Tampilkan postingan dengan label Tanya Jawab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanya Jawab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Menjual Ayat Allah?

Menjual ayat Allah
Maaf kalo menganggu ustadz. Mau tanya, bolehkah kita berdakwah sambil bermuamalah? Tempat untuk muamalah seperti fanpage facebook dijadikan juga utk memberikan ilmu agama dan dunia.

Apakah itu termasuk hadist menjual ayat2 Allah?


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Ada beberapa peringatan mengenai menjual ayat Allah dalam al-Quran. Diantaranya,
Allah berfirman,

ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ﻭَﺇِﻳَّﺎﻱَ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﻥِ

“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

Allah juga berfirman,

ﻓَﻼَ ﺗَﺨْﺸَﻮُﺍْ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﺍﺧْﺸَﻮْﻥِ ﻭَﻻَ ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍْ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨًﺎ ﻗَﻠِﻴﻼً

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (QS. al-Maidah: 44)

Sasaran Utama Ayat


Sasaran utama ketika ayat ini diturunkan adalah sebagai peringatan untuk para pembesar yahudi, seperti Huyai bin Akhtab, Ka’ab al-Asyraf, atau pemuka yahudi lainnya. Sebelum islam datang, para pemuka yahudi mendapatkan upeti dan uang sogokan dari masyarakatnya. Setiap kali mereka mengeluarkan fatwa atau membacakan taurat, atau melakukan ritual yahudi, mereka diberi bayaran oleh masyarakat. Banyak masyarakat sekitar Madinah, baik yahudi maupun orang musyrik, yang menjadi korban mereka.

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tiba di madinah, mereka khawatir, jika nanti sampai banyak masyarakat Madinah, terutama yang yahudi masuk islam, maka mereka tidak lagi mendapatkan uang upeti, sogok atau minimal pemasukan mereka akan berkurang.

Karena alasan ini, mereka berusaha menghalangi masyarakat Madinah, terutama masyarakat yahudi, agar tidak mengikuti dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. padahal mereka tahu dengan yakin, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir seperti yang disebutkan dalam taurat.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan,

ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻻ ﺗﻌﺘﺎﺿﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ﻭﺍﻹﻳﻀﺎﺡ ﻭﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻜﺘﻤﺎﻥ ﻭﺍﻟﻠﺒﺲ ﻟﺘﺴﺘﻤﺮﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺭﻳﺎﺳﺘﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻟﻘﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﺤﻘﻴﺮﺓ ﺍﻟﺰﺍﺋﻠﺔ ﻋﻦ ﻗﺮﻳﺐ

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dan makna [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah” adalah dunia seisinya.

Harun bin Zaid menceritakan,

ﺳﺌﻞ ﺍﻟﺤﺴﻦ ، ﻳﻌﻨﻲ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ، ﻋﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ‏( ﺛﻤﻨﺎ ﻗﻠﻴﻼ ‏) ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺍﻟﻘﻠﻴﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺤﺬﺍﻓﻴﺮﻫﺎ

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, [ ﺛَﻤَﻨﺎً ﻗَﻠِﻴﻼً ] “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

Cakupan Tafsir


Cakupan tafsir ayat ini tidak berbeda dengan latar belakang Allah menurutkan ayat di atas. Siapa saja yang sengaja menyembunyikan kebenaran, dengan harapan agar bisa mendapatkan dunia atau mempertahankan penghasilan, termasuk diantara bentuk menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

Di masyarakat kita, terkadang ada sebagian tokoh yang dia bertugas sebagai pemuka adat dan tradisi. Untuk sekali memimpin ritual, dia akan dibayar oleh penyelenggara. Tentu saja, banyak yang melanggar syariat.

Ketika dakwah kebenaran telah sampai kepadanya, dia paham, bahwa yang dia lakukan melanggar syariat, dan dia merasa berat untuk mengikuti dakwah itu.
Bahkan terkadang dia menghalangi dakwah kebenaran itu, dengan maksud agar masyarakat tetap mempertahankan tradisi meyimpang itu.

