereka mengikuti syariat dari setan-setan yang berupa jin dan manusia. Mereka mengharamkan apa yang diharamkan oleh setan tersebut, yaitu bahiirah , saaibah , washilah dan haam. Mereka menghalalkan bangkai, darah dan judi, dan kesesatan serta kebatilan yang lain. Semua itu dibuat-buat secara bodoh oleh mereka, yaitu berupa penghalalan (yg haram), pengharaman (yang halal), ibadah-ibadah yang batil dan perkatan-perkataan yang rusak” ( Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 7/198)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah telah mencap sesat orang-orang yang ketika tuntunan Islam sudah ada, mereka malah mempunyai pilihan lain. Bisa jadi pilihan lain ini datang dari ustadz-nya, kiai -nya, syaikh -nya, dari akalnya, atau dari yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻠَﺎﻟًﺎ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ

“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata ” (QS. Al Ahzab: 36)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata: “Tidak layak bagi seorang mu’min dan mu’minah, jika Allah sudah menetapkan sesuatu dengan tegas, lalu ia memiliki pilihan yang lain. Yaitu pilihan untuk melakukannya atau tidak, padahal ia sadar secara pasti bahwa Rasulullah itu lebih pantas diikuti dari pada dirinya. Maka hendaknya janganlah menjadikan hawa nafsu sebagai penghalang antara dirinya dengan Allah dan RasulNya” (Taisiir Kariimirrahman, 665)

Apakah anda tidak takut berbuat bid’ah? Padahal Allah mengabarkan ada sebagian hamba-Nya yang berbuat kesesatan namun mereka merasa itu amalan kebaikan. Dan demikianlah bid’ah, tidak ada satupun pelaku bid’ah kecuali ia merasa amalan bid’ahnya itu adalah kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﻫَﻞْ ﻧُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﺧْﺴَﺮِﻳﻦَ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟًﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺿَﻞَّ ﺳَﻌْﻴُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺻُﻨْﻌًﺎ

“ Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya ” (QS. Al Kahfi: 103-104)
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“ Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak ” ( Muttafaq ‘alaihi )

Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar
Radhiallahu’anhu berkata:

ﻛُﻞَّ ﺑٍﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺣَﺴَﻨَﺔ

“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya baik ” (Shahih, sebagaimana penilaian Al Albani dalam takhrij kitab Ishlaahul Masajid hal 13 milik Syaikh Jamaluddin Al Qashimi)

Tidakkah anda takut amalan-amalan yang anda anggap baik, padahal tidak ada tuntunannya dalam agama, kemudian anda mengamalkannya sampai berpeluh-peluh, ternyata hanya sia-sia belaka di hadapan Allah ? Oleh karena itu saudaraku, takutlah kepada Allah dan jauhi perbuatan bid’ah.

Penulis: Yulian Purnama

Sumber:
muslim.or.id