Karena itu, berdakwah sambil jual beli, tidak termasuk menjual ayat-ayat Allah.
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber:
konsultasisyariah.com

Kamis, 06 Oktober 2016

Mengapa Islam Muncul di Mekah?

islam muncul di mekkah

Mengapa islam muncul di mekah? Bukankah masih banyak daerah lain? Mengapa yang dipilih mekah? Syukron..


Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 latar belakang pertanyaan semacam ini disampaikan,

  • Pertama, dalam rangka menggugat ketetapan Allah Ta’ala

Bertanya dengan latar belakang semacam ini, pernah dilakukan orang musyrikin quraisy.

Allah ceritakan dalam al-Quran,

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآَنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Mereka berkata: “Mengapa al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”

Lalu dibantah oleh Allah di lanjutan ayat,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ

“Apakah mereka yang membagi rahmat dari Rabmu?” (QS. az-Zukhruf: 31-32)

Allah yang menciptakan, Allah yang memiliki, dan Dia yang paling berhak untuk memilih. Dia yang paling berhak menentukan, dimana Allah akan mengutus Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. al-Qashas: 68)

Meskipun, jika Allah berkehendak, Dia mampu untuk mengutus rasul di semua daerah,

وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا

“Jika Aku menghendaki, Aku akan mengutus seorang rasul di setiap daerah.” (QS. al-Furqan: 51)

Namun Allah hanya memilih satu tempat untuk posisi munculnya sang utusan-Nya.

Kemudian, pertanyaan yang diajukan orang musyrik, hakekatnya bukan pertanyaan karena menolak tempat. Tapi pertanyaan karena latar belakang menolak kebenaran. Sehingga, andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di Yaman, mereka akan mempertanyakan, “Mengapa nabi di utus di Yaman, bukankah masih banyak tempat lainnya?” dan sinonim yang sama juga bisa terjadi ketika beliau diutus di Indonesia sekalipun.

Allah Memilih Karena Hikmah


Dan tentu saja, dalam memilih tempat kedatangan Rasul, Allah tentukan sesuai ilmu-Nya dan hikmah-Nya. Karena Allah tersucikan dari tindakan sia-sia, apalagi hanya untuk main-main.

Allah berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ( ) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (115) Maka Maha Tinggi Allah, Sang Raja al-Haq… (QS. al-Mukminun: 115-116)

  • Kedua, dalam rangka menggali hikmah mengapa Allah memilih Mekah sebagai tempat munculnya islam.


Banyak ketetapan Allah yang sebenarnya makhluk tidak memiliki kepentingan dengannya. Dalam arti, makhluk tahu maupun tidak tahu, sama sekali tidak menambah ketaqwaannya kepada Allah. Bisa jadi, pertanyaan yang hanya sebatas kepo untuk sesuatu yang tidak ada kepentingan dengannya, termasuk tindakan kurang beradab.

Karena itulah, kita tidak pernah menjumpai ada sahabat yang mempertanyakan hal ini. sementara mereka adalah manusia yang paling haus tentang ilmu agama. Dan mereka memiliki guru yang paling istimewa, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanggung jawab kita, bagaimana bisa bertemu Allah dengan selamat. Sementara alasan, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya dari Mekah, kita serahkan kepada Allah yang Maha Tahu,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. al-An’am: 124)

Meskipun bisa saja orang mencari hikmah di  balik diutusnya rasul, dengan tujuan untuk menguatkan iman.

Sebagian referensi menyebutkan beberapa hikmah besar, mengapa Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah,

  • Pertama, orang mekah dikenal sebagai orang yang ummi, tidak bisa baca tulis. Termasuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri orang yang tidak bisa membaca dan menulis. 

Sementara kehadiran beliau membawa mukjizat terbesar, yaitu al-Quran. Sehingga, latar belakang beliau akan menepis anggapan bahwa al-Quran ditulis oleh Muhammad dan para sahabatnya.

  • Kedua, di masa jahiliyah, sudah ada kekuatan besar yang menjadi negara adidaya, romawi dan persia. 
Sementara jazirah arab jauh di selatan, terpisah dengan gurun mematikan dengan romawi dan persia.

Disamping jazirah arab sendiri tidak terlalu bisa diharapkan akan menghasilkan keuntungan dari sisi pertanian, sehingga romawi dan persi tidak ada nafsu untuk menaklukkanya.

Kondisi ini sangat menguntungkan dari sisi tantangan dakwah, karena islam datang di luar wilayah negara adikuasa, sehingga tidak mengalami tantangan dari penguasanya. Dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibaiat sebagai kepala negara Madinah, beliau berdiri di wilayah yang tidak masuk kekuasaan negara lain.

  • Ketiga, di kota Mekah ada ka’bah yang merupakan salah satu syiar islam, karena mengunjungi ka’bah bagian dari ajaran Ibrahim. 
Sehingga kehadiran beliau di Mekah sebagai tahap awal untuk pembersihan masjidil haram dari semua bentuk lambang kesyirikan.

Di samping itu, ka’bah menjadi pusat perhatian masyarakat di jazirah arab. Sehingga memudahkan Rasul untuk mendakwahkan mereka semua ketika mereka datang di kota Mekah.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


Sumber: https://konsultasisyariah.com

Rabu, 05 Oktober 2016

Inilah Cara Merealisasikan Tauhid

 Cara merealisasikan tauhid

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid

Soal:

Bagaimana cara seorang hamba merealisasikan tauhid kepada Allah ta’ala ?


Jawab:

Segala puji hanya untuk Allah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah .ﷺ

Saudaraku –semoga Allah senantiasa menjaga anda-, anda telah bertanya tentang satu perkara yang agung, suatu perkara yang sungguh mudah untuk diamalkan bagi mereka yang dimudahkan Allah untuk mengamalkannya. Kita memohon kepada Allah agar memudahkan diri kita dan saudara-saudara kaum muslimin untuk melakukan setiap kebaikan.

Ketahuilah, merealisasikan tauhid hanya dapat terwujud dengan jalan mempraktikkan kandungan dua kalimat syahadat, yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata dan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

Mempraktikkan dua kalimat syahadat ini memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan yang wajib dan tingkatan yang mustahab.


Tingkatan yang wajib dapat terealisasi dengan melakukan tiga hal sebagai berikut:

  1. Meninggalkan semua bentuk syirik, baik syirik besar ( akbar), syirik kecil (asghar ), maupun syirik yang tersembunyi (khafiy );
  2. Meninggalkan semua bentuk bid’ah; dan
  3. Meninggalkan semua jenis kemaksiatan.
Sementara itu, tingkatan yang mustahab adalah tingkatan dimana orang-orang saling berlomba menggapai keutamaan, yaitu bersaing agar di dalam hati tidak terdapat sedikitpun tujuan dan kebergantungan kepada selain Allah Ta’ala.

Dengan demikian, hatinya berorientasi secara total kepada Allah Ta’ala , tanpa berpaling kepada yang lain. Ucapannya untuk Allah, perbuatan dan ibadahnya untuk Allah. Bahkan segala gerak-gerik hatinya hanya untuk Allah semata. 
Sebagian ulama menerangkan bahwa tingkatan ini dicapai dengan meninggalkan segala sesuatu yang pada asalnya mubah karena khawatir dapat menjerumuskan pada perbuatan dosa atau kerugian di akhirat. Dan hal tersebut mencakup amalan hati, lisan, dan anggota badan.

Seseorang yang ingin merealisasikan kedua tingkatan di atas wajib mempersiapkan:
  1. Ilmu. Jika tidak memiliki ilmu bagaimana mungkin seseorang dapat merealisasikan tauhid dan mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui dan dipahami. Setiap orang yang telah dibebani syari’at wajib mempelajari tauhid sehingga dapat memperbaiki keyakinan, perkataan, dan perbuatannya. Selain hal tersebut, maka mengilmuinya sekedar dianjurkan;
  2. Membenarkan dan meyakini dengan kuat terhadap segala berita dan informasi yang berasal dari Allah dan Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam ;
  3. Tunduk dan taat terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Semakin banyak orang dalam merealisasikan perkara-perkara di atas, maka semakin kuat pula tauhidnya kepada Allah dan semakin besar pahala yang akan dia peroleh. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bahwa barangsiapa yang mampu merealisasikan derajat tauhid yang paling tinggi, maka dia akan digolongkan bersama 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Kita memohon keutamaan dari Allah Ta’ala .

Balasan Bagi Mereka yang Merealisasikan Tauhid


Diriwayatkan di dalam shahih Bukhari (5705) dan Muslim (220), dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma – mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋُﺮِﺿَﺖْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻟْﺄُﻣَﻢُ ﻓَﺮَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟﺮُّﻫَﻴْﻂُ ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻠَﺎﻥِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻟَﻴْﺲَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ﺇِﺫْ ﺭُﻓِﻊَ ﻟِﻲ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻈَﻨَﻨْﺖُ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﻮْﻣُﻪُ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄُﻓُﻖِ ﻓَﻨَﻈَﺮْﺕُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﺍﻧْﻈُﺮْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺄُﻓُﻖِ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَﺍﺩٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ﻓَﻘِﻴﻞَ ﻟِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺃُﻣَّﺘُﻚَ ﻭَﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﻧَﻬَﺾَ ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﻣَﻨْﺰِﻟَﻪُ ﻓَﺨَﺎﺽَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓِﻲ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏٍ ﻭَﻟَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻓَﻠَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺻَﺤِﺒُﻮﺍ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻓَﻠَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻭُﻟِﺪُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺃَﺷْﻴَﺎﺀَ ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺨُﻮﺿُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮُﻭﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻫُﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ ﻭﻻ ﻳﻜﺘﻮﻭﻥ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻋُﻜَّﺎﺷَﺔُ ﺑْﻦُ ﻣِﺤْﺼَﻦٍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻉُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻠَﻨِﻲ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻧْﺖَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺁﺧَﺮُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻉُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻠَﻨِﻲ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳَﺒَﻘَﻚَ ﺑِﻬَﺎ ﻋُﻜَّﺎﺷَﺔُ

“ Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, sekelompok orang menjadi pengikutnya, dan seorang Nabi, hanya satu dan dua orang yang menjadi pengikutnya, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun menjadi pengikutnya.

Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya.

Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku, ‘mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab -disiksa terlebih dahulu.’

Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan, orang-orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab?, Di antara mereka ada yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya,’ dan ada lagi yang berkata, ‘barangkali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan spekulasi yang lain.’

Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar dan mereka pun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan tathayyur, dan tidak pernah meminta di-kay ( teknik pengobatan dengan mempelkan besi yang dipanaskan pada tempat luka), dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.’

Kemudian Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka,’ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Ya, engkau termasuk golongan mereka,’

Kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda menjawab, ‘Ukasyah telah mendahuluimu’ .

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺮْﻗُﻮﻥَ” artinya adalah tidak meminta orang lain untuk meruqyah dirinya. Meskipun, meminta untuk diruqyah hukum asalnya adalah jaiz (boleh), tetapi meninggalkannya lebih utama.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻴَّﺮُﻭﻥَ “ artinya adalah tidak menganggap sial sesuatu dengan sebab burung atau dengan sebab lainnya, yang karenanya seseorang membatalkan aktivitas yang dia rencanakan disebabkan anggapan sial ini. Anggapan sial semacam ini adalah haram karena termasuk syirik asghar.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻜْﺘَﻮُﻭﻥَ ” artinya adalah menghindari meminta di-kay (pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti) untuk menyembuhkan penyakit. Meskipun terdapat manfaat pada kay, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam membencinya karena tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Allah Ta’ala.

Karakteristik yang sama-sama terdapat dari ketiga perbuatan di atas adalah pelakunya bertawakkal kepada Rabb mereka semata, yakni mereka mengaktualisasikan tawakkal pada derajat yang paling sempurna dan paling tinggi. Tidak ditemukan sedikitpun keberpalingan bahkan kebergantungan pada sebab di dalam hati mereka, akan tetapi mereka bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Tawakkal adalah inti keimanan sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’id bin Habib rahimahullah. Bahkan tawakkal adalah tujuan yang paling tinggi sebagaimana yang dituturkan oleh Wahab bin Munabbih rahimahullah.

Kesimpulan dari penjelasan di atas adalah tauhid tidaklah terealisasi dengan berangan-angan, berkhayal, atau sekedar klaim tanpa bukti. Tauhid hanya dapat terealisasi dengan iman dan ihsan yang terpatri dalam hati, dan diwujudkan dalam akhlak yang baik dan amal shalih. Dengan demikian, setiap muslim berkewajiban untuk bersegera melakukan kebaikan dan ketaatan, berpacu dengan jatah umur yang tersisa. Selain itu, mereka juga wajib menganggap ringan kesulitan yang ditemui dan memandang derita yang dialami sebagai sebuah kelezatan karena pada hakikatnya barang dagangan Allah teramat mahal, mahal karena surga-lah yang dijadikan Allah sebagai komoditas dagangnya.
***

Sumber : https://islamqa.info/ar/96083
Penerjemah : Bagas Prasetya Fazri

Sumber:
muslim.or.id

Minggu, 02 Oktober 2016

Sejarah Kesyirikan di Dunia


 Sejarah kesyirikan


Bagaimana kesyirikan pertama terjadi? Kapan itu terjadi?


Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du ,

Pertama, kita perlu meyakini bahwa rasul yang pertama kali Allah utus adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam .


Dalam hadis yang sangat panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang dialami manusia ketika di padang mahsyar. Dalam penggalan cerita itu, manusia berbondong-bondong mendatangi Nuh agar beliau berdoa kepada Allah. Mereka mengatakan,

ﻳَﺎ ﻧُﻮﺡُ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﻭَّﻝُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﻤَّﺎﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺷَﻜُﻮﺭًﺍ ﺍﺷْﻔَﻊْ ﻟَﻨَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ

Wahai Nuh, anda rasul pertama di muka bumi. Allah menggelari anda dengan hamba yang pandai bersyukur, berikanlah syafaat untuk kami di hadapan Rabmu…
Namun Nabi Nuh kala itu tidak bersedia, karena alasan tertentu. Kemudian beliau mengarahkan agar mendatangi Nabi Ibrahim. (HR. Ahmad 9873, Bukhari 3340, Muslim 501 dan yang lainnya).

Kedua, mengapa Nuh sebagai rasul pertama? Jika Nuh rasul pertama, bagaimana dengan Adam?


Adam manusia pertama sekaligus nabi, namun beliau bukan rasul. Beliau menerima wahyu dari Allah, untuk diri beliau dan semua orang yang ada di sekitar beliau. Dan mereka semua dalam kondisi beriman, sekalipun ada diantara mereka yang melakukan dosa.
Sementara diantara ciri rasul, mereka Allah utus untuk menghadapi kaum yang menyimpang dan keluar dari islam karena pelanggaran kesyirikan. Seperti yang dialami kaum nabi Nuh ‘alaihis salam.

Ketiga, antara Adam dan Nuh, belum ada kesyirikan.


Jarak antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Sebelum Nabi Nuh diutus, tidak ada satupun manusia yang berbuat syirik dan kufur kepada Allah.

Keterangan ini disampaikan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

ﻛﺎﻥ ﺑﻴﻦ ﻧﻮﺡ ﻭﺁﺩﻡ ﻋﺸﺮﺓ ﻗﺮﻭﻥ، ﻛﻠﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﻳﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻖ . ﻓﺎﺧﺘﻠﻔﻮﺍ، ﻓﺒﻌﺚ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻣﺒﺸﺮﻳﻦ ﻭﻣﻨﺬﺭﻳﻦ .

Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi gambar gembira dan kabar peringatan. (HR. At-Thabari dalam Tafsirnya no. 4048).

Allah mengutus Nuh ketika ada sebagian manusia yang berbuat kesyirikan, karena itulah, beliau menjadi rosul pertama.

Keempat , berhala di masa Nuh, mewakili orang soleh yang diagungkan kaum mereka.


Allah menceritakan upaya pembelaan kaum Nuh terhadap berhala mereka,

ﻗَﺎﻝَ ﻧُﻮﺡٌ ﺭَﺏِّ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻋَﺼَﻮْﻧِﻲ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺰِﺩْﻩُ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﻭَﻟَﺪُﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ . ﻭَﻣَﻜَﺮُﻭﺍ ﻣَﻜْﺮًﺍ ﻛُﺒَّﺎﺭًﺍ . ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ ﺁَﻟِﻬَﺘَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭُﻥَّ ﻭَﺩًّﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺳُﻮَﺍﻋًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐُﻮﺙَ ﻭَﻳَﻌُﻮﻕَ ﻭَﻧَﺴْﺮًﺍ

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd , dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21 – 23).

Siapakah berhala-berhala ini?


Ibnu Abbas menjelaskan,

ﺃَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺭِﺟَﺎﻝٍ ﺻَﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡِ ﻧُﻮﺡٍ ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻫَﻠَﻜُﻮﺍ ﺃَﻭْﺣَﻰ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻣِﻬِﻢْ ﺃَﻥِ ﺍﻧْﺼِﺒُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺠَﺎﻟِﺴِﻬِﻢُ ﺍﻟَّﺘِﻰ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﺠْﻠِﺴُﻮﻥَ ﺃَﻧْﺼَﺎﺑًﺎ ، ﻭَﺳَﻤُّﻮﻫَﺎ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻬِﻢْ ﻓَﻔَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﻠَﻢْ ﺗُﻌْﺒَﺪْ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻫَﻠَﻚَ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻭَﺗَﻨَﺴَّﺦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋُﺒِﺪَﺕْ

Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan,

  1. Kesyirikan pertama terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alahis shalatu was salam
  2. Karena adanya kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama
  3. Sebab terjadi kesyirikan pertama di bumi adalah karena mengagungkan orang soleh yang telah meninggal.

Ini menunjukkan betapa bahayanya mengkultuskan orang soleh. Berawal dari kultus, kemudian orang menyembah orang soleh itu. 

Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Karena sikap ghuluw, sumber bencana umat manusia dari zaman ke zaman.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻐُﻠُﻮَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻐُﻠُﻮُّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ

Hindari sikap ghuluw dalam masalah agama. Karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam masalah agama. (HR. Nasai 3070, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Sumber:
konsultasisyariah.com

Sabtu, 01 Oktober 2016

Gak Perlu Bawa-bawa Agama


 Ga perlu bawa agama


Bro: “Bray…”
Bray: “Naon bro?”
Bro: “Jangan bawa-bawa agama bray”
Bray: “Apanya?”


Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama”
Bray: “Gitu ya bro?”
Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”
Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gw mesti ditaro dimana?”
Bro: “Maksudnya?”
Bray: “Iya, tolong kasih tau gw, mesti ditaro mana ini Islam?
Bro: “Maksudnya gimana bray? Gw gak ngerti”
Bray: “Iya, kan lo suruh gw jgn bawa-bawa agama kan? Nah gw bingung bro. Kalo gw gak boleh bawa2 agama, Islam mesti gw taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gw bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, bahkan sampai urusan mau indehoy ama bini aja diatur. Bahkan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada doanya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada doanya! Lengkap banget!

… hening …

Bray: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gw bawa-bawa Islam. Nah, kalau gw skrg gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DIMANA gw bisa lepasin Islam gw?”
Bro: “Errr… Gak gitu-gitu amat kali bray”
Bray: “Iya gw juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu2 amatlah. Tapi lama2 gw perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”

Bro: “Err … mmmh …. Ya mau sih bray”
Bray: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat?”
Bro: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya”
Bray: “Harusnya gimana bro?
Bro: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana gw ber-Islam. Iya kan?”
Bray: “Iya sih….”
Bro: “Nah iya kan?”
Bray: “ Tapi kebayang ya bro?”
Bro: “Kebayang apa bray?”

Bray: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk dishare ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang?

Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”

…. Hening lagi ….

Bro: “Bray …”
Bray: “Ya bro”
Bro: “Gw cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaaah”
Bray: “Loh koq buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya dibawa terus ya brooo …” (sambil teriak)
Bro: …….. (gak ada respon, mungkin sudah kejauhan, tp mudah2an masih mau dengar)

(Dari fb @adhani )

Sumber:
gizanherbal.wordpress.